Selembar Daun Berusia 87 Tahun yang Masih Bercerita

Tri Eko Wahjono,  CNBC Indonesia
07 August 2026 17:50
Tri Eko Wahjono
Tri Eko Wahjono
Tri Eko Wahjono merupakan Ketua Tim Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah pada Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia memiliki pengalaman dalam pengelolaan koleksi ilmiah dan layanan koleksi Ilmiah. Fokus kerjanya meliputi pengu.. Selengkapnya
Foto: Spesimen herbarium pegagan koleksi Herbarium Bogoriense yang dikoleksi oleh S. Bloembergen pada 12 Juli 1939 dari kawasan Danau Lindu, Sulawesi Tengah. (Dokumentasi Istimewa).
Foto: Spesimen herbarium pegagan koleksi Herbarium Bogoriense yang dikoleksi oleh S. Bloembergen pada 12 Juli 1939 dari kawasan Danau Lindu, Sulawesi Tengah. (Dokumentasi Istimewa).

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pintu lemari koleksi itu terbuka perlahan. Di dalamnya tersusun rapi ribuan map berwarna cokelat, masing-masing menyimpan tumbuhan yang telah lama dikeringkan. Sekilas, tidak ada yang tampak istimewa. Hanya lembaran daun, bunga, dan buah yang ditata dan dipres di atas kertas putih dengan label informasi di sudut kanan bawah. Namun, satu spesimen menarik perhatian.



Periset. (Dok. Istimewa)Foto: Spesimen herbarium Centella asiatica (pegagan) koleksi Herbarium Bogoriense yang dikoleksi oleh S. Bloembergen pada 12 Juli 1939 dari kawasan Danau Lindu, Sulawesi Tengah. (Dokumentasi Istimewa).



Tanaman pegagan (Centella asiatica) itu telah kehilangan warna hijaunya. Batangnya tampak kering dan daunnya berwarna kecokelatan dimakan usia. Akan tetapi, justru label yang menempel di sampingnya membuat siapa pun berhenti sejenak: 12 Juli 1939.

Tahukah Anda bahwa selembar daun yang dikoleksi sebelum Indonesia merdeka masih mampu membantu penelitian pada abad ke-21? Tidak banyak benda yang dapat bertahan selama hampir satu abad sambil terus menghasilkan pengetahuan baru. Salah satunya adalah spesimen herbarium.

Spesimen ini menyimpan informasi taksonomi, lokasi, habitat, kolektor, dan waktu pengambilan yang tetap bernilai hingga puluhan tahun kemudian. Tanggal tersebut ditulis hampir sembilan dekade yang lalu, ketika Indonesia belum merdeka.

Delapan puluh tujuh tahun kemudian, tumbuhan yang sama masih dimanfaatkan sebagai sumber informasi ilmiah. Inilah keajaiban dan nilai penting herbarium dalam penelitian Botani. Bagi masyarakat, ia mungkin hanya daun kering. Bagi ilmuwan, ia adalah dokumen sejarah yang merekam kondisi alam dan keragaman tumbuhan pada ruang dan waktu tertentu.

Ketika ahli botani S. Bloembergen mengumpulkan spesimen ini pada Juli 1939, kemungkinan ia harus menempuh perjalanan panjang menuju kawasan Danau Lindu yang saat itu masih didominasi hutan alami. Ia meyakini bahwa hampir satu abad kemudian, spesimen yang dikoleksinya akan terus dipelajari dan menjadi sumber informasi ilmiah bagi generasi peneliti berikutnya.

Setiap spesimen yang dipres dan disimpan membawa identitas spesies, lokasi, habitat, nama kolektor, serta tanggal pengambilan. Ketika habitat berubah atau suatu jenis menjadi langka, koleksi herbarium sering kali menjadi satu-satunya bukti autentik bahwa spesies tersebut pernah hidup di lokasi tertentu. Karena itulah herbarium sering disebut sebagai memori dan dokumentasi keanekaragaman hayati yang valid.

Bahkan ketika suatu habitat telah berubah akibat pembangunan, kebakaran hutan, atau perubahan iklim, herbarium sering kali menjadi satu-satunya bukti autentik bahwa suatu spesies pernah hidup di lokasi tersebut. Dengan kata lain, herbarium menyimpan jejak sejarah yang seringkali tidak dapat diulang.

