Revolusi Sumba: Diam-Diam Ada yang Berubah di Balik Sabana -Tenunnya
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Di antara hamparan sabana dan perbukitan eksotis Sumba Timur, benang-benang tradisi yang dirajut menjadi kain tenun dan keelokan alam kini menemukan jalan baru menuju dunia. Internet membawa warisan leluhur dan keindahan alam Sumba melampaui batas pulau dan membuka harapan baru bagi kehidupan masyarakatnya.
Keindahan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya terletak pada hamparan padang sabana, perbukitan, dan pantainya yang memukau. Di balik pesona alam tersebut, tersimpan kekayaan budaya yang masih dijaga masyarakat hingga sekarang, salah satunya kain tenun tradisional.
Kain dengan beragam motif dan warna khas Sumba itu bukan sekadar oleh-oleh bagi wisatawan. Bagi masyarakat setempat, tenun merupakan warisan budaya sekaligus sumber penghasilan yang telah diteruskan dari generasi ke generasi.
Bukit Wairinding, Sumba Timur Foto: Elvan Chandra |
Menariknya, perkembangan teknologi kini membawa perubahan pada cara masyarakat menjual hasil kerajinan tersebut. Jika sebelumnya para pedagang banyak mengandalkan wisatawan yang datang langsung, kini pembeli bisa dijangkau melalui ponsel dan media sosial.
Facebook, Instagram, hingga WhatsApp menjadi sarana baru untuk menawarkan kain tenun. Pembelinya pun tidak lagi terbatas pada wisatawan domestik, tetapi dapat menjangkau pasar luar negeri.
Perubahan ini salah satunya didukung oleh perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Sumba Timur. Pembangunan jaringan internet membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, pendidikan, hingga perdagangan dan pariwisata.
Data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026 mencatat sebanyak 96 menara Base Transceiver Station (BTS) milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan.
Kecamatan Tabundung memiliki jumlah BTS BAKTI terbanyak, yakni 10 unit, disusul Paberiwai sebanyak tujuh unit. Sementara itu, Kecamatan Kambata Mapambuhang, Mahu, Pandawai, dan Pinu Pahar masing-masing memiliki enam unit BTS.
Keberadaan infrastruktur telekomunikasi tersebut menjadi salah satu penopang perluasan akses digital bagi masyarakat Sumba Timur, termasuk dalam mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pariwisata.
Meski demikian, pemerintah daerah masih mencatat 26 desa dalam kategori blank spot berdasarkan pemetaan jangkauan telekomunikasi.
Menara BTS BAKTI Komdigi di Desa Ngadu Langgi Foto: Elvan Chandra |
Perluasan infrastruktur digital menjadi salah satu bagian penting dalam membuka peluang ekonomi masyarakat, terutama di daerah yang memiliki potensi wisata dan kerajinan lokal.
Manfaat akses internet tersebut mulai dirasakan oleh para pedagang kain tenun yang kini tidak lagi hanya menunggu kedatangan wisatawan, tetapi juga aktif mencari pembeli melalui dunia digital.
Salah satunya adalah Mama Kiani, pedagang kain tenun yang ditemui CNBC Indonesia di Kampung Raja Prailiu, tidak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur.
Mama Kiani merupakan menantu dari salah satu pemilik usaha kain tenun di kampung adat tersebut. Ketika tim CNBC Indonesia berkunjung, sang pemilik usaha yang merupakan ibu mertuanya justru sedang berada di Jakarta untuk mengikuti pameran kerajinan internasional INACRAFT 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada 7-11 Oktober 2026.
Menariknya, kesempatan mengikuti pameran tersebut tidak terlepas dari pemanfaatan internet untuk memasarkan produk tenun khas Sumba.
Setelah mulai memperkenalkan dan menawarkan kain tenun melalui media sosial, usaha keluarga Mama Kiani mendapat perhatian dari pihak yang kemudian menghubungi mereka dan menawarkan kesempatan untuk mengikuti pameran tersebut.
Dari kampung adat di Sumba Timur, kain tenun buatan masyarakat setempat akhirnya mendapat kesempatan untuk dipamerkan kepada pengunjung yang lebih luas di Jakarta.
