MARKET DATA

Ini Negara dengan Lulusan Pendidikan Tinggi Terbanyak Dunia, RI Masuk?

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
04 November 2026 18:00
Ilustrasi Kampus. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Kampus. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu penentu daya saing ekonomi. Namun, kemampuan negara membangun sumber daya manusia berpendidikan tinggi ternyata masih timpang.

Ada negara yang lebih dari separuh penduduk dewasanya telah mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana, sementara di negara lain proporsinya masih sangat terbatas.

Gambaran kesenjangan tersebut terlihat dalam perbandingan tingkat pendidikan penduduk di 43 berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Pengukuran ini tidak menghitung jumlah lulusan universitas secara absolut, melainkan persentase penduduk berusia 25-64 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan minimal jenjang sarjana (bachelor's degree), termasuk magister dan doktor atau kualifikasi setara.

Dengan demikian, indikator ini menunjukkan seberapa besar bagian dari populasi usia produktif yang telah mencapai pendidikan tinggi akademik.

Pendidikan tinggi jangka pendek (short-cycle tertiary education), seperti sejumlah program pendidikan vokasi di bawah jenjang sarjana, tidak dimasukkan dalam penghitungan.

Eropa mendominasi daftar negara dengan tingkat pendidikan tinggi terbesar. Delapan dari sepuluh negara teratas berasal dari kawasan tersebut.

Selain Irlandia, Lithuania, dan Luksemburg, Belgia, Swiss, Inggris, dan Belanda juga mencatatkan proporsi di atas 40%.

Meski demikian, capaian pendidikan tinggi di Eropa tidak sepenuhnya merata. Prancis mencatatkan 30%, sementara Austria dan Italia masing-masing hanya 22%. Bahkan, Romania berada di posisi lebih bawah dengan 19%.

 

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa tingginya proporsi penduduk bergelar sarjana bukan karakteristik yang otomatis dimiliki seluruh negara maju di Eropa. Sistem pendidikan, akses terhadap perguruan tinggi, serta struktur pasar tenaga kerja dapat membentuk capaian yang berbeda antarnegara.

Irlandia sendiri memiliki sejumlah faktor yang mendukung posisinya. Perluasan akses pendidikan tinggi melalui kebijakan pembebasan biaya kuliah sarjana sejak 1990-an, bantuan pendidikan, serta pengembangan universitas regional ikut mendorong partisipasi masyarakat.

Selain itu, kebutuhan tenaga kerja terampil di industri teknologi dan farmasi turut mendukung tingginya pendidikan penduduk. Irlandia juga menarik pekerja asing berpendidikan tinggi.

Pada 2025, sebanyak 67% warga negara asing di negara tersebut memiliki kualifikasi pendidikan tingkat ketiga, dibandingkan 56% warga negara Irlandia. Ukuran ini lebih luas daripada indikator gelar sarjana ke atas dalam ranking.

AS dan Kanada Tak Masuk Lima Besar

Di luar Eropa, Australia dan Korea Selatan menjadi dua negara yang berhasil masuk sepuluh besar. Keduanya mencatatkan proporsi penduduk bergelar sarjana atau lebih tinggi sebesar 43%.

 

Amerika Serikat berada di angka 41%, setara dengan Swedia, sedangkan Kanada mencatatkan 39%. Posisi Kanada cukup menarik karena negara tersebut kerap dikenal memiliki tingkat pendidikan tinggi yang besar.

Perbedaan ini berkaitan dengan metode penghitungan. Sebanyak 25% penduduk dewasa Kanada memiliki kualifikasi pendidikan tinggi jangka pendek (short-cycle tertiary) sebagai jenjang pendidikan tertinggi.

Namun, pendidikan tersebut tidak dihitung dalam ranking karena indikator hanya mencakup gelar sarjana, magister, doktor, atau kualifikasi setara.

Sementara di Asia, Korea Selatan menjadi negara dengan capaian tertinggi dalam daftar, diikuti Israel sebesar 40% dan Jepang 37%. Türkiye berada lebih bawah dengan 20%.

 

Korea Selatan mencatatkan proporsi yang sama dengan Australia dan lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara maju seperti Jepang, Jerman yang sebesar 35%, serta Prancis sebesar 30%.

Indonesia Tertinggal Jauh, Hanya 10% Penduduk Bergelar Sarjana

Di antara 43 negara yang masuk dalam perbandingan, Indonesia berada di posisi ketiga terbawah dengan proporsi penduduk bergelar sarjana atau lebih tinggi hanya 10%. Posisi Indonesia berada di atas China sebesar 9% dan Afrika Selatan sebesar 8%.

Artinya, hanya sekitar satu dari sepuluh penduduk Indonesia berusia 25-64 tahun yang memiliki gelar sarjana atau kualifikasi lebih tinggi. Angka ini terpaut 47 poin persentase dari Irlandia yang memimpin daftar.

Indonesia juga tertinggal dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya dalam daftar. Chile mencatatkan 26%, Meksiko 22%, dan Kosta Rika 21%. Bahkan, Türkiye yang berada di kelompok bawah masih mencatatkan proporsi dua kali lipat Indonesia, yakni 20%.

Meski demikian, perbandingan tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan tahun pengamatan. Mayoritas negara menggunakan data 2025, sedangkan Indonesia menggunakan data 2023 dan China menggunakan data 2020.

Angka tersebut tetap menunjukkan tantangan Indonesia dalam memperluas akses dan meningkatkan pencapaian pendidikan tinggi masih sangat luas].

Di tengah kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil, memperbesar jumlah penduduk yang mampu mengakses pendidikan tinggi menjadi salah satu pekerjaan penting dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia.

 

(mae/mae)



Most Popular