30 Tahun Erajaya: Menemani Indonesia dari Era SMS hingga Revolusi AI
Memasuki dekade 2010-an, fungsi ponsel berkembang pesat. Smartphone tidak lagi sekedar alat komunikasi, tetapi mulai menggantikan kamera, pemutar musik, navigasi, hiburan hingga sebagian fungsi komputer. Seiring itu, kebutuhan konsumen ikut meluas ke aplikasi, aksesori dan berbagai perangkat pendukung.
Erajaya tumbuh mengikuti perubahan tersebut.
Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2011, kemudian mengakuisisi iBox pada 2012 untuk memperkuat jaringan ritel produk Apple di Indonesia. Ekspansi berlanjut ke Malaysia melalui akuisisi CG Computers yang mengoperasikan Switch pada 2014.
Memasuki pertengahan dekade, ekosistem gadget semakin luas dengan hadirnya smartwatch, perangkat Internet of Things (IoT), audio hingga perangkat penunjang produktivitas. Erajaya merespons tren tersebut dengan meluncurkan Urban Republic pada 2016, memperluas portofolio dari perangkat komunikasi ke teknologi dan gaya hidup.
Perubahan tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga cara konsumen berbelanja. Pada 2018, Erajaya mulai menghubungkan jaringan gerai fisiknya dengan kanal daring melalui model omnichannel, mengikuti konsumen yang semakin terbiasa berpindah antara pengalaman belanja offline dan online.
Ibox. (Dok Erajaya) Foto: Ibox. (Dok Erajaya) |
Dalam satu dekade, ponsel telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem digital yang jauh lebih besar. Erajaya pun bergerak bersamanya, dari distribusi dan ritel smartphone menuju jaringan teknologi dan gaya hidup yang semakin luas.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, tingkat penetrasi internet pada 2025 sudah menembus 77,63%. Penetrasi internet juga sampai ke pelosok.
Semakin besarnya peran telepon dan internet dalam kehidupan sehari-hari tercermin dari porsi pengeluaran penduduk.
Data BPS menunjukkan pengeluaran per kapita tercatat Rp15.925 pada 2010, kemudian Rp13.995 pada 2020 dan turun lagi menjadi Rp13.452 pada 2025. Artinya, pengeluaran untuk pulsa cenderung menurun.
Akses internet Foto: BPS |
Sebaliknya, pengeluaran internet meningkat sangat tajam, dari Rp978 per kapita pada 2010 menjadi Rp20.440 pada 2020 dan mencapai Rp33.667 pada 2025.
Dengan demikian, internet semakin mengambil porsi lebih besar dalam pengeluaran komunikasi masyarakat, sementara ketergantungan pada pulsa semakin berkurang.
Pandemi Menjadi Era Gadget yang Baru
Memasuki 2020, pandemi Covid-19 mengubah cara masyarakat bekerja, belajar dan beraktivitas. Ponsel, laptop dan perangkat elektronik yang sebelumnya banyak digunakan untuk komunikasi dan hiburan berubah menjadi penopang utama aktivitas sehari-hari.
Lonjakan kebutuhan terhadap perangkat digital ikut mengangkat kinerja Erajaya, dengan laba yang meningkat tajam sepanjang 2020 hingga 2021.
Pada saat yang sama, perubahan pola hidup selama pandemi membuka ruang bagi kategori konsumsi yang lebih luas.
Erajaya kemudian mulai memperluas bisnis ke olahraga, athleisure, aktivitas luar ruang, elektronik konsumen hingga peralatan rumah tangga.
Pada 2021, arah baru tersebut semakin terstruktur melalui Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, serta Erajaya Food & Nourishment.
Dari titik ini, pertumbuhan Erajaya tidak lagi hanya mengikuti siklus perkembangan gadget, tetapi mulai bergerak mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin beragam.
Dari Gadget ke Lifestyle, Erajaya Bawa Lebih Banyak Brand Global
Selepas pandemi, pola konsumsi masyarakat semakin melebar. Konsumen tidak hanya mencari produk berdasarkan fungsi, tetapi juga pengalaman, gaya hidup, olahraga, makanan, minuman hingga mobilitas.
Perubahan itu ikut membuka ruang bagi semakin banyak merek global untuk masuk ke pasar Indonesia. Bagi konsumen lokal, brand yang sebelumnya hanya ditemui saat bepergian ke luar negeri mulai semakin mudah diakses di dalam negeri.
Erajaya kemudian memperluas portofolionya mengikuti perubahan tersebut. Pada 2021, Paris Baguette membuka gerai pertamanya di Indonesia.
Setahun kemudian, portofolio olahraga dan athleisure berkembang melalui JD Sports, Urban Adventure dan ASICS, sementara kategori elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga diperluas melalui Erablue serta erafone & more.
Pada 2022, perusahaan juga membentuk joint venture PT Mitra Belanja Anda untuk membuka gerai GrandLucky Superstore di Fresh Market PIK.
Grandlucky. (Dok Erajaya) Foto: Grandlucky. (Dok Erajaya) |
Ekspansi berlanjut pada 2023 melalui pembukaan Apple Premium Partner pertama di Indonesia sekaligus peresmian iBox ke-100. Pada 2024, Erajaya membawa Bacha Coffee, serta membuka MST Golf Arena pertama di Indonesia.
Setahun kemudian, pilihan konsumen semakin beragam. Erajaya membawa kendaraan listrik XPENG ke Indonesia, membuka jaringan CHAGEE, menghadirkan perangkat premium HONOR, serta memperluas bisnis olahraga melalui Wilson dan ANTA.
Ekspansi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam model bisnis Erajaya. Perusahaan tidak lagi hanya mengikuti siklus pergantian gadget, tetapi mulai membangun portofolio berdasarkan tren konsumsi yang lebih luas yakni dari teknologi, olahraga, makanan dan minuman hingga kendaraan listrik.
Ekspansi berlanjut pada 2026. Erajaya menjadi mitra dan distributor resmi Belkin di Indonesia, membawa GENTLEWOMAN ke pasar domestik, serta memperluas jaringan sejumlah brand seperti DJI, Shokz dan MST Golf ke berbagai kota.
Gentlewoman. (Dok Erajaya) Foto: Gentlewoman. (Dok Erajaya) |
Erajaya Food & Nourishment (EFN) akan memperluas portofolio produknya dengan meluncurkan dua merek baru pada tahun ini, yakni I'm donut? dan Oriental Kopi.
Skalanya pun terus membesar. Pada semester I-2026, jumlah gerai Erajaya telah mencapai 2.506, sementara anggota Eraspace meningkat menjadi 18,4 juta dari 1,4 juta pada 2019.
Tiga dekade setelah berdiri, Erajaya semakin bergerak dari distributor perangkat telekomunikasi menjadi ekosistem ritel dan lifestyle. Perubahannya mengikuti kebutuhan konsumen Indonesia yang juga terus berkembang yakni lebih digital, lebih terhubung, dan semakin terbuka terhadap brand serta pengalaman global.
(mae/mae)



