MARKET DATA
Newsletter

Bersiaplah! Dalam Hitungan Jam, The Fed Bisa Jungkirbalikkan Dunia

mae,  CNBC Indonesia
28 October 2026 06:20
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in
Foto: Bendera Amerika tergantung di luar Bursa Efek New York di New York (AP/Frank Franklin II)

Bursa saham Wall Street menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hariw waktu Indonesia. Kenaikan didorong antusiasme terhadap saham-saham produsen cip yang kembali menjadi incaran investor selama dua hari berturut-turut.

Investor juga mencermati penurunan harga minyak dan mencerna sejumlah laporan kinerja keuangan perusahaan, di tengah dimulainya rapat kebijakan moneter dua hari Federal Reserve (The Fed).

Indeks S&P 500 naik 0,6% dan ditutup di level 7.722,60. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menanjak15,99 poin atau 0,03% ke posisi 52.377,57. Nasdaq Composite menguat 1,18% ke level 26.477,81.

Saham Broadcom melonjak 4% setelah konsorsium perbankan yang terdiri dari Bank of America, Citi, Morgan Stanley, serta Blackstone mengumumkan pendanaan senilai US$63 miliar untuk pembelian teknologi Broadcom yang akan digunakan Anthropic.

 

Saham produsen cip lainnya turut menguat. Micron Technology naik hampir 3%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) melesat 5%.

Kenaikan saham-saham tersebut memperpanjang penguatan pada perdagangan sebelumnya, ketika indeks-indeks utama Wall Street mencatatkan kenaikan. Penguatan itu antara lain ditopang saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), setelah Anthropic mengajukan dokumen untuk melantai di bursa Nasdaq.

Jika terealisasi, penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Anthropic akan menjadi salah satu IPO teknologi besar lainnya pada 2026, menyusul pencatatan saham SpaceX yang mencetak sejarah pada Juni lalu.

"Pasar secara berkala mengalami periode ketika investor khawatir terhadap belanja AI. Namun, setelah itu, saham teknologi biasanya kembali memimpin penguatan pasar," ujar Jed Ellerbroek, manajer portofolio Argent Capital Management, dikutip dari CNBC International.

 

"Selama dua pekan terakhir, seolah-olah sakelar penguatan itu dimatikan. Namun, dalam dua hari pertama pekan ini, sakelar tersebut tampaknya kembali dinyalakan," lanjutnya.

Meski kekhawatiran terhadap belanja AI sempat membayangi pasar, Ellerbroek menilai perusahaan-perusahaan pemilik pusat data masih memiliki keyakinan kuat untuk terus mengembangkan bisnisnya.

Menurut dia, salah satu potensi kerentanan utama tetap terletak pada volatilitas pasar modal yang dapat memengaruhi pendanaan perusahaan.

Sentimen pasar pada Selasa juga ditopang penurunan harga minyak. Pergerakan ini terjadi setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan pejabat tinggi keamanan nasional Mohsen Rezaei membahas persyaratan Iran untuk mengakhiri konflik.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 1,83% ke US$99,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, melemah 1,67% dan ditutup di US$113,88 per barel.

Di sisi lain, saham JetBlue melonjak 19% meskipun maskapai tersebut mencatatkan kerugian pada kuartal III-2026 yang lebih besar dari perkiraan. Kenaikan saham terjadi setelah perusahaan menyatakan optimistis dapat memperluas margin keuntungan pada kuartal IV-2026.

Saham United Parcel Service (UPS), perusahaan pengiriman barang global, juga naik lebih dari 5% setelah membukukan kinerja kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi pasar.

 

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu sore waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Bank sentral AS tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi investor akan mencermati petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

"Pertemuan The Fed kali ini terasa seperti salah satu pertemuan langka yang tidak menghasilkan kejutan di bawah kepemimpinan Warsh. Strategi komunikasinya tampaknya akan membuat pertemuan tanpa kejutan semakin jarang terjadi. Namun, kali ini kemungkinan memang tidak akan ada kejutan, terutama karena pemilihan paruh waktu AS berlangsung pekan depan," kata Ellerbroek.

Ia menambahkan, pertemuan The Fed pada Desember mendatang kemungkinan akan menjadi momen yang jauh lebih menentukan bagi pasar.

(mae/mae)


Most Popular
Features