Ketika Sains Mengabadikan Nama, Sebuah Pelajaran dari Pulau Rote NTT

Tri Eko Wahjono,  CNBC Indonesia
13 August 2026 17:47
Tri Eko Wahjono
Tri Eko Wahjono
Tri Eko Wahjono merupakan Ketua Tim Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah pada Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia memiliki pengalaman dalam pengelolaan koleksi ilmiah dan layanan koleksi Ilmiah. Fokus kerjanya meliputi pengu.. Selengkapnya
Burung 3. (Dok. Penulis)
Foto: Burung endemik asal Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Dokumentasi Penulis)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Bagaimana jika nama seseorang diabadikan menjadi nama seekor burung? Itulah yang terjadi pada Iriana Joko Widodo, yang namanya diabadikan dalam nama ilmiah Myzomela irianawidodoae, burung endemik Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Ditetapkan sebagai spesies tersendiri dan diperkenalkan secara resmi pada tahun 2017, kisah Myzomela irianawidodoae bukan sekadar tentang sebuah nama, tetapi juga tentang kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia serta kerja para ilmuwan dalam mengungkap dan mendokumentasikan kekayaan alam Nusantara.

Nama yang Menjadi Abadi
Dalam ilmu pengetahuan, setiap spesies yang dinyatakan berbeda dari spesies lainnya akan diberi nama ilmiah sebagai identitas resmi yang digunakan oleh para ilmuwan di seluruh dunia. Nama irianawidodoae merupakan bentuk penghormatan kepada Iriana Joko Widodo, yang saat itu menjabat sebagai Ibu Negara Republik Indonesia.

Namun, di balik sebuah nama ilmiah terdapat proses penelitian yang panjang. Para peneliti mengamati burung yang hidup di Pulau Rote dan membandingkannya dengan kerabat dekatnya. Salah satu peneliti yang terlibat adalah Dr. Dewi Malia Prawiradilaga, peneliti LIPI yang kini menjadi bagian dari BRIN, bersama sejumlah peneliti Indonesia dan mitra dari Singapura.

Melalui pengamatan terhadap bentuk, warna, suara, dan karakter lainnya, para peneliti menemukan sejumlah perbedaan yang menunjukkan bahwa burung dari Rote tersebut merupakan spesies tersendiri. Kisah Myzomela irianawidodoae pun bukan sekadar tentang sebuah nama. Di baliknya terdapat cerita tentang kekayaan hayati Pulau Rote, kerja para peneliti, serta pentingnya menyimpan bukti ilmiah dari setiap penemuan dalam koleksi ilmiah.

Pulau Kecil dengan Kekayaan Besar
Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu pulau paling selatan Indonesia. Pulau ini dikenal dengan topi tradisional Ti'i Langga, hamparan savana, bentang alam yang relatif kering, serta lingkungan pulau yang memiliki karakter khas. Di balik kondisi alamnya yang unik, Rote menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang menarik, termasuk berbagai jenis burung dengan penyebaran terbatas.

Salah satunya adalah burung dari genus Myzomela. Para peneliti menemukan populasi Myzomela di Rote yang memiliki karakteristik berbeda dari kerabatnya di wilayah lain. Perbedaan inilah yang kemudian mendorong penelitian lebih lanjut hingga akhirnya burung tersebut ditetapkan sebagai spesies tersendiri, yaitu Myzomela irianawidodoae.

Burung Kecil yang Ternyata Berbeda
Sekilas, burung Myzomela dari Pulau Rote tampak seperti kerabatnya yang hidup di Pulau Sumba, yaitu Myzomela dammermani. Karena kemiripan tersebut, burung dari Rote sebelumnya dianggap sebagai jenis yang sama. Bahkan, keberadaannya telah diamati sejak tahun 1990.

Para peneliti kemudian mengamati burung ini lebih teliti. Mereka membandingkan bentuk dan warna bulu serta suara burung dari Rote dengan kerabatnya dari Sumba. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten, terutama pada pola bulu dan karakter suara.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi para peneliti untuk menyatakan bahwa burung dari Rote merupakan spesies yang berbeda. Pada tahun 2017, burung tersebut diperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan dengan nama Myzomela irianawidodoae atau Rote Myzomela.



