MARKET DATA

Tsunami Biru Guncang Wall Street, Rp 45.200 T Lenyap dalam 24 Jam

mae,  CNBC Indonesia
06 November 2026 07:30
Wall Street. (REUTERS)
Foto: REUTERS/Andrew Kelly

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran terhadap masa depan industri kecerdasan buatan (AI). Bursa saham AS pun jadi korban.

Wall Street mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Saham rontok karena ada kekhawatiran mengenai kelanjutan pembangunan pusat data. 

Mengutip Reuters dan CNBC International, indeks Nasdaq Composite anjlok 5,52% dan ditutup di level 24.315. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak peristiwa Liberation Day pada April 2025 sekaligus membawa Nasdaq resmi masuk zona koreksi.

Sementara itu, indeks Nasdaq 100 merosot 6,4%. Pelemahan ini membuat kapitalisasinya menguap US$2,5 triliun atau Rp 45.187  triliun (US$ 1=Rp 18.075). Tsunami biru (lambang partai Demokrat) membuat investor cemas.

Indeks S&P 500 juga ambles 4,36% ke posisi 7.353,73.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 1.833,06 poin atau 3,44% ke level 51.523,06. Penurunan tersebut menghapus lebih dari seluruh kenaikan yang dicatat Dow dalam reli besar sehari sebelumnya setelah hasil pemilu paruh waktu AS.

Ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga terkoreksi 4,45% dan masuk ke zona koreksi.

Aksi jual ini terjadi setelah pasar sebelumnya sempat menyambut positif hasil pemilu AS. Namun, investor kini mulai mencemaskan dampak kemenangan besar Partai Demokrat terhadap kebijakan industri teknologi, khususnya ekspansi infrastruktur AI.

 

Nasdaq Composite sendiri telah turun hampir 12% dari rekor penutupan pada 6 Oktober. Secara teknis, pasar memasuki zona koreksi ketika indeks melemah setidaknya 10% dari level tertinggi terbarunya.

Penurunan saham teknologi juga berlangsung selama dua hari berturut-turut. Sejak pertengahan Oktober, Nasdaq Composite telah mencatat lima kali penurunan lebih dari 500 poin.

Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran Industri AI

Kemenangan besar Partai Demokrat di Kongres AS, ditambah keberhasilan mereka dalam sejumlah pemilihan gubernur, memunculkan kekhawatiran bahwa pengawasan terhadap industri AI akan semakin ketat.

Investor khawatir kebijakan baru dan meningkatnya penolakan masyarakat dapat memperlambat pembangunan pusat data. Padahal, fasilitas tersebut menjadi tulang punggung ekspansi industri AI yang membutuhkan kapasitas komputasi sangat besar.

Salah satu tokoh yang mendorong pembatasan pembangunan pusat data adalah Senator Bernie Sanders dari Vermont, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat. Ia menyerukan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data.

 

Dalam unggahan di platform X pada Rabu malam, Sanders menyatakan masyarakat AS tidak ingin oligarki perusahaan teknologi besar merusak lingkungan, memangkas lapangan kerja, dan mengancam masa depan umat manusia.

Michael O'Rourke, kepala strategi pasar JonesTrading, menilai perlambatan pembangunan pusat data menjadi isu utama yang akan terus membayangi pasar setelah hasil pemilu.

"Pesan utama dari hasil pemilu ini, terutama setelah Demokrat memenangkan banyak kursi gubernur, adalah perlambatan pembangunan pusat data menjadi isu utama yang akan terus membayangi pasar," ujarnya, dikutip dari Reuters.

Penolakan masyarakat bukan tanpa alasan. Pembangunan pusat data dalam skala besar dinilai berpotensi membebani jaringan listrik dan pasokan air di wilayah sekitarnya.

Bruce Zaro, direktur pelaksana Granite Wealth Management, mengatakan proses perizinan proyek pusat data ke depan berpotensi semakin sulit.

Menurutnya, meskipun sejumlah proyek telah memperoleh persetujuan, masih banyak proyek lain yang harus melalui proses perizinan. Penolakan masyarakat dapat menjadi hambatan baru bagi ekspansi industri tersebut.

Analis UBS bahkan memperkirakan sekitar 30% dari tambahan kapasitas pusat data AS yang direncanakan beroperasi pada 2028 berisiko terdampak potensi penghentian sementara pembangunan.

Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi industri AI yang sangat bergantung pada ekspansi fasilitas pusat data secara cepat.

Saham Semikonduktor Terjun Bebas

Kekhawatiran terhadap masa depan investasi AI langsung menghantam saham-saham produsen chip.

Indeks Philadelphia SE Semiconductor (SOX) anjlok 12% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan. Sementara itu, ETF semikonduktor iShares Semiconductor (SOXX) terjun lebih dari 12%, mencatat penurunan harian terdalam sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020.

Saham Nvidia merosot 9%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) terjun 17%. Broadcom juga anjlok 10%.

Saham Qualcomm ikut merosot 9% meskipun perusahaan melaporkan laba yang melampaui ekspektasi analis. Pelemahan terjadi setelah proyeksi laba perusahaan ke depan dinilai lebih rendah dari perkiraan pasar.

