Trump Kalah, Minyak Ambruk: RI Siap Umumkan Kabar Gembira Hari Ini?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melonjak tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS), ditambah sikap Presiden Donald Trump yang menerima hasil pemilu, berhasil meredakan ketidakpastian politik yang selama ini membayangi pasar keuangan.
Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas kursi di DPR dan Senat AS, sekaligus memenangkan sejumlah pemilihan gubernur strategis, termasuk di Texas.
Kemenangan ini membuat Demokrat berpotensi menjadi penyeimbang kebijakan Trump, yang selama ini dikenal mendorong pemangkasan pajak ramah bisnis, tetapi juga menerapkan tarif impor dan melancarkan perang dengan Iran yang turut memicu inflasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.569,40 poin atau 3,03% ke level 53.356,12. Indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut kembali menembus level 53.000 untuk pertama kalinya sejak 8 September.
Kenaikan ini juga menjadi yang terbesar sejak 9 April 2025, ketika Trump mengumumkan penangguhan tarif resiprokal selama 90 hari untuk sejumlah negara.
Sementara itu, S&P 500 menguat 1,58% ke posisi 7.688,62, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,44% menjadi 25.736,51.
Penguatan bursa semakin kencang setelah harga minyak mentah AS anjlok lebih dari 8%. Wakil Presiden JD Vance menyalahkan perang Iran sebagai salah satu penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu pada Selasa. Harga minyak mentah Brent juga merosot lebih dari 8%.
Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners Peter Boockvar menilai hasil pemilu akan semakin meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk mengakhiri perang.
"Tekanan untuk mengakhiri perang akan semakin besar. Rakyat AS jelas telah menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap inflasi dan harga bensin, di antara persoalan lainnya. Mungkin hasil ini akan mendorong upaya untuk mengakhiri perang. Kita lihat saja," ujarnya, dikutip dari CNBC International.
Trump mengatakan kepada The New York Times bahwa dirinya sepenuhnya bersedia menerima hasil pemilu. Kepada The Wall Street Journal, Trump juga menyatakan bahwa dirinya bersama Partai Republik akan bekerja sama dengan Demokrat.
Menurut Chief Market Strategist Freedom Capital Markets Jay Woods, reli pasar saham turut dipicu oleh respons awal Trump yang menerima hasil pemilu.
"Ketidakpastian memang masih membayangi, tetapi satu hal yang pasti, pemerintahan akan menghadapi kebuntuan politik. Secara historis, kondisi ini justru baik bagi pasar," ujarnya.
Saham-saham yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan berpotensi diuntungkan oleh kondisi yang lebih stabil memimpin penguatan. Saham Walmart naik 3%, sementara Bank of America menguat sekitar 4% seiring investor mulai melirik saham di luar sektor teknologi.
Sebelum pemilu, investor sempat khawatir kemenangan besar Demokrat akan menekan sejumlah sektor pasar, terutama saham-saham yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Kemenangan Demokrat dikhawatirkan membuka jalan bagi pembatasan lebih ketat terhadap pembangunan pusat data (data center) di berbagai wilayah AS.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah Gina Hinojosa memenangkan pemilihan gubernur Texas.
Ia sebelumnya berjanji memberlakukan moratorium segera terhadap pembangunan pusat data di negara bagian yang menjadi salah satu pusat industri tersebut.
Saham CoreWeave melemah pada perdagangan Rabu. Saham SpaceX milik Elon Musk, yang berkantor pusat di Texas, juga turun. Sementara itu, saham Nvidia terkoreksi sekitar 3%.
Sentimen positif di pasar juga didorong oleh catatan historis yang menunjukkan bahwa pasar saham cenderung berkinerja baik ketika pemerintahan AS terpecah antara dua partai politik. Kondisi ini membuat ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan dan regulasi menjadi lebih terbatas sehingga memberikan kepastian lebih besar bagi dunia usaha.
Andrew Slimmon dari Morgan Stanley Investment Management mengatakan pasar menyukai kondisi kebuntuan politik atau gridlock.
"Pasar menyukai kebuntuan politik. Mereka tidak menyukai satu partai yang memiliki kekuasaan terlalu besar," ujarnya.
(slm/slm)