MARKET DATA
Newsletter

Bersiaplah! Dalam Hitungan Jam, The Fed Bisa Jungkirbalikkan Dunia

mae,  CNBC Indonesia
28 October 2026 06:20
Sun, Ilustrasi Oligasi
Foto: Sun, Ilustrasi Oligasi

Pasar keuangan global dan Tanah Air hari ini kemungkinan akan wait and see menunggu keputusan suku bunga bank sentral AS The Fed. 

Dalam hitungan 18 jam ke depan, penantian dunia mengenai kebijakan The Fed akan terjawab.

Dari dalam negeri, sejumlah sentimen akan membayangi pergerakan pasar saham dan mata uang. Di antaranya aksi demo mahasiswa hingga jatuhnya minat lelang.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1.  Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026

Sentimen terbesar hari ini akan datang dari The Fed.

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September.

 

Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya. 

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.

Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik SBM.

2. Minat Lelang SBN Turun 

Minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) merosot tajam pada Selasa (27/10/2026). Total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun, anjlok 52,1% dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Di tengah lesunya permintaan, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke 7,54%, tertinggi sejak November 2022. Angka ini naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 bps dibandingkan awal 2026.

Pemerintah hanya menyerap SUN sebesar Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan, sekaligus berpotensi membuat biaya utang baru pemerintah semakin mahal.

Jatuhnya minat SBN ini dikhawatirkan akan terus memicu outflow sehingga saham an rupiah melemah.

 

 3. Laba Industri China Naik

Laba industri China naik 15,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi CNY 6,03 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 15,7% pada periode Januari-Agustus 2026.

Pertumbuhan laba masih ditopang oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta peralatan elektronik. Namun, permintaan domestik yang masih lesu terus membebani sejumlah industri.

Laba perusahaan milik negara meningkat 13,1% menjadi CNY 1,94 triliun. Sementara itu, perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat kenaikan laba sebesar 20,8% menjadi CNY 4,67 triliun. Adapun laba perusahaan swasta tumbuh 8,7% menjadi CNY 1,51 triliun.

Berdasarkan sektor, pertambangan masih menjadi pendorong utama dengan lonjakan laba sebesar 38,2%, diikuti manufaktur yang tumbuh 17,0%. Sebaliknya, sektor utilitas mengalami penurunan laba sebesar 14,3%.

Di antara berbagai industri, kenaikan laba tertinggi tercatat pada sektor komputer dan komunikasi sebesar 103,8%, diikuti peleburan dan pengolahan logam nonferrous sebesar 79,7%, pertambangan batu bara sebesar 57,0%, serta industri kimia sebesar 49,2%.

Khusus pada September 2026, laba industri China tumbuh 14,4% secara tahunan. Pertumbuhan ini melonjak dibandingkan kenaikan 4,2% pada Agustus sekaligus menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Juni

 

Kenaikan laba industri China menjadi angin segar bagi Indonesia. Namun, lonjakan laba belum tentu berujung pada lonjakan pesanan komoditas dari RI. Kuncinya ada pada seberapa kuat produksi industri dan impor China benar-benar meningkat.

Jika permintaan bahan baku menguat, eksportir batu bara, nikel, dan mineral Indonesia berpeluang kecipratan berkah. Sebaliknya, jika industri China justru mengandalkan ekspansi ekspor di tengah lemahnya permintaan domestik, produk manufaktur RI bisa menghadapi persaingan harga yang semakin ketat.

4. Pesanan Baru AS Meningkat

Pesanan baru barang tahan lama (durable goods) buatan Amerika Serikat (AS) meningkat 1,8% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada September 2026, setelah naik 0,1% pada Agustus berdasarkan revisi ke atas. Capaian ini melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,5%.

Kenaikan tersebut didorong oleh pemulihan kuat pesanan peralatan transportasi yang melonjak 4,6%, berbalik dari penurunan 0,3% pada Agustus. Pendorong utamanya adalah lonjakan pemesanan pesawat sipil sebesar 28,4%.

Di sektor lainnya, pesanan mesin meningkat 1,2%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,0% pada Agustus. Pesanan komputer dan produk elektronik naik 0,8%, dibandingkan 0,5% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, pesanan logam dasar tumbuh 0,5%, melambat dari kenaikan 1,9% pada Agustus. Pesanan produk logam fabrikasi juga meningkat 0,4%, berbalik dari penurunan 1,4% pada bulan sebelumnya.

Tidak termasuk sektor transportasi, pesanan baru meningkat 0,5%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Agustus. Adapun pesanan di luar sektor pertahanan melonjak 2,2%, dibandingkan pertumbuhan 0,3% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, pesanan barang modal nonpertahanan di luar pesawat (non-defense capital goods excluding aircraft), yang menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur rencana investasi dunia usaha, naik 0,5%. Angka ini melambat dibandingkan kenaikan 1,6% pada Agustus.

 5. Musim Laporan Keuangan Tiba

Musim laporan keuangan dan kinerja emiten hingga kuartal III-2026 datang. Sejumlah emiten sudah mengumumkan hasil kinerja.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan laba bersih puluhan triliun rupiah sepanjang Januari-September 2026. Kedua bank tersebut membukukan pertumbuhan laba di tengah dinamika industri perbankan nasional.

BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp16,11 triliun hingga kuartal III-2026. Angka tersebut tumbuh 6,62% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai sekitar Rp15,11 triliun.

Sementara itu, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp45,2 triliun pada periode Januari-September 2026. Perolehan tersebut meningkat 4,2% YoY dibandingkan laba bersih sebesar Rp43,4 triliun pada Januari-September 2025.

Kinerja kedua bank ini menjadi salah satu gambaran perkembangan industri perbankan nasional sepanjang sembilan bulan pertama 2026, di tengah perubahan kondisi ekonomi dan dinamika penyaluran kredit.

(mae/mae)


Most Popular
Features