Cerita tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana internet dapat membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal.
Mama Kiani bercerita, usaha keluarganya kini tidak hanya mengandalkan wisatawan yang datang langsung. Sejak 2022, mereka mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas penjualan.
"Jualan online sama jualan langsung di rumah," kata Mama Kiani saat berbincang dengan CNBC Indonesia.
"Bisa lewat Instagram, lewat Facebook, sama lewat WA," tambahnya.
Menurut Mama Kiani, berjualan secara online memberikan kesempatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Terlebih, masyarakat kini semakin terbiasa mencari barang dan berbelanja melalui internet.
"Karena jualan online itu bisa menambah penghasilan. Dan kalau sekarang kan apa-apa bisa pakai online," tuturnya.
Bahkan, penjualan kain tenun keluarganya sudah menjangkau pembeli di luar negeri.
"Kalau kakak saya itu biasa kirim sampai Malaysia," katanya.
Bagi pedagang seperti Mama Kiani, kemudahan tersebut menjadi peluang besar. Kain tenun yang dibuat di Sumba Timur kini bisa diperkenalkan kepada pembeli yang mungkin belum pernah datang langsung ke Pulau Sumba.
Produk yang ditawarkan juga beragam, mulai dari kain berukuran besar, sarung, selendang, bandana, gantungan kunci, hingga kalung yang dipadukan dengan kain khas Sumba.
Harga kain tenun bergantung pada bahan, motif, serta proses pembuatannya. Kain yang menggunakan pewarna alami, misalnya, membutuhkan waktu pengerjaan lebih panjang.
Menurut Mama Kiani, proses pembuatan kain dengan pewarna alami bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan. Sementara kain yang menggunakan pewarna campuran dapat diselesaikan dalam sekitar dua hingga tiga minggu.
Penjual Kain Tenun di Kampung Raja Prailiu (Desa/Kampung Adat) Foto: Elvan Chandra |
Proses pembuatan yang panjang menjadi bagian dari nilai kain tenun Sumba. Melalui internet, para pedagang juga memiliki kesempatan memperkenalkan keunikan setiap kain kepada calon pembeli.
Menariknya, manfaat internet tidak hanya terasa ketika mencari pelanggan atau menawarkan produk melalui media sosial. Kehadiran jaringan internet juga mempermudah transaksi jual beli secara langsung.
Hal tersebut dirasakan sendiri oleh tim ketika mencoba membeli kain tenun di tempat Mama Kiani berjualan.
Pembayaran tidak harus dilakukan menggunakan uang tunai. Kami memilih untuk melakukan pembayaran melalui transfer bank menggunakan layanan perbankan digital.
Transaksi tersebut berhasil dilakukan dengan lancar berkat tersedianya akses internet di lokasi.
Pengalaman sederhana tersebut memperlihatkan bagaimana internet membantu aktivitas perdagangan masyarakat, termasuk di kawasan wisata dan kampung adat.
Wisatawan yang datang tidak harus selalu membawa uang tunai dalam jumlah besar untuk berbelanja. Cukup menggunakan ponsel dan layanan perbankan digital, pembayaran dapat diselesaikan secara langsung.
Sementara bagi pedagang, kemudahan tersebut memberikan pilihan pembayaran tambahan untuk melayani pembeli.
Bagi Mama Kiani, internet akhirnya bukan sekadar sarana komunikasi. Kehadirannya membantu memperkenalkan dagangan, membuka peluang mengikuti pameran, memperluas jangkauan pembeli hingga luar negeri, sekaligus mempermudah transaksi sehari-hari.
Ia pun mengakui manfaat internet tidak hanya dirasakan oleh keluarganya, tetapi juga para pedagang lain yang ingin mengembangkan usaha.
"Membantu sekali untuk kami yang jualan seperti ini. Ya, bukan hanya jualan seperti ini saja. Untuk semua orang-orang yang mau jualan, karena apa-apa tinggal diposting," ujarnya.
Tradisi Leluhur Bertemu Dunia Digital
Cerita serupa juga ditemukan CNBC Indonesia di Kampung Adat Praiyawang, Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur.