Burung 2. (Dok. Penulis)Gambar: Myzomela irianawidodoae (Koleksi ilmiah Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).



Di Balik Penemuan Spesies Baru
Sebuah penemuan spesies baru tidak terjadi dalam waktu singkat. Di balik Myzomela irianawidodoae terdapat kerja bersama para peneliti Indonesia dan Singapura yang mengamati, mengumpulkan data, serta membandingkan burung dari Pulau Rote dengan kerabat dekatnya.

Penelitian ini melibatkan Dewi Malia Prawiradilaga, Pratibha Baveja, Suparno, Hidayat Ashari, Nathaniel Sheng Rong Ng, Chyi Yin Gwee, Philippe Verbelen, dan Frank Erwin Rheindt. Tim Indonesia berasal dari LIPI, sedangkan tim Singapura berasal dari National University of Singapore.

Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa penelitian keanekaragaman hayati tidak hanya membutuhkan pengamatan di lapangan. Para peneliti perlu menggabungkan berbagai informasi, membandingkan temuan dengan koleksi dan data yang telah tersedia, serta memastikan bahwa perbedaan yang ditemukan benar-benar menunjukkan adanya spesies yang berbeda.

Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 2017 dalam jurnal Treubia, jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh LIPI. Publikasi ini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan Myzomela irianawidodoae sebagai spesies baru bagi dunia ilmu pengetahuan.

Di balik seekor burung kecil dari Pulau Rote ternyata tersimpan cerita tentang ketekunan, kerja sama, dan proses ilmiah yang panjang. Penemuan spesies bukan sekadar tentang menemukan sesuatu yang baru, tetapi tentang menghadirkan bukti ilmiah yang memperkaya pengetahuan kita mengenai keanekaragaman hayati Indonesia.

Dari Lapangan ke Koleksi Ilmiah
Seekor burung kecil yang terbang bebas di Pulau Rote akhirnya meninggalkan jejak yang tidak akan hilang. Beberapa spesimennya disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah - BRIN Cibinong, sebagai bukti ilmiah bahwa Myzomela irianawidodoae benar-benar ada.]

Widyasatwaloka. (Dok. Penulis)Foto: Widyasatwaloka. (Dokumentasi Penulis)

Salah satunya ditetapkan sebagai holotipe, yaitu spesimen utama yang menjadi acuan dalam mengenali dan memberi nama suatu spesies, dengan nomor MZB.Ornit.34.650. Kelak, ketika burung itu mungkin telah berubah jumlahnya, habitatnya menyusut, atau bahkan tidak lagi ditemukan di alam, spesimen tersebut tetap menjadi saksi tentang keberadaannya.

Inilah kekuatan koleksi ilmiah. Ia tidak hanya menyimpan tubuh seekor burung, tetapi juga menyimpan sepotong sejarah kehidupan Indonesia-sebuah rekaman yang memungkinkan ilmuwan generasi mendatang kembali mempelajari apa yang pernah hidup di Nusantara.



Burung 1. (Dok. Penulis)Foto: Myzomela irianawidodoae (Koleksi Ilmiah Museum Zoologicum Bogoriense, BRIN)



Mengapa Spesies Baru Penting?
Menemukan spesies baru bukan sekadar menambah satu nama dalam daftar keanekaragaman hayati. Setiap spesies merupakan bagian dari kekayaan alam yang memiliki peran dalam ekosistem dan menyimpan informasi penting tentang kehidupan di suatu wilayah.

Bagi Indonesia, penemuan seperti Myzomela irianawidodoae juga menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan hayati yang belum sepenuhnya kita kenali. Karena itu, penelitian, dokumentasi, dan penyimpanan bukti ilmiah menjadi penting agar keberadaan spesies tersebut dapat terus dipelajari dan menjadi dasar bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Myzomela irianawidodoae bukan sekadar nama seekor burung dari Pulau Rote. Ia menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati Indonesia begitu berharga untuk terus diteliti, didokumentasikan, dan dilestarikan. Di balik seekor burung kecil tersimpan sebuah pesan besar: ketika kita menjaga satu spesies, kita sedang menjaga bagian dari sejarah kehidupan Indonesia.


(miq/miq)
Next Article Selembar Daun Berusia 87 Tahun yang Masih Bercerita