Perjalanan Herbarium Bogoriense dimulai pada tahun 1844 ketika Johannes Elias Teijsmann diangkat sebagai kurator Kebun Raya Bogor. Dalam menjalankan tugasnya, Teijsmann mulai mengumpulkan, mengawetkan, dan mendokumentasikan spesimen tumbuhan secara sistematis sebagai bahan rujukan ilmiah.

Kegiatan tersebut kemudian menjadi fondasi bagi terbentuknya Herbarium Bogoriense sebagai institusi yang didedikasikan untuk pengelolaan koleksi spesimen tumbuhan. Dari koleksi sederhana, herbarium ini berkembang menjadi salah satu pusat koleksi tumbuhan terbesar di Asia Tenggara. Selama lebih dari satu setengah abad, ribuan ekspedisi telah mendokumentasikan flora Nusantara dan menghasilkan jutaan spesimen yang kini menjadi bagian dari koleksi ilmiah nasional .

Nilai herbarium tidak terletak pada banyaknya lemari, melainkan pada informasi yang menyertai setiap spesimen. Daun, bunga, dan buah yang tampak sederhana dapat membantu identifikasi spesies, menjadi pembanding ketika ditemukan jenis baru, melacak perubahan persebaran tumbuhan, hingga mendukung penelitian tentang perubahan lingkungan.

Sebagai contoh, apabila seorang peneliti menemukan tumbuhan yang diduga merupakan jenis baru, spesimen tersebut harus dibandingkan dengan koleksi herbarium yang telah ada dan beberapa publikasi yang telah diterbitkan sebelumnya. Tanpa koleksi pembanding, identifikasi akan menjadi jauh lebih sulit dan berpotensi menimbulkan kesalahan ilmiah.

Seiring berkembangnya teknologi, koleksi herbarium juga dimanfaatkan melalui digitalisasi, basis data daring, analisis spasial, dan pendekatan molekuler sehingga nilainya terus meningkat. Saat ini ribuan spesimen herbarium telah didigitalisasi dalam bentuk citra beresolusi tinggi.

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) mulai membuka peluang baru untuk membantu identifikasi spesies melalui analisis bentuk daun, mempercepat pengelolaan data koleksi, hingga memperluas akses peneliti terhadap koleksi ilmiah tanpa harus memindahkan spesimen asli.

Di BRIN, koleksi herbarium di Herbarium Bogoriense dikelola sebagai bagian dari infrastruktur riset nasional oleh Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah. Pengelolaan tersebut meliputi akuisisi, preservasi, dokumentasi, digitalisasi, validasi data, serta penyediaan layanan bagi peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat. Dengan demikian, koleksi tidak hanya tersimpan, tetapi terus menghasilkan pengetahuan baru.

Setiap spesimen yang tersimpan di Herbarium Bogoriense bukan sekadar contoh tumbuhan, tetapi merupakan rekaman ilmiah yang menyimpan informasi ruang dan waktu. Nilainya justru semakin meningkat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Koleksi ilmiah tidak hanya bermanfaat bagi ahli botani, tetapi juga digunakan oleh peneliti di bidang lain, seperti kehutanan, ekologi, pertanian, farmasi, siswa dan mahasiswa, pemerintah, hingga sektor industri yang memerlukan informasi mengenai identitas tumbuhan, persebaran spesies, dan potensi sumber daya hayati Indonesia.



Periset. (Dok. Istimewa)Foto: Koleksi ilmiah yang tersimpan di Herbarium Bogoriense digunakan oleh peneliti sebagai sumber ilmu pengetahuan. (Dokumentasi Istimewa)



Bayangkan seseorang mengkoleksi sebatang pegagan di Danau Lindu pada pagi hari tanggal 12 Juli 1939. Setelah dipres dengan hati-hati, tumbuhan itu dibawa menempuh perjalanan panjang menuju Herbarium Bogoriense.

Delapan puluh tujuh tahun telah berlalu. Kolektornya telah lama tiada, hutan tempat tumbuhan itu tumbuh mungkin telah berubah, tetapi spesimen tersebut masih tetap "berbicara".

Ia tidak lagi hidup sebagai tumbuhan.

Ia hidup sebagai pengetahuan.

Dan selama Herbarium Bogoriense tetap menjaganya, kisah tentang kekayaan flora Indonesia akan terus menginspirasi penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang.


(miq/miq)
Next Article Ketika Intermediasi Keuangan Berubah Wajah