Kampung ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Bukan hanya menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sumba yang masih mempertahankan adat istiadat leluhurnya.
Salah satu pemandangan yang paling khas adalah keberadaan makam-makam batu berukuran besar di tengah kampung. Makam tersebut menjadi bagian penting dari sejarah keluarga raja dan keturunannya.
Pemakamangan di tengah kampung adat Praiyawang, Desa Rindi, Sumba Timur Foto: Elvan Chandra |
Di sekeliling makam berdiri delapan rumah, termasuk dua rumah adat utama yang dikenal dengan nama Uma Bokul dan Uma Ndiawa.
Uma Bokul merupakan rumah adat besar yang memiliki peran penting bagi masyarakat adat. Sementara Uma Ndiawa berkaitan dengan penghormatan terhadap arwah leluhur.
Masyarakat setempat masih menjaga tradisi Marapu, yakni kepercayaan tradisional masyarakat Sumba yang menempatkan penghormatan terhadap leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Berbagai simbol adat juga tampak pada makam-makam batu. Umbu Borung, salah satu tokoh masyarakat Kampung Praiyawang, menjelaskan bahwa patung buaya melambangkan kebesaran seorang raja, sementara penyu menggambarkan keanggunan seorang perempuan.
Di tengah tradisi yang masih terjaga, aktivitas ekonomi masyarakat juga terus berjalan.
Sebagian besar perempuan di Kampung Praiyawang memiliki keterampilan menenun yang diwariskan dalam keluarga. Sementara kaum laki-laki banyak bekerja sebagai petani dan peternak.
Menariknya, kain tenun yang dihasilkan setiap keluarga memiliki keunikan tersendiri.
"Setiap rumah di Kampung Prai Yawang itu, setiap ibu-ibunya memiliki budaya menenun dan memiliki ciri khasnya masing-masing," cerita Umbu Borung kepada CNBC Indonesia.
Menurutnya, motif kain antarkeluarga terkadang terlihat hampir sama. Namun, ada perbedaan karakter yang bisa dikenali oleh orang-orang yang memahami kain tenun.
Nilai kain yang dihasilkan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk kain dengan kualitas tinggi dan proses pembuatan panjang, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Bahkan, kain tua yang memiliki nilai sejarah tertentu bisa bernilai ratusan juta rupiah.
Kekayaan budaya inilah yang membuat Kampung Praiyawang menarik perhatian para pencinta tekstil, termasuk dari luar negeri.
Umbu Borung mengatakan kelompok pencinta tekstil asal Eropa datang ke kampung tersebut untuk mencari kain-kain khas Sumba.
Di tengah daya tarik budaya tersebut, internet mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat disana.
Sejak 2025, Kampung Adat Praiyawang telah mendapatkan fasilitas akses internet melalui program BAKTI Komdigi.
Fasilitas Akses Internet BAKTI di Kampung Adat Praiyawang Foto: Elvan Chandra |
Kehadiran fasilitas tersebut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama untuk berkomunikasi dan membantu aktivitas penjualan kain tenun.
"Dengan hadirnya BAKTI AKSI itu sangat membantu sekali," ujar Umbu Borung.
Menurutnya, fasilitas akses internet yang tersedia membuat masyarakat lebih mudah mengakses internet untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Internet juga mulai digunakan sebagai sarana pemasaran. Facebook menjadi salah satu platform yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat Sumba, disusul Instagram dan TikTok.
"Biasanya Facebook. Facebook yang biasanya orang Sumba sering gunakan," katanya.
Seiring semakin mudahnya akses internet, para pedagang kain tenun di Kampung Adat Praiyawang juga mulai melirik platform perdagangan elektronik atau e-commerce sebagai tempat untuk berjualan, salah satunya TikTok Shop.
Melalui platform tersebut, para pedagang memiliki peluang untuk memperkenalkan dan menjual kain tenun khas Sumba kepada konsumen yang lebih luas, tanpa harus mengandalkan wisatawan yang datang langsung ke kampung.
