Saham Blue Chip RI Ngamuk di Agustus, Siapa Paling Perkasa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah saham berkapitalisasi besar mencatatkan kenaikan harga dua digit dalam satu bulan terakhir. Namun, tidak seluruh kenaikan tersebut didukung oleh masuknya dana investor asing.
Dari sekitar 900-an emiten ini, emiten harus berkapitalisasi pasar di atas Rp20 triliun dan naik lebih dari 15% dalam kurun waktu satu bulan terakhir sejak hari Rabu (26/8/2026).
Selain itu emiten yang masuk ke dalam daftar HSC juga tida diinklusikan ke dalam pemilihan emiten tersebut karena dinilai terlalu volatil dan beresiko mengalami penurunan dan kenaikan tajam akibat konsentrasi kepemilikan saham yang cukup tinggi oleh pemilik usaha.
Dari sepuluh kandidat saham blue chip pilihan, hanya empat saham mencatatkan foreign net buy lebih dari Rp1 miliar, yakni TINS (PT Timah Tbk), ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk), GGRM (PT Gudang Garam Tbk), dan INKP (PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk).
Sementara ISAT (PT Indosat Tbk), AADI (PT Adaro Andalan Indonesia Tbk), NCKL (PT Trimegah Bangun Persada Tbk), TAPG (PT Triputra Agro Persada Tbk), EXCL (PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk), dan KLBF (PT Kalbe Farma Tbk) tidak lolos penyaringan foreign net buy di atas Rp1 miliar.
Perhitungan dalam dolar AS menggunakan asumsi kurs US$1 sebesar Rp17.700.
Dari sepuluh saham tersebut, pembahasan difokuskan pada ISAT, EXCL, NCKL, dan TINS. Keempat saham ini menawarkan empat cerita berbeda, yakni pertumbuhan bisnis telekomunikasi, sinergi merger, index rebalancing, dan kenaikan harga komoditas.
ISAT menjadi saham dengan performa satu bulan terbaik. Menariknya, kenaikan sekitar 30,77% tersebut tidak dibarengi foreign net buy yang material.
Pendorong terpenting ISAT adalah kenaikan ARPU (Average Revenue Per User)Â dan trafik data. Jumlah pelanggan tidak tumbuh signifikan, tetapi pendapatan yang diperoleh dari setiap pelanggan meningkat.
Kondisi tersebut menunjukkan ISAT mulai memiliki pricing power dan mampu melakukan monetisasi trafik data dengan lebih baik. Kenaikan ARPU sebesar 17,3% juga berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan trafik data 19,9%.
Laba bersih melonjak 84,5%, tetapi sebagian berasal dari keuntungan satu kali terkait monetisasi FiberCo. Setelah keuntungan tersebut dikeluarkan, laba bersih inti masih tumbuh sekitar 36%.
Dengan demikian, kinerja ISAT tetap kuat meski pertumbuhan laba headline terlihat lebih tinggi akibat keuntungan nonberulang.
Dana transaksi FiberCo memberikan tambahan likuiditas bagi ISAT. Namun, manajemen juga menaikkan rencana belanja modal dari sekitar Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun untuk pengembangan 5G dan cloud.
Artinya, pasar tidak hanya menilai kinerja saat ini, tetapi juga memasukkan ekspektasi pertumbuhan bisnis digital pada periode berikutnya.
EXCL menawarkan cerita yang berbeda dari ISAT. Kenaikan saham EXCL lebih banyak mencerminkan optimisme terhadap hasil merger XL Axiata dan Smartfren.
Sekitar 92% site telah terintegrasi. Gross synergy juga telah mencapai US$153 juta atau sekitar Rp2,71 triliun.
Jika target sinergi US$250 juta sampai US$300 juta tercapai, manfaat ekonomi merger dapat mencapai Rp4,43 triliun sampai Rp5,31 triliun.
Kenaikan blended ARPU menjadi Rp47.100 menunjukkan proses monetisasi pelanggan mulai membaik. Normalized EBITDA dan normalized net profit juga mencatatkan pertumbuhan kuat.
Namun, EXCL masih membukukan rugi bersih sekitar Rp994 miliar secara akuntansi. Beban penyusutan, biaya integrasi, belanja modal, dan tingkat utang masih menjadi tantangan.
Rasio debt-to-EBITDA sekitar 5,2 kali menunjukkan proses merger membawa risiko neraca yang tidak kecil. Karena itu, pasar masih menunggu apakah sinergi benar-benar mampu mengurangi biaya dan memperbaiki arus kas.
NCKL mendapatkan dua katalis secara bersamaan, yakni pertumbuhan laba bersih dan masuknya saham tersebut ke indeks LQ45 serta IDX80.
Perubahan indeks dapat memicu pembelian dari reksa dana, ETF, dan manajer investasi yang menggunakan indeks sebagai acuan. Pembelian tersebut tidak harus berasal dari investor asing karena institusi domestik juga melakukan penyesuaian portofolio.
Dari sisi laporan keuangan, pendapatan tumbuh 21,3% dan laba bersih naik 41,7%. Namun, laba bruto dan EBITDA justru mengalami penurunan.
Beban pokok penjualan meningkat lebih tinggi daripada pendapatan. Hal tersebut menunjukkan adanya tekanan biaya dan penurunan margin pada operasi utama.
Pertumbuhan laba bersih juga ditopang kontribusi entitas asosiasi dan komponen lainnya. Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat pertumbuhan laba bersih sebesar 41,7%.
Indikator yang perlu diperhatikan adalah harga nikel, laba bruto, EBITDA, beban royalti, biaya produksi, serta perkembangan segmen pengolahan.
TINS mempunyai kombinasi katalis paling komplet. Harga timah naik, pasar global mengalami defisit pasokan, pendapatan dan laba melonjak, margin membaik, serta investor asing melakukan net buy lebih dari Rp1 triliun.
Permintaan timah mendapat dukungan dari industri elektronik dan semikonduktor. Sekitar 50% konsumsi timah global digunakan untuk solder.
Perkembangan artificial intelligence, pusat data, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan infrastruktur kelistrikan berpotensi meningkatkan permintaan timah dalam jangka panjang.
Kenaikan harga telah mengalir langsung ke laporan keuangan. Pendapatan TINS meningkat 247%, EBITDA tumbuh 363%, dan laba bersih semester pertama telah mencapai 169% dari target setahun penuh.
Namun, persediaan timah di gudang LME meningkat 58,36%. Kondisi tersebut menunjukkan pasokan mulai mengalami pemulihan dan dapat memicu normalisasi harga timah.
Foreign net buy yang besar juga meningkatkan risiko crowded trade. Jika harga timah melemah dan investor asing berbalik melakukan penjualan, koreksi harga saham dapat berlangsung lebih cepat.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)