Saham perusahaan perangkat lunak Oracle turut turun hampir 7%.

Tekanan juga menjalar ke perusahaan teknologi raksasa atau hyperscalers. Amazon dan Alphabet masing-masing melemah 2,2%, sedangkan Microsoft turun 3,6%.

Indeks volatilitas Wall Street, CBOE Volatility Index (VIX), yang dikenal sebagai pengukur ketakutan pasar, mencatat kenaikan terbesar sejak Desember 2024.

Perusahaan Infrastruktur AI Ikut Babak Belur

Aksi jual tidak hanya menghantam produsen chip, tetapi juga perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan khusus AI atau neocloud.

Saham CoreWeave anjlok hampir 10%, sementara Nebius merosot sekitar 15% dan IREN terkoreksi hampir 17%. Saham operator pusat data Applied Digital dan Cipher Digital juga terjun lebih dari 14%.

CoreWeave menjadi salah satu barometer kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja dan pembiayaan industri AI.

 

Risiko pendanaan perusahaan tersebut tercermin dari pelebaran credit default swap (CDS) tenor lima tahun. Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, spread CDS CoreWeave melebar ke rekor 1.267,9 basis poin.

CDS merupakan instrumen keuangan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap risiko gagal bayar. Pelebaran spread menunjukkan meningkatnya persepsi pasar terhadap risiko kredit perusahaan.

Spread CDS tenor lima tahun Intel juga menyentuh rekor 149,7 basis poin.

Sementara itu, saham CoreWeave dan Nebius telah kehilangan setidaknya separuh nilainya sejak Nasdaq Composite mencetak rekor pada 6 Oktober.

Tekanan juga merembet ke sektor utilitas dan pemasok peralatan yang terkait dengan pembangunan pusat data. Saham GE Vernova turun 7,4%, sedangkan Constellation Energy melemah 2,5%.

Bloomberg News juga melaporkan Microsoft tengah memperketat pengawasan terhadap sejumlah proyek pusat data milik Nebius, IREN, dan Nscale.

Investor Mulai Menghitung Biaya Mahal di Balik AI

Gejolak pasar kali ini menunjukkan perubahan sikap investor terhadap industri AI. Jika sebelumnya pasar berfokus pada potensi pertumbuhan dan keuntungan besar dari teknologi tersebut, kini perhatian mulai beralih pada besarnya biaya investasi dan risiko pendanaannya.

Ted Parkhill, pendiri sekaligus CEO Incline Investment Management, menggambarkan perubahan sentimen tersebut.

 

"Pasar kini mulai beralih dari sekadar melihat potensi AI menjadi menghitung berapa mahal biaya untuk mengembangkan AI," ujarnya.

Menurutnya, AI memang berpotensi mengubah dunia dalam jangka panjang. Namun, hal itu tidak berarti seluruh saham yang berkaitan dengan AI saat ini telah dihargai secara wajar.

"Pasar masih akan menghadapi banyak gejolak," katanya, dikutip dari Reuters.

Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, mengatakan investor kini memilih mengambil jarak hingga memperoleh gambaran lebih jelas mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal atau capital expenditure (capex) AI.

"Sektor ini merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar yang kita miliki selama sekitar tiga tahun terakhir," ujarnya kepada CNBC International.

Menurut Holland, perhatian investor kini tertuju pada arah kebijakan dan sikap partai yang meraih kemenangan besar, baik di tingkat federal maupun negara bagian.

Keith Lerner, Chief Investment Officer Truist Wealth, menilai aksi jual pada Kamis menunjukkan tekanan yang semakin meluas dari saham teknologi ke pasar secara keseluruhan.

"Berbeda dengan kemarin, kini kita melihat aksi jual saham teknologi, dengan skala yang begitu besar, mulai merambat ke pasar secara lebih luas. Tekanan pasar semakin membesar," ujarnya.

Bukti meluasnya tekanan terlihat dari saham Caterpillar yang turun 6%, JPMorgan merosot 4%, serta Boeing dan Nike yang masing-masing terkoreksi 2%.

Pasar Asia Berpotensi Ikut Terseret

Sejumlah analis memperkirakan tekanan jual masih dapat berlanjut, termasuk ke pasar Asia pada perdagangan Jumat.

Indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan, yang telah naik lebih dari 20% sepanjang tahun ini, turut tertekan setelah aksi jual saham pusat data pada Rabu.

Di sisi lain, gejolak pasar juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan perubahan jadwal IPO Anthropic yang diperkirakan berlangsung pada musim gugur tahun ini. Penundaan IPO perusahaan AI tersebut berpotensi semakin memperburuk sentimen investor.

Dengan demikian, tekanan terhadap Wall Street bukan lagi sekadar persoalan koreksi valuasi saham teknologi. Pasar kini menghadapi kombinasi kekhawatiran politik, risiko pembiayaan, besarnya biaya investasi, serta ketidakpastian terhadap kelanjutan pembangunan infrastruktur AI.

(mae/mae)



Most Popular