Umbu Borung mengatakan pemanfaatan TikTok Shop oleh masyarakat setempat memang masih dalam tahap awal. Saat ini, Facebook masih menjadi pilihan utama untuk memasarkan dagangan, sementara penggunaan Instagram dan TikTok mulai berkembang secara perlahan.
"Pelan-pelan. Tapi belum banyak sih. Yang kebanyakan di Facebook itu, karena orang Sumba pada gunakan aplikasi Facebook," tuturnya.
Meski demikian, penjualan melalui Instagram juga mulai memberikan hasil. Umbu Borung memperkirakan terdapat sekitar satu hingga dua pembelian yang berasal dari Instagram dalam sebulan.
Sebagian calon pembeli yang awalnya mengetahui produk melalui media sosial kemudian memilih melanjutkan komunikasi langsung melalui WhatsApp.
Cara berjualan seperti ini memungkinkan hubungan antara penjual dan pembeli tetap terjalin meski wisatawan sudah meninggalkan kampung.
Adapun, aktivitas jual beli melalui e-commerce di Sumba Timur juga mulai menunjukkan adanya perkembangan.
Compas mencatat nilai penjualan melalui e-commerce di wilayah tersebut mencapai Rp2,57 juta, dengan total enam unit barang terjual.
Meski jumlahnya masih kecil, nilai penjualan tercatat meningkat hingga 99,2%, sementara jumlah barang yang terjual naik 20%.
Sumba Timur juga berada di urutan keenam dari 16 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masuk dalam pemantauan Compas, dengan pangsa pasar sebesar 0,8% dari total penjualan di tingkat provinsi.
Barang yang terjual antara lain minyak cendana khas NTT dan parfum.
Data ini mencakup kategori produk kecantikan, makanan dan minuman, kebutuhan ibu dan bayi, serta kesehatan.
Sebagai catatan, Compas.co.id merupakan penyedia data e-commerce yang menghimpun data penjualan dari empat marketplace besar di Indonesia, yakni Shopee, Tokopedia, Blibli, dan TikTok.
Dengan adanya akses internet, para pedagang kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menjual barang, baik kepada wisatawan yang datang langsung maupun pembeli dari luar daerah.
Kemudahan internet juga dirasakan oleh Rambu Magdalena, perempuan berusia 42 tahun yang sehari-hari membuat dan menjual kain tenun di Kampung Adat Praiyawang.
Ia mulai belajar menenun sejak berusia sekitar 20 tahun. Keterampilan tersebut diperoleh dari keluarganya dan kini juga diajarkan kepada anak-anaknya.
Tradisi menenun memang masih menjadi bagian penting dari kehidupan perempuan di kampung tersebut.
Rambu mengatakan wisatawan yang datang berasal dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara. Kehadiran wisatawan menjadi salah satu sumber pembeli kain tenun yang dihasilkan masyarakat.
Namun, kini Ibu Rambu tidak hanya mengandalkan penjualan secara langsung. Ia juga memanfaatkan Facebook untuk menawarkan kain tenunnya.
Ketika ditanya apakah sudah ada pembeli dari Facebook, Rambu mengaku sudah mulai mendapatkan pesanan.
Selain membantu penjualan, internet memberikan kemudahan lain yang terasa langsung dalam aktivitas perdagangan, yakni pembayaran secara digital.
"Kalau tamu-tamu yang tidak bawa uang cash, dia bisa transfer," ujar Rambu kepada CNBC Indonesia.
Aktivitas menenun warga kampung adat Praiyawang Foto: Elvan Chandra |
Kemudahan ini cukup penting bagi pedagang di kawasan wisata. Wisatawan tidak harus selalu menyiapkan uang tunai untuk membeli kain atau kerajinan yang mereka sukai.
Selama memiliki akses internet dan layanan perbankan yang mendukung, pembayaran dapat dilakukan melalui transfer.
Bagi penjual, pilihan pembayaran tersebut membantu mempermudah transaksi. Sementara bagi pembelli, berbelanja produk lokal menjadi lebih praktis.
Kehadiran internet akhirnya bukan hanya soal membuka media sosial atau mencari informasi, tetapi juga membantu aktivitas ekonomi yang dijalankan masyarakat sehari-hari.





