Koin Emas Dinar dalam 3 Hari Melesat 2,3% Dekati Rp 4 Juta

Syariah - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 December 2020 18:50
This photo taken Wednesday, March 4, 2015 shows a 10 dinar gold coin from Morocco's Almohad Dynasty on exhibit at the Mohammed VI Museum of Modern and Contemporary art in Rabat, Morocco. The

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga koin dinar produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. naik lagi pada perdagangan Jumat (18/12/2020). Dengan demikian, koin emas ini tercatat sudah naik 3 hari beruntun, mengikuti pergerakan harga emas dunia.

Melansir data dari situs resmi milik PT Antam, logammulia.com, koin 1 dinar dengan kemurnian 99,99 gram hari ini naik 0,76% ke Rp 3.969.500. Total dalam 3 hari terakhir sudah melesat 2,3%.

Kemudian koin 1 dinar dengan kemurnian 91,7% juga naik 0,76% ke ke 3.651977, dalam 3 hari terakhir juga melesat 2,3%. Koin 1 dinar memiliki berat 4,25 gram.


Sementara, koin dirham yang berbahan dasar perak hari ini menguat 0,97% ke Rp 93.188. Koin 1 dirham ini memiliki berat 2,975 gram.

PT Antam menjual koin dinar dengan kemurnian 91,7% mulai dari pecahan 1/4 dinar hingga 4 dinar, sementara kemurnian 99,99% mulai pecahan 1/4 dinar hingga 2 dinar. Selain itu PT Antam juga menjual koin dirham yang berbahan dasar perak dengan kemurnian 99,95% pecahan 1 dan 2 dirham.

Koin dinar dan dirham dapat digunakan untuk pembayaran zakat, alat investasi atau simpanan, serta menjadi mahar.

Harga emas dunia kemarin melesat 1,17% ke US$ 1.885,86/troy ons yang merupakan level tertinggi dalam 1 bulan terakhir.

Jebloknya dolar AS menjadi pemicu kenaikan tersebut. Emas dunia dibanderol dengan dolar AS, saat mata uang Paman Sam ini melemah, maka harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan berpeluang meningkat.

Kemarin, indeks dolar AS merosot 0,71% ke 89,805, yang merupakan level terendah sejak April 2018. Tekanan terhadap dolar AS datang dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan ekspektasi stimulus fiskal di AS.

The Fed berkomitmen untuk menjalankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) sampai pasar tenaga kerja AS kembali mencapai full employment dan inflasi konsisten di atas 2%.

Artinya kebijakan moneter ultra longgar masih akan dipertahankan dalam waktu yang lama. The Fed juga menegaskan akan menambah nilai QE jika perekonomian AS kembali melambat.

Selain QE, The Fed juga berkomitmen mempertahankan suku bunga acuan <0,25% dalam waktu yang lama.

"Langkah-langkah ini akan memastikan kebijakan moneter akan terus memberikan dukungan yang kuat terhadap perekonomian sampai pemulihan tercapai," kata Ketua The Fed, Jerome Powell, saat konferensi pers, sebagaimana dilansir CNBC International.

Data dari Fed Dot Plot, yang menggambarkan proyeksi suku bunga para pembuat kebijakan (Federal Open Market Committee), menunjukkan suku bunga baru akan dinaikkan pada tahun 2023.

Sementara itu, stimulus fiskal di AS kemungkinan besar akan cair dalam waktu dekat.

Kongres (DPR dan Senat) telah mencapai kesepakatan stimulus senilai US$ 900 miliar yang termasuk bantuan langsung tunai (BLT). Namun, paket stimulus tersebut belum memasukkan bantuan untuk pelaku bisnis dan pemerintahan lokal-dua pemicu perbedaan Partai Demokrat dan Partai Republik.

"Kami masih dekat dan kita akan menuju ke sana," tutur Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell sebagaimana dikutip CNBC International. "Kami membuat jalur yang kuat untuk memuluskan jalan paket bantuan pandemi yang bisa mendapat persetujuan kedua belah pihak."

Stimulus moneter dan fiskal membuat jumlah uang yang beredar di perekonomian bertambah, sehingga nilai tukar dolar AS melemah.

Di sisi lain, stimulus tersebut juga merupakan "bahan bakar" bagi emas dunia, sehingga kembali menanjak belakangan ini yang turut mengerek logam mulia di dalam negeri.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading