MARKET DATA

Dikepung Perang - Kilang Dibom, Saudi Aramco Tetap Banjir Cuan!

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
04 November 2026 13:15
Aramco. (REUTERS/Benoit Tessier/File Photo)
Foto: Aramco. (REUTERS/Benoit Tessier/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dengan Iran membuat bisnis minyak Arab Saudi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari serangan terhadap fasilitas produksi hingga terganggunya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.

Namun, di tengah kondisi tersebut, raksasa minyak Saudi Aramco justru masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba.

Pada kuartal III-2026, Aramco membukukan laba bersih disesuaikan sebesar US$31 miliar atau Rp562,03 triliun (US$1= Rp 18.130) naik 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut cukup menarik mengingat perang telah mengganggu aktivitas produksi dan distribusi minyak perusahaan. Meski produksi belum kembali ke level sebelum konflik, kenaikan harga minyak dan berbagai upaya mencari jalur ekspor alternatif membantu Aramco menjaga kinerjanya.

Serangan terhadap fasilitas Aramco sebenarnya bukan hal baru. Pada Maret 2022, kelompok Houthi menyerang fasilitas penyimpanan minyak di Jeddah, setelah sebelumnya menyerang kilang minyak di Riyadh pada 2021.

Pada 2019, serangan juga menyasar pipa East-West yang mengalirkan minyak ke Laut Merah serta dua fasilitas pengolahan minyak milik perusahaan.

Namun, dampak konflik kali ini jauh lebih besar. Selain menghadapi serangan terhadap fasilitasnya, Aramco harus mencari cara agar minyak tetap bisa dikirim ke pelanggan di tengah terganggunya sejumlah jalur perdagangan utama.

Selat Hormuz Terganggu, Aramco Cari Jalur Lain

Sejak konflik pecah pada Februari 2026, Aramco mulai mengalihkan lebih banyak pengiriman minyak melalui Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur Teluk Persia.

Namun, strategi tersebut kembali menghadapi hambatan ketika kelompok Houthi memblokade jalur selatan melalui Selat Bab al-Mandab pada Juli. Aramco kemudian mengarahkan kapal-kapalnya ke utara untuk lebih banyak memanfaatkan jaringan pipa Suez-Mediterranean.

Masalah belum berhenti di situ. Serangan terbaru terhadap pipa East-West turut mengurangi volume minyak yang bisa dikirim menuju Laut Merah.

Laba bersih AramcoLaba bersih Aramco Foto: Economist

Untuk menjaga pasokan, Arab Saudi akhirnya kembali mengirimkan kapal tanker melalui Selat Hormuz menuju Teluk Oman. Di wilayah tersebut, minyak dipindahkan ke kapal milik pelanggan yang enggan melewati jalur berisiko tersebut secara langsung.

Berbagai langkah ini mulai menunjukkan hasil. Pada Oktober 2026, Aramco berhasil memasarkan sekitar 7 juta barel minyak per hari, meningkat dari 4,5 juta barel per hari pada Juli.

Jumlah tersebut bahkan sudah mendekati volume pada Februari, sebelum perang pecah. Fasilitas penyimpanan minyak Aramco di luar negeri, termasuk Belanda dan Korea Selatan, juga membantu perusahaan menjaga kelancaran pasokan.

Harga Minyak Tinggi, Ongkos Pengiriman Melonjak

Kemampuan Aramco bertahan di tengah konflik juga ditopang oleh biaya produksi yang relatif rendah dibandingkan harga jual minyaknya.

Pada 2025, biaya kegiatan hulu Aramco, termasuk biaya operasional dan belanja modal, tercatat sekitar US$11,50 per barel. Sementara itu, harga minyak yang diperoleh perusahaan pada kuartal III-2026 mencapai sekitar US$95 per barel.

Selisih tersebut memberikan ruang bagi Aramco untuk tetap menghasilkan keuntungan besar meskipun menghadapi gangguan produksi dan distribusi.

Biaya pemulihan fasilitas yang rusak akibat serangan sejauh ini juga masih relatif terbatas. Bahkan, belanja modal perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 tercatat turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, tantangan terbesar kini datang dari biaya pengiriman minyak yang semakin mahal.

Menurut International Energy Agency (IEA), biaya pengangkutan minyak dari Teluk Persia menuju Asia telah melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan sebelum perang.

Kenaikan tersebut terjadi karena gangguan distribusi membuat penggunaan kapal tanker menjadi kurang efisien. Sebagian kapal harus menunggu berhari-hari untuk melakukan pemindahan minyak antarkapal di Teluk Oman.

Sementara itu, kapal yang mengambil minyak dari ujung jaringan pipa Suez-Mediterranean harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk mencapai pelanggan di Asia.

Aramco pun harus menanggung sebagian kenaikan biaya tersebut. Saat ini, perusahaan memberikan diskon sekitar US$5 per barel untuk minyak mentah ringan yang dijual ke Asia dibandingkan harga acuan Dubai, meningkat dari diskon sekitar US$2 per barel pada bulan sebelumnya.

Siapkan Jalur Ekspor Baru

Untuk mengurangi risiko gangguan pengiriman ke depan, Aramco berencana memperluas kapasitas pipa East-West sekaligus mengembangkan jalur ekspor baru.

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pembangunan pipa dari ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi menuju Duqm, sebuah kawasan pelabuhan di pesisir Oman.

Menurut konsultan energi Rystad Energy, jalur tersebut diperkirakan membentang sekitar 1.000 kilometer dengan kebutuhan investasi hingga US$7 miliar, setara sekitar 14% dari anggaran belanja modal tahunan Aramco.

Alternatif lainnya adalah menghidupkan kembali jaringan pipa Irak-Arab Saudi sepanjang sekitar 1.500 kilometer yang menghubungkan Basra, Irak, dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Namun, proyek tersebut tidak sederhana. Pipa yang ada sebelumnya telah ditutup sejak Perang Teluk pertama pada 1990 dan kondisinya terus memburuk selama puluhan tahun.

Selain membutuhkan biaya besar, pengembangan jalur ekspor baru juga menghadapi risiko politik kawasan yang masih tidak menentu.

Meski demikian, CEO Aramco Amin Nasser menilai investasi pada jaringan pipa dapat memberikan keuntungan dalam waktu relatif cepat, terutama jika harga minyak tetap tinggi dan jalur ekspor di kawasan Teluk masih menghadapi gangguan.

Dalam paparan kinerja perusahaan, Nasser juga menyoroti persediaan minyak global yang semakin menipis.

Menurutnya, kebutuhan untuk mengisi kembali cadangan minyak setelah konflik berakhir berpotensi menjaga permintaan tetap tinggi hingga dua tahun setelah tercapainya penyelesaian perang dengan Iran.

Dengan harga minyak yang masih tinggi dan kebutuhan pasokan global yang berpotensi tetap kuat, Aramco memiliki peluang untuk terus mempertahankan keuntungan. Meski begitu, kenaikan biaya pengiriman dan kebutuhan investasi jalur ekspor baru tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan.

 

(mae/mae)



Most Popular