Direksi Emiten Ramai-Ramai Jual-Beli Saham di September, Siapa Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah anggota direksi dan dewan komisaris emiten tercatat aktif memperjualbelikan saham perusahaan yang mereka kelola sepanjang September 2026.
Berdasarkan laporan perubahan kepemilikan saham yang disampaikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat petinggi emiten yang menambah kepemilikan untuk tujuan investasi. Namun, sejumlah direksi dan komisaris lainnya justru melakukan divestasi.
Dari kelompok pembeli, nilai transaksi terbesar dilakukan Komisaris PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Adi Wardhana Sariaatmadja. Sementara itu, aksi penjualan terbesar berasal dari jajaran direksi PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Direksi dan Komisaris yang Membeli Saham
Secara keseluruhan, delapan petinggi dari tujuh emiten tercatat melakukan pembelian saham dengan nilai gabungan hampir Rp100 miliar sepanjang 1-15 September 2026.
Adi Wardhana menjadi pembeli terbesar setelah mengakumulasi 635 juta saham BUKA pada harga Rp124 per saham. Transaksi pada 4 September 2026 tersebut memiliki nilai mencapai Rp78,74 miliar.
Setelah pembelian, total kepemilikan Adi di BUKA meningkat menjadi 1,5328%.
Aksi akumulasi berulang juga dilakukan Presiden Komisaris sekaligus pengendali PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), Edwin Soeryadjaya.
Sepanjang 2-11 September 2026, Edwin membeli sekitar 5,74 juta saham SRTG pada rentang harga Rp1.798-Rp1.845 per saham. Total nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp10,43 miliar dan membuat kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 35,93%.
Berikut daftar direksi dan komisaris yang membeli saham selama September 2026:
Selain BUKA dan SRTG, pembelian saham PT Aman Agrindo Tbk (GULA) juga cukup signifikan.
Komisaris GULA Irsyad Hanif membeli 20 juta saham pada harga Rp364 per saham. Transaksi senilai Rp7,28 miliar itu meningkatkan kepemilikannya dari 7,05% menjadi 8,92%.
Direksi dan Komisaris yang Menjual Saham
Di sisi lain, sejumlah petinggi emiten memilih mengurangi kepemilikan sahamnya. Nilai penjualan saham oleh kelompok ini diperkirakan mencapai sekitar Rp12,57 miliar.
Aksi penjualan paling besar dilakukan empat direktur AKRA, yakni Jimmy Tandyo, Bambang Soetiono, Nery Polim, dan Mery Sofi. Secara keseluruhan, keempatnya melepas sekitar 6,32 juta saham AKRA dengan nilai mencapai Rp9,27 miliar.
Jimmy Tandyo menjadi penjual terbesar. Sepanjang 2-8 September 2026, Jimmy melepas sekitar 4,62 juta saham AKRA dengan total nilai Rp6,75 miliar. Setelah transaksi, kepemilikannya di AKRA berkurang menjadi sekitar 0,259%.
Selain jajaran direksi AKRA, Direktur Utama PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI), Irsyad Hanif, juga menjual 14,88 juta saham dengan nilai Rp2,78 miliar.
Berikut daftar direksi dan komisaris yang menjual saham selama September 2026:
Transaksi Temmy Iskandar di JARR cukup menarik perhatian. Temmy sebelumnya membeli 11.000 saham JARR pada 28 Agustus 2026 dengan harga Rp3.310 per saham.
Hanya berselang beberapa hari, ia menjual seluruh saham tersebut pada 2 September 2026 dengan harga Rp3.340 per saham. Setelah transaksi, kepemilikannya di JARR kembali menjadi nihil.
Apakah Bisa Menjadi Sinyal Investor?
Transaksi saham oleh direksi dan komisaris sering digunakan investor sebagai salah satu indikator untuk membaca keyakinan internal perusahaan terhadap prospek bisnisnya.
Pembelian berulang dengan dana pribadi dan nilai material, seperti yang terlihat pada BUKA, SRTG, dan GULA, dapat memberikan sentimen positif. Namun, transaksi tersebut tidak otomatis menjamin kenaikan harga saham.
Begitu pula dengan penjualan saham. Aksi divestasi oleh direksi tidak selalu menunjukkan bahwa prospek perusahaan memburuk. Penjualan dapat dilakukan untuk diversifikasi aset, kebutuhan likuiditas pribadi, atau tujuan keuangan lainnya.
Investor tetap perlu membandingkan nilai transaksi dengan kepemilikan awal pelaku, kapitalisasi pasar emiten, fundamental perusahaan, valuasi, likuiditas saham, serta tujuan transaksi yang tercantum dalam keterbukaan informasi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)