3 Ancaman Besar Kepung RI: Perang Memanas, Minyak Membara-Dolar Ngamuk
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks pasar luas S&P 500 turun 0,06% ke level 7.807,24. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 195,60 poin atau 0,38% ke posisi 51.850,55. Kenaikan ini menjadi penguatan harian ketiga berturut-turut bagi indeks yang berisi 30 saham tersebut.
Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,44% ke level 27.245,90.
Nasdaq tertekan penurunan saham Micron Technology sebesar 3,9%. Pelemahan ini terjadi ketika investor mencermati meningkatnya persaingan dari perusahaan China, CXMT, yang melaporkan kemajuan dalam pengembangan struktur chip baru.
Sebaliknya, Dow Jones mendapat dorongan dari kenaikan saham Salesforce sebesar 2%, setelah Bank of America menaikkan rekomendasi saham perusahaan tersebut sebanyak dua tingkat.
Di sisi lain, harga minyak naik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina pada akhir pekan. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kemudian menyatakan Moskow telah melanggar kesepakatan tersebut.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,06% dan ditutup pada US$93,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent menguat 1,84% ke level US$106,65 per barel.
Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam perang melawan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran, menyusul serangan mematikan lainnya di bandara internasional Riyadh.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan Keuangan dan Inflasi Jadi Sorotan
Wall Street sebelumnya mencatatkan kenaikan mingguan berkat reli saham teknologi yang membantu investor mengabaikan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Dow Jones dan S&P 500 masing-masing membukukan kenaikan mingguan kedua dalam tiga pekan terakhir. Sementara itu, Nasdaq mencatatkan penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Investor berharap musim laporan keuangan kuartal III-2026 dapat membantu menopang pasar saham di tengah gejolak Timur Tengah. Secara umum, hasil kinerja perusahaan diperkirakan tetap kuat.
Menurut John Butters dari FactSet, laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 diperkirakan tumbuh 29,6% pada kuartal III-2026.
Jika terealisasi, ini akan menjadi kuartal keempat berturut-turut ketika pertumbuhan laba indeks tersebut melampaui 25%. Kinerja ini didukung pesatnya pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI).
Musim laporan keuangan akan semakin ramai pekan ini, terutama dari sektor perbankan besar. Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo dijadwalkan merilis kinerja keuangan mereka.
Investor juga akan mencermati data inflasi utama AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) September dijadwalkan dirilis pada Rabu, sedangkan Indeks Harga Produsen (PPI) akan diumumkan pada Kamis.
"Semua akan bergantung pada laporan keuangan," kata Tim Holland, Chief Investment Officer di Orion, kepada CNBC International.
Ia menambahkan, sekalipun data inflasi pekan ini lebih tinggi dari perkiraan, pasar kemungkinan menilainya belum cukup untuk menggagalkan langkah Federal Reserve (The Fed).
Bank sentral AS secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya, berdasarkan perangkat CME FedWatch.
"Pada suatu titik, sesuatu akan mengguncang pasar bullish ini. Namun, menurut saya, hal terpenting yang terjadi saat ini adalah pembangunan infrastruktur belanja modal AI," ujarnya.
(mae/mae)