MARKET DATA
Newsletter

AS & China Berlomba Bikin Dunia Cemas, Data Ekonomi Jadi Senjata

mae,  CNBC Indonesia
14 October 2026 06:25
The conference logo of the IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 is displayed on a wall backdrop inside a meeting room at the Queen Sirikit National Convention Center in Bangkok on October 9, 2026. (Photo by Chanakarn LAOSARAKHAM / AFP)
Foto: AFP/CHANAKARN LAOSARAKHAM

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diharapkan sedikit mereda pada hari ini. Melemahnya indeks dolar dan imbal hasil US treasury menjadi kabar baik. 
Namun, banyaknya data yang dirilis hari ini bisa membuat pasar keuangan bergerak labil.

Berikut beberapa penggerak sentimen hari ini:

1. Dolar AS dan Yield Treasury Kompak Melemah

Indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) US Treasury kompak melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), seiring investor mencermati perkembangan pasar global dan menantikan data inflasi Amerika Serikat (AS).

Indeks dolar AS turun 0,37% ke level 102,18, turun dari posisi tertinggi dalam 18 bulan. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 2,3 basis poin menjadi 5,217%.

Pelemahan dolar dan yield obligasi dipengaruhi penurunan harga minyak serta meredanya tekanan jual di pasar obligasi. Meski demikian, kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga energi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pasar.

Investor kini menantikan data inflasi AS yang dijadwalkan rilis Rabu (14/10/2026) untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pergerakan dolar dan yield Treasury menjadi perhatian pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, dan pasar obligasi domestik.

Melemahnya indeks dolar menandai investor tengah menjual instrumen berdemoninasi dolar AS sehingga ada pergerakan dana ke Emerging Markets seperti Indonesia.


2. Pemerintah Pastikan Defisit Maksimal 3%

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah menjaga kredibilitas fiskal dengan mempertahankan defisit APBN maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB) dan rasio utang pemerintah sebesar 60% terhadap PDB.

Komitmen tersebut disampaikan Suahasil dalam pertemuan bilateral dengan Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).

"Satu-satunya mata uang yang kami miliki adalah kredibilitas. Karena itu, kami ingin menjaga kredibilitas kami dan menegaskan kembali komitmen terhadap defisit anggaran 3% serta rasio utang 60% terhadap PDB," ujar Suahasil.

Dalam pertemuan itu, Suahasil juga memaparkan prioritas fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari penguatan ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor kesehatan dan pendidikan, penguatan usaha kecil dan menengah (UKM), hingga hilirisasi sumber daya alam.

Pemerintah turut mendorong pendalaman sektor keuangan dan penciptaan lapangan kerja dengan nilai tambah lebih tinggi.

World Bank Group menyambut baik agenda tersebut, termasuk melalui dukungan teknis untuk pendalaman pasar modal domestik dan pengembangan hilirisasi sumber daya alam agar nilai tambahnya dapat dinikmati di dalam negeri.

3. IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Global

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026, melambat dibandingkan realisasi pertumbuhan 3,5% pada 2025.

Meski demikian, proyeksi tersebut naik 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026. 

Dalam WEO edisi Oktober 2026 yang dirilis Selasa (13/10/2026), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global kembali meningkat menjadi 3,4% pada 2027.

IMF menilai ketahanan sektor teknologi, lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI), serta kemampuan adaptasi ekonomi telah membantu meredam dampak gejolak geopolitik.

"Ekonomi global menunjukkan ketahanan, tetapi ketahanan itu kini berada di bawah tekanan, dengan risiko yang condong ke arah negatif," kata Kepala Ekonom IMF Silvana Tenreyro di Bangkok, Thailand.

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum melandai ke 4,1% pada 2027.

IMF juga memperingatkan negara-negara berkembang berpendapatan rendah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang Iran. Negara-negara pengimpor minyak dengan beban utang besar memiliki ruang fiskal terbatas untuk melindungi masyarakat dari dampak krisis. 

