MARKET DATA
Newsletter

Inflasi AS Memanas, Cuan Dagang China Meledak: Dunia Tunggu Sinyal Fed

mae,  CNBC Indonesia
15 October 2026 06:19
Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)
Foto: Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Inflasi AS yang memanas, dolar yang masih tinggi, hingga masih membaranya perang bisa membuat IHSG dan rupiah tertekan.

Hari ini sejumlah agenda dan data ekonomi juga masih membayangi pasar keuangan Indonesia, termasuk pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Houthi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi

Kelompok Houthi di Yaman mengancam melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini muncul sehari setelah serangan yang dilaporkan merusak kompleks perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco di Dhahran.

Houthi menyebut fasilitas tersebut sebagai target sah dan mengklaim serangan sebagai balasan atas gempuran Arab Saudi di Yaman. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik yang mengarah ke Riyadh pada Rabu.

Eskalasi konflik ini mengancam ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi dan mengurangi ketergantungan pada minyak. Di Yaman, meningkatnya pertempuran juga memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat penyaluran bantuan.

Kapal Kargo Tenggelam di Selat Hormuz, Serangan Kapal Dagang Meluas

Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, tenggelam di Selat Hormuz pada Rabu setelah terkena proyektil tak dikenal dan terbakar. Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi tanpa korban luka.

Kapal kontainer lain yang terdaftar di Singapura, GFS Giselle, juga mengalami kerusakan lambung akibat serangan proyektil pada hari yang sama. Otoritas maritim Singapura mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak beralasan dan melanggar hukum internasional.

Garda Revolusi Iran mengklaim kapal GFS Pride tenggelam setelah menabrak ranjau laut. Namun, perusahaan keamanan maritim Marisks menyatakan belum ada bukti independen yang mengonfirmasi klaim tersebut.

Serangan terhadap kapal komersial meningkat di Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman. Lebih dari 20 kapal-sebagian besar kapal tanker minyak-dilaporkan menjadi sasaran sepanjang bulan ini, menurut UK Maritime Trade Operations.

Eskalasi tersebut menambah risiko terhadap jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

2. Inflasi AS Memanas, Dolar Mengganas

AS mengumumkan data inflasi September Rabu, kemarin.

Inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, naik dari 3,4% pada dua bulan sebelumnya. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%, dipicu lonjakan harga energi.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), harga bensin melonjak 34,2% secara tahunan, sementara harga minyak pemanas melesat 74,2%.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik atau inflasi 0,6%, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2026. Harga bensin melonjak 9,1% dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK bulanan.


Tekanan juga terlihat pada inflasi inti (core CPI), yang naik menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,4% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti meningkat 0,3%, melampaui ekspektasi sebesar 0,2%.

Kenaikan biaya perumahan dan jasa transportasi turut memperkuat tekanan harga. Data ini menunjukkan inflasi AS masih sulit mereda dan menjadi tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Data ini menunjukkan tekanan inflasi AS belum mereda, bahkan ketika kenaikan harga mulai meluas ke berbagai sektor di luar energi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Para ekonom menilai data tersebut memunculkan keraguan apakah konsumen AS mampu mempertahankan laju belanja yang kuat.

"Meski sebagian besar hilangnya daya beli disebabkan oleh kenaikan biaya energi, tidak ada alasan untuk memperkirakan tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat," ujar Eric Winograd, Kepala Ekonom AS di AllianceBernstein, kepada Reuters.

Menyusul tingginya inflasi, indeks dolar ikut terbang. Indeks dolar pada perdagangan Rabu menyentuh 102,555. Level indeks masih berada di kisaran tertingginya sejak April2 025 atau 1,5 tahun.

Lonjakan indeks dolar ini berpotensi membuat rupiah melemah karena adanya kemungkinan outflow dari Emerging Market.

3. Surplus Dagang China Tembus US$133 Miliar, Ekspor Melonjak 36%

China mengumumkan data inflasi konsumen dan produsen hingga neraca dagang September Rabu, kemarin.

Surplus perdagangan China melonjak menjadi US$133,53 miliar pada September 2026, naik tajam dari US$88,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar US$118,1 miliar dan menjadi surplus terbesar kedua sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Administrasi Umum Kepabeanan China, ekspor melonjak 36,3% secara tahunan (yoy) menjadi US$447,18 miliar.

Pertumbuhan ini merupakan yang terkuat dalam tujuh bulan terakhir, didorong lonjakan permintaan global terhadap produk teknologi tinggi, termasuk elektronik dan semikonduktor, di tengah maraknya investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Ekspor mobil juga meningkat tajam. Pengiriman ke Amerika Serikat (AS) melonjak 39,6%, sementara ekspor ke Uni Eropa tumbuh 25,3% dan ke negara-negara ASEAN melesat 52,3%.

Di sisi lain, impor China turut melesat 31% secara tahunan menjadi rekor US$313,66 miliar, melampaui perkiraan pasar sebesar 24,5%. Kenaikan ini didorong permintaan perangkat keras AI, pembelian bahan baku industri menjelang libur Golden Week, serta kenaikan harga minyak dan komoditas global.

Namun, lonjakan impor belum tentu mencerminkan pemulihan konsumsi domestik China. Sebagian besar kenaikan berasal dari pembelian bahan baku, mineral, dan komponen elektronik untuk mendukung produksi barang ekspor.

Kinerja perdagangan China tetap solid meski Beijing menghadapi tekanan dari AS dan Uni Eropa terkait kelebihan kapasitas industri dan surplus dagang yang membengkak. Surplus perdagangan China dengan AS bahkan mencapai US$34 miliar pada September.

Secara kumulatif, surplus perdagangan China mencapai US$938,11 miliar sepanjang Januari-September 2026. Angka ini membuka peluang surplus tahunan kembali melampaui rekor tahun lalu sebesar US$1,2 triliun.

Membaiknya neraca dagang China terutama kenaikan impor menjadi kabar baik bagi Indonesia. China adalah mitra dagang utama Indonesia, kenaikan impor diharapkan bisa meningkatkan permintaan barang dari Indonesia.

4. Inflasi China

Inflasi China naik menjadi 0,9% secara tahunan (yoy) pada September 2026, dari 0,8% pada Agustus. Kenaikan ini didorong oleh biaya transportasi dan harga energi, meski masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 1%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) China naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada September 2026. Sejak 1996, inflasi bulanan China rata-rata sebesar 0,14%, dengan rekor tertinggi 2,6% pada Februari 2008 dan terendah minus 1,8% pada Juni 1998.

Di sisi lain, inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) melonjak menjadi 5%, tertinggi sejak Juni 2022, dari 3,8% pada Agustus. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi mendorong tekanan harga di sektor industri.

Namun, harga pangan China masih melemah selama enam bulan berturut-turut, terutama akibat penurunan harga daging babi di tengah pasokan melimpah dan konsumsi yang lesu. Secara bulanan, inflasi konsumen naik 0,2%, melambat dari 0,4% pada Agustus.

Kenaikan inflasi produsen China berpotensi meningkatkan biaya impor Indonesia, terutama untuk bahan baku, mesin, komponen elektronik, dan produk industri. Kondisi ini dapat menekan margin manufaktur domestik serta memicu inflasi dari sisi biaya jika kenaikan harga diteruskan ke konsumen.

Di sisi lain, inflasi konsumen China yang masih rendah dan penurunan harga pangan mengindikasikan permintaan domestik belum sepenuhnya kuat, sehingga berisiko menekan ekspor Indonesia, terutama komoditas yang bergantung pada pasar China.

Meski kenaikan biaya produksi berpotensi menopang harga sejumlah komoditas, dampaknya terhadap Indonesia akan bergantung pada perkembangan permintaan China, harga energi global, dan pergerakan rupiah.

5.  Diskusi Chairman The Fed-IMF

Pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand menghadirkan agenda penting pada hari ini, Kamis (15/10/2026)\yakni diskusi antara Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, dan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam sesi Fireside Chat di Bangkok, Thailand.

Agenda utama yang patut dicermati adalah diskusi antara Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Bangkok, Thailand, pada pukul 10.30 WIB. Diskusi ini berpotensi memberikan petunjuk mengenai prospek ekonomi global, tekanan inflasi, arah suku bunga AS, serta risiko utang dunia.

Pernyataan Warsh menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan harga emas. Bagi Indonesia, sinyal kebijakan The Fed yang lebih ketat berpotensi menekan rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, sedangkan sinyal yang lebih lunak dapat mendukung aset berisiko.

6. Inflasi Produsen AS

Pada hari ini, Kamis (15/10.2026), AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) untuk September 2026.

Sebagai catatan, inflasi PPI naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga barang, termasuk harga solar.

Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4% di Agustus 2026 dari 4,8% pada Juli, terutama didorong kenaikan biaya transportasi.

Adapun inflasi produsen inti (core PPI), yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dan 4,6% secara tahunan. Angka bulanan tersebut melambat dari kenaikan 0,3% pada Juli, sedangkan angka tahunan meningkat dari 4,3%.

7. Klaim Pengangguran AS

AS akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 10 Oktober 2026.

Sebagai catatan, jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun 2.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 200.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli, ketika klaim mencapai 189.000.

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan naik 17.000 menjadi 1,716 juta. Meski meningkat, angka tersebut masih mendekati level terendah dalam lebih dari tiga tahun yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, sejalan dengan pandangan Federal Reserve (The Fed) bahwa kondisi ketenagakerjaan tetap mendukung.

(mae/mae)


Most Popular
Features