MARKET DATA

Nasib 10 Saham Juara 2025: Dulu Terbang 8.500%, Kini Ambruk 95%

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
04 November 2026 11:55
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham juara 2025 kini ambruk berjamaah. Kejatuhan ini menunjukkan bahwa lonjakan harga yang fantastis tidak selalu mencerminkan fundamental yang kuat dan keberlanjutan kinerja saham, terutama di tengah tekanan pasar yang semakin besar.

Dari 10 saham dengan kenaikan tertinggi hingga 22 Desember 2025, sebanyak sembilan di antaranya kini berbalik melemah secara year-to-date (YTD) hingga penutupan perdagangan Selasa (3/11/2026).

Kejatuhan saham-saham tersebut terjadi di tengah tekanan yang juga melanda pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 43,28% secara YTD, dari posisi 8.646,94 pada akhir 2025 menjadi 4.904,29 pada 3 November 2026.

Bahkan, dalam pemeringkatan sejumlah indeks saham dunia yang dihimpun CNBC Indonesia pada 19 Oktober 2026, IHSG sempat menempati posisi paling bawah dengan penurunan 43,13% secara YTD.

Namun, koreksi yang dialami sejumlah saham jawara 2025 ternyata jauh lebih dalam dibandingkan penurunan indeks acuan tersebut.

Sempat Jadi Jawara Bursa pada 2025

Sepanjang 2025, sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kenaikan harga yang fantastis. Tak tanggung-tanggung, seluruh saham dalam daftar 10 besar ini berhasil melesat lebih dari 1.500% hingga 22 Desember 2025.

Kenaikan paling tinggi dicatatkan PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), yang meroket 8.582,93% sejak awal tahun.

Di posisi kedua ada PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) yang melesat 5.400%, disusul PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) sebesar 2.751,85% dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) sebesar 2.671,76%.

Enam saham lainnya, yakni PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA), PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), dan PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP), juga mencatatkan kenaikan lebih dari 1.500% sepanjang 2025.

Lonjakan harga saham-saham tersebut diwarnai berbagai sentimen sepanjang 2025, mulai dari rencana rights issue, ekspansi bisnis, hingga masuknya investor strategis.

CBRE, misalnya, mendapat perhatian pasar seiring rencana rights issue untuk mendukung pembelian kapal, penguatan modal kerja, hingga ekspansi armada. Sementara itu, COIN menjadi sorotan setelah masuknya investor baru dari Arsari Group.

BUVA juga mencatatkan penguatan di tengah aksi korporasi dan perbaikan kinerja keuangan. Adapun sejumlah saham lainnya turut menjadi perhatian di tengah tren perburuan saham berkapitalisasi kecil.

Meski demikian, kenaikan harga yang fantastis tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi fundamental emiten.

Berbalik Arah, Ada yang Anjlok Lebih dari 95%

Memasuki 2026, pergerakan saham-saham tersebut berubah drastis. Dari 10 saham yang sebelumnya menjadi jawara bursa, sembilan di antaranya kini mencatatkan penurunan harga secara YTD.

Koreksi terdalam dialami UDNG yang anjlok 95,42%, setelah sempat meroket lebih dari 8.500% pada 2025. Harganya kini tinggal Rp238 per saham, jauh dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp5.200.

Nasib serupa dialami COIN yang ambles 93,14%, dari Rp3.880 menjadi Rp266 per saham. Disusul MORA dan BUVA yang masing-masing terkoreksi 83,61% dan 80,29%.

Sementara itu, CBRE kehilangan separuh nilainya sejak akhir 2025, sedangkan IRSX, PIPA, dan ATAP masing-masing melemah 69,28%, 67,37%, dan 37,42%. PGUN mencatatkan penurunan paling terbatas sebesar 17,14%.

Di sisi lain, MGLV menjadi satu-satunya saham yang masih menguat 280,68% secara YTD. Namun, harga sahamnya juga telah terpangkas 50,74%, meski masih mencatatkan kenaikan sepanjang tahun ini.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa kenaikan ribuan persen pada 2025 tidak menjamin penguatan berlanjut. Bahkan, koreksi sejumlah saham tersebut jauh melampaui penurunan IHSG yang mencapai lebih dari 43% secara YTD.

 

(mae/mae)



Most Popular