MARKET DATA
Newsletter

Cadangan Devisa Jadi Sorotan, Risalah The Fed Bayangi Rupiah & IHSG

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
07 October 2026 06:20
Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin menyerahkan uang denda administratif sekitar Rp132,241,335,681,910,13 dan penguasaan kembali kawasan hutan seluas 259,230,73 Ha Tahap 8 kepada Menteri Keuangan, Suahasil Nazara dan disaksikan Presiden Prabowo Subianto d
Foto: Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin menyerahkan uang denda administratif sekitar Rp132,241,335,681,910,13 dan penguasaan kembali kawasan hutan seluas 259,230,73 Ha Tahap 8 kepada Menteri Keuangan, Suahasil Nazara dan disaksikan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (06/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Sentimen pasar pada Rabu (7/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan sektor eksternal dan arah kebijakan moneter global.

Kemarin, pelebaran defisit perdagangan Amerika Serikat menjadi perhatian, sementara kenaikan proyeksi pertumbuhan Indonesia memberi kabar positif dari dalam negeri.

Hari ini, investor menantikan laporan cadangan devisa Indonesia untuk menilai ketahanan eksternal dan ruang stabilisasi rupiah.

Perhatian kemudian beralih ke risalah rapat The Fed yang terbit dini hari besok dan berpotensi memengaruhi dolar, obligasi, serta pasar saham.

1. Neraca Perdagangan AS Agustus 2026

Amerika Serikat pada Selasa kemarin mengumumkan defisit perdagangan sebesar US$105,6 miliar, melebar dari US$92,8 miliar pada Juli yang telah direvisi. Defisit tersebut lebih besar daripada konsensus US$102 miliar dan menjadi yang terbesar sejak Maret 2025.

Impor meningkat US$17,2 miliar menjadi rekor US$420,8 miliar, sementara ekspor bertambah US$4,5 miliar menjadi US$315,2 miliar.

Kenaikan impor terutama berasal dari bahan baku industri dan barang modal, termasuk minyak mentah serta semikonduktor. Pelebaran defisit berpotensi membebani kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, meningkatnya pembelian barang modal juga menunjukkan permintaan investasi yang masih berjalan, sehingga data ini tidak otomatis berarti ekonomi AS melemah.

2. Cadangan Devisa Indonesia September 2026

Dari dalam negeri, Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan cadangan devisa September hari ini pukul 10.00 WIB. Pada Agustus, cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar, naik US$1,2 miliar dari Juli.

Posisi Agustus setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, melampaui standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Investor akan mencermati apakah cadangan kembali meningkat atau berkurang. Perubahan tersebut penting untuk menilai ketahanan eksternal dan ruang stabilisasi rupiah, meski pergerakannya juga