10 Perusahaan dengan Kapasitas Data Center Terbesar Dunia, China vs AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) mendominasi daftar operator dengan estimasi kapasitas pusat data atau data center terbesar dalam laporan International Energy Agency (IEA).
Namun, perusahaan China juga menempati posisi penting, mulai dari Tencent dan Alibaba Cloud hingga Huawei.
Dalam laporan Energy and AI yang diterbitkan pada 2025, IEA menyajikan perbandingan kapasitas perusahaan menggunakan dataset Omdia. Angka tersebut merupakan estimasi kapasitas terpasang per akhir semester I-2024, sehingga perlu dibedakan dari perkembangan industri pada 2026.
Meta Teratas, Raksasa AS Mendominasi
Meta menempati posisi pertama dalam tabel IEA dengan estimasi kapasitas 9,78 gigawatt (GW). Google menyusul dengan 8,96 GW, kemudian Amazon sebesar 7,66 GW dan Microsoft sebesar 6,97 GW.
Digital Realty dan Equinix berada di posisi berikutnya. Sementara itu, Tencent, Alibaba Cloud, dan Huawei menjadi tiga perusahaan China dalam sepuluh posisi teratas.
Pemain China Tak Bisa Diabaikan
Perkembangan setelah periode tersebut menunjukkan adanya perusahaan China lain dengan kapasitas besar. Salah satunya adalah China Telecom.
Dalam laporan tahunan 2025, China Telecom menyatakan kapasitas daya raknya telah melampaui 3,2 GW. Perusahaan juga melaporkan kenaikan total daya rak berdaya tinggi lebih dari 35% secara tahunan, seiring pengembangan infrastruktur pusat data untuk kecerdasan buatan.
Meski demikian, angka China Telecom tidak langsung disisipkan ke tabel IEA. Penggabungan tersebut akan mencampurkan periode pelaporan dan definisi kapasitas, sehingga menghasilkan urutan yang belum tentu sebanding.
Chindata menjadi contoh lain. Berdasarkan informasi resmi perusahaan per kuartal III-2026, kapasitas yang sudah beroperasi mencapai 860 MW atau 0,86 GW, sementara 660 MW atau 0,66 GW masih dalam pembangunan.
Perusahaan juga menyebut total kapasitas TI yang direncanakan melampaui 8 GW. Angka rencana tersebut jauh lebih besar daripada kapasitas yang sudah beroperasi, sehingga keduanya perlu dibaca secara terpisah.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)