MARKET DATA
Newsletter

The Fed Tahan Suku Bunga, Yield SBN Terus Melonjak: IHSG-Rupiah Aman?

mae,  CNBC Indonesia
29 October 2026 06:20
New U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh departs at the end of a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric Lee
Foto: REUTERS/Eric Lee

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diharapkan berkurang pada hari ini setelah The Fed mempertahankan suku bunga.

Namun, rilis data inflasi PCE Amerika serta perkembangan perang bisa menekan pergerakan saham hingga rupiah. Lonjakan imbal hasil SBN juga akan menjadi perhatian pasar.

Berikut beberapa sentimen hari ini:

1. The Fed Tahan Suku Bunga

The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4,00%, tetapi keputusan pada Kamis (29/10/2026) tidak bulat. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin.

The Fed menyebut inflasi masih tinggi dan membuka peluang penyesuaian suku bunga lanjutan. Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya, seraya menegaskan bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2%.

Warsh juga menilai ekonomi AS semakin kuat, dengan pertumbuhan semester I-2026 direvisi naik menjadi 2,4%. Namun, tingginya suku bunga masih menekan biaya pinjaman dan memengaruhi investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan diumumkan.

Dalam konferensi pers, Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter. Namun, ia mengakui bank sentral belum berhasil mencapai stabilitas harga.

"Kami sedang mengupayakannya," kata Warsh, dikutip dari Reuters.

Warsh, yang mengambil alih kepemimpinan The Fed pada Mei lalu, menambahkan bahwa dirinya tidak ingin mendahului hasil rapat berikutnya.

"Banyak hal bisa terjadi. Karena itu, saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi ketika kelompok ini kembali berkumpul enam pekan dari sekarang," ujarnya.

2. BEI Revisi Target Jumlah IPO Jadi 15 Emiten di 2026


Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) menjadi 15 perusahaan pada 2026, dari sebelumnya 50 perusahaan.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, tantangan pasar masih membayangi, tetapi peluang IPO tetap terbuka. Untuk 2027, BEI menargetkan 25 perusahaan melantai di bursa.

Peluang tersebut antara lain berasal dari investasi sektor manufaktur, pembangunan kawasan industri, serta restrukturisasi perusahaan di lingkungan Danantara. BEI berharap berbagai inisiatif tersebut dapat mendorong penambahan emiten di tengah kondisi pasar yang menantang.

3. Danantara Masuk Tahap Due Diligence untuk Menjadi Pemegang Saham BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap Danantara Indonesia telah mengajukan penawaran untuk menjadi pemegang saham baru dalam proses demutualisasi bursa. Saat ini, proses tersebut masih dalam tahap uji tuntas (due diligence).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, sejauh ini baru Danantara yang menyampaikan penawaran. Sementara itu, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia belum mengajukan penawaran serupa.

Jeffrey belum mengungkapkan nilai penawaran Danantara karena proses penjajakan masih berlangsung.

Selanjutnya, BEI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) lanjutan untuk membahas penerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue sebagai bagian dari demutualisasi bursa.

4. Danantara Bakal Pangkas Jumlah BUMN Menjadi Kurang dari 200 Perusahaan

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan perampingan besar-besaran perusahaan BUMN, dari 1.074 entitas menjadi kurang dari 200 perusahaan, demi meningkatkan efisiensi, kinerja keuangan, dan tata kelola.

Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan, restrukturisasi dilakukan melalui konsolidasi, merger, divestasi, hingga likuidasi perusahaan yang dinilai tidak lagi diperlukan.

Hingga Oktober 2026, sekitar 364 entitas telah dirampingkan. Langkah ini mulai tercermin pada kinerja keuangan, dengan laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp214,9 triliun pada Januari-Agustus 2026, naik 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Danantara menargetkan transformasi berlanjut hingga 2030, mencakup penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, perluasan akses pendanaan melalui IPO dan obligasi, hingga pembentukan perusahaan berstandar global.

5. Sanksi Adminstrasi Pajak Dikurangi

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan memberikan pengurangan sanksi administrasi pajak hingga 100% bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Besaran pengurangan bergantung pada jenis sanksi serta periode pelaporan atau pelunasan.

Kasubdit Peraturan KUP dan PPSP DJP Meidijati menjelaskan, untuk sanksi keterlambatan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak, pengurangan 100% berlaku bagi SPT Tahunan dan/atau SPT Masa September 2026 yang berstatus kurang bayar, jika diselesaikan pada 8 Oktober-31 Desember 2026.

Jika pelunasan atau pelaporan dilakukan pada 1 Januari-31 Maret 2027, pengurangan sanksi menjadi 50%. Sementara itu, untuk periode 1 April-30 Juni 2027, pengurangan yang diberikan sebesar 25%.

Adapun untuk sanksi terkait Program Pengungkapan Sukarela (PPS), pengurangan hingga 100% dapat diberikan jika pokok pajak dilunasi paling lambat satu bulan setelah Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) diterbitkan, sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kalau mau dapat 100%, harus melunasi pokoknya itu paling lambat satu bulan setelah surat ketetapan pajak kurang bayar terbit," ujar Meidijati dalam sosialisasi pada Rabu (28/10/2026).

DJP juga mengatur pengurangan sanksi untuk pelunasan setelah satu bulan hingga paling lambat dua bulan sejak SKPKB terbit. Karena itu, wajib pajak perlu memperhatikan tenggat pembayaran agar memperoleh pengurangan sesuai ketentuan.

6. Inflasi PCE AS September 2026

AS akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada hari ini Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.

Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).

Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.

Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.



Rilis ini keluar setelah keputusan The Fed sehingga lebih relevan untuk membentuk ekspektasi pertemuan berikutnya, bukan menentukan keputusan yang sudah diumumkan. Hasil melampaui konsensus berpotensi mempertahankan kekhawatiran terhadap persistensi inflasi dan membatasi harapan pelonggaran moneter.

Sebaliknya, angka yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai bahwa tekanan harga mulai mereda, meski konsistensi beberapa bulan tetap diperlukan.

7. Klaim Pengangguran AS

AS juga akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 24 Oktober 2026.

Klaim awal pengangguran Amerika Serikat (AS) turun 6.000 menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026, terendah sejak pertengahan Juli dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 200.000, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.

Penurunan ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi. Laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik yang bertahan membantu menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Namun, mahalnya energi akibat perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta kebijakan perdagangan membayangi keputusan perekrutan perusahaan.

8. Suku Bunga ECB Oktober 2026

Bank sentral Eropa (ECB) hari ini akan  mengumumkan keputusan pukul 20.15 WIB, disusul konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap 2,65% dan fasilitas deposito bertahan di 2,50%.

Perhatian tertuju pada respons ECB terhadap risiko inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan. Keputusan mempertahankan bunga perlu dibaca bersama arah komunikasinya, terutama mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan dan penilaian terhadap tekanan biaya energi.

Bagi pasar global, perubahan nada ECB dapat memengaruhi euro, obligasi Eropa, serta pergerakan dolar secara relatif. Karena pengumumannya berdekatan dengan rilis utama AS, investor perlu mencermati kombinasi kedua perkembangan tersebut, bukan menilai salah satunya secara terpisah.

(mae/mae)


Most Popular
Features