Wakil Direktur Riset IMF Petya Koeva Brooks mengatakan, negara-negara tersebut menghadapi pilihan sulit dalam merespons guncangan energi di tengah kenaikan utang dan tekanan inflasi.

 "Setelah bertahun-tahun ekonomi global dihantam guncangan demi guncangan, tingkat utang meningkat cukup tajam, sementara inflasi juga menjadi masalah," ujarnya.

Di tengah proyeksi pertumbuhan global tersebut, IMF justru menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 5% dalam WEO edisi April 2026.

IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 di level 5,1%. 

Namun, tekanan inflasi masih membayangi. IMF memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Inflasi kemudian diproyeksikan melandai menjadi 2,8% pada 2027.

4. Inflasi China

China akan mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode September 2026 pada hari ini, Rabu (14/10/2026).

Sebagai catatan, IHK China naik atau mengalami inflasi secara tahunan sebesar 0,8% pada Agustus 2026, dari 0,5% pada Juli yang merupakan level terendah dalam enam bulan.

Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan biaya transportasi, pakaian, layanan kesehatan, serta pendidikan, serta biaya perumahan.

Di sisi pangan, harga turun selama lima bulan berturut-turut.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, meningkat menjadi 1,0% secara tahunan dari 0,9% pada Juli.

Secara bulanan, harga konsumen naik 0,4% pada Agustus 2026, melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3% dan berbalik dari deflasi 0,1% pada Juli.

Pada hari yang sama, China juga akan mengumumkan data inflasi produsen untuk September 2026.


Sebagai catatan, inflasi produsen atau PPI China meningkat menjadi 3,8% secara tahunan pada Agustus 2026, naik dari 3,5% pada Juli yang merupakan level terendah dalam tiga bulan. Angka ini juga melampaui perkiraan pasar sebesar 3,7%.

Kenaikan tersebut terjadi ketika harga energi terus meningkat di tengah guncangan harga minyak global akibat gangguan di Selat Hormuz.

Secara bulanan, harga produsen naik 0,4%, berbalik dari penurunan 0,7% pada Juli. Dalam delapan bulan pertama 2026, harga produsen meningkat 2,0%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,8% pada periode sebelumnya.

Bagi Indonesia, perkembangan inflasi konsumen dan produsen China mengingat China adalah mesin pertumbuhan ekonomi di Asia. Jika konsumsi di China meningkat maka ini bisa menjadi bagi Asia.

5. Neraca dagang China

Pada hari ini, Rabu (14/10/2026), China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026. Data ini sangat penting bagi Indonesia mengingat Tiongkok adalah mitra dagang terbesar buat Indonesia.

Jika impor China naik maka ada harapan peningkatan permintaan barang dari Indonesia.

Sebagai catatan, surplus perdagangan China melebar menjadi US$119,09 miliar pada Agustus 2026, naik dari US$101,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor China melonjak 25% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$401,44 miliar, setelah tumbuh hampir 24% pada Juli. Peningkatan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global yang terus mendorong perdagangan di Asia.

Sementara itu, impor China meningkat 28,2% menjadi US$282,36 miliar. Angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar, tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 27,5% pada Juli.

6. Inflasi Amerika Serikat

Dunia menunggu data penting dari AS pada hari ini Rabu (14/10/2026) yakni inflasi September 2026 Data ini menjadi salah satu pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Jika inflasi naik maka The Fed diperkirakan akan segera kembali mengerek suku bunga.

Sebagai catatan, inflasi tahunan AS pada Agustus 2026 bertahan di 3,4%, sama seperti Juli dan sesuai perkiraan pasar.

Secara bulanan, inflasi AS naik 0,4%, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan terutama dipicu harga bensin.


Sementara itu, inflasi inti (core CPI) naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada Juli dan perkiraan pasar. Namun, secara tahunan, inflasi inti melambat menjadi 2,4% dari 2,5%, terendah sejak Maret 2021.

(mae/mae)


Most Popular
Features