MARKET DATA

Kering Kerontang! Ini 10 Wilayah di RI dengan Curah Hujan Terendah

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
14 October 2026 11:25
Ilustrasi hujan. (Dok. Pixabay)
Foto: Ilustrasi hujan. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Curah hujan di Indonesia menyebar tidak merata. Faktor geografis, topografi, hingga pola angin membuat sejumlah wilayah menerima hujan jauh lebih sedikit dibandingkan daerah lainnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2026 menunjukkan perbedaan curah hujan yang cukup mencolok di berbagai daerah Tanah Air.

Palembang, Sumatera Selatan, tercatat sebagai wilayah dengan curah hujan terendah dalam daftar tersebut, yakni 543,8 mm.

Sebagai gambaran, curah hujan 1 mm setara dengan sekitar 1 liter air yang tertampung di permukaan datar seluas 1 meter persegi. Semakin besar angkanya, semakin banyak air hujan yang tercatat.

Angka 543,8 mm tidak otomatis berarti seluruh Kota Palembang hanya menerima curah hujan sebesar itu. Angka tersebut merupakan hasil pengamatan di satu stasiun tertentu, sementara di lokasi lain bisa berbeda.

Rendahnya curah hujan di Palembang dapat dipengaruhi oleh pola musim dan pergerakan angin. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, musim kemarau di Indonesia umumnya berkaitan dengan angin monsun timur dari Australia yang relatif kering.

Pada Mei 2026, BMKG juga memperkirakan musim kemarau di Sumatera Selatan datang lebih awal, dengan kondisi yang cenderung lebih kering dari normal.

Meski demikian, angka curah hujan tahunan tidak bisa dijelaskan hanya dari satu faktor. Distribusi hujan juga dipengaruhi kondisi atmosfer dan karakteristik geografis setempat.

NTT dan NTB Dominasi Daftar

Selain Palembang, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mendominasi daftar daerah dengan curah hujan relatif rendah.

NTT menyumbang tiga wilayah, yakni Kabupaten Sikka dengan curah hujan 985 mm, Kabupaten Sumba Timur sebesar 1.045,6 mm, dan Kabupaten Alor sebesar 1.234,5 mm.

Sementara itu, NTB menyumbang Kota Bima dengan 1.166,2 mm dan Kabupaten Sumbawa sebesar 1.472,2 mm.

Karakter iklim yang relatif kering di sebagian wilayah Nusa Tenggara berkaitan dengan pola musim dan pengaruh angin monsun. Namun, kondisi curah hujan di setiap daerah tetap bervariasi, bergantung pada topografi dan dinamika atmosfer setempat.

Di luar Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara, Kabupaten Kerinci di Jambi mencatat curah hujan 1.253,7 mm. Kepulauan Yapen di Papua berada di angka 1.437,8 mm, sedangkan Kabupaten Banggai di Sulawesi Tengah mencapai 1.448,2 mm.

Perbedaan curah hujan ini bukan sekadar persoalan cuaca. Ketersediaan air turut menentukan keberlangsungan pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga aktivitas ekonomi yang bergantung pada pasokan air.

(mae/mae)



Most Popular