MARKET DATA
Newsletter

Cadangan Devisa Jadi Sorotan, Risalah The Fed Bayangi Rupiah & IHSG

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
07 October 2026 06:20
Papan di atas lantai perdagangan Bursa Efek New York menunjukkan angka penutupan rata-rata industri Dow Jones, Jumat, 11 April 2025. (AP Photo/Richard Drew)
Foto: Ilustrasi/ Rupiah dan IHSG/ Aristya Rahadian

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street pesta pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang masa pada perdagangan Selasa, didorong oleh penguatan sejumlah saham teknologi utama serta penurunan imbal hasil US Treasury.

Indeks pasar luas tersebut naik 0,58% dan mencatat rekor penutupan di level 7.818,93. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 253,38 poin atau 0,49% ke level 51.521,28.

Adapun Nasdaq Composite naik 0,45% dan ditutup di rekor 27.599,79. Indeks yang didominasi saham teknologi tersebut juga sempat menyentuh rekor tertinggi baru sepanjang perdagangan.

 

Penguatan pasar turut ditopang oleh kenaikan saham-saham produsen chip. Marvell Technology melonjak 5,8%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) naik hampir 3%, seiring meningkatnya optimisme investor terhadap prospek kedua perusahaan. Saham Broadcom juga menguat 3,7%.

"Semua orang mengatakan pasar sedang naik. AI adalah tempat yang harus dituju," ujar Stephen Kolano, Chief Investment Officer di Integrated Financial Partners, dikutip dari CNBC International.

Menurutnya, investor saat ini cenderung mengabaikan kekhawatiran inflasi, terutama yang berkaitan dengan harga minyak dan solar.

Harga minyak ditutup relatif stabil. Brent naik 0,26% menjadi US$100,58 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) hanya naik 0,01% menjadi US$89,44 per barel.

Kolano juga menilai tingkat suku bunga secara fundamental sudah berada di level yang sesuai.

 

Imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 3 basis poin menjadi 5,281%, sedangkan imbal hasil obligasi 30 tahun terakhir relatif tidak berubah di 5,655%. Keduanya pada Senin telah mencapai level tertinggi yang belum terlihat sejak 2002.

"Investor mencari sumber penularan risiko yang mungkin mulai menyebar. Namun, saat ini semuanya masih terkendali dan pasar lebih didominasi momentum, pertumbuhan laba, serta investasi yang berasal dari kecerdasan buatan (AI)," tambahnya.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke notulen rapat Federal Reserve (Fed) September yang akan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut berpotensi memberikan gambaran lebih jelas mengenai pertimbangan para pejabat bank sentral AS dalam keputusan mereka untuk menaikkan suku bunga

(gls/gls)


Most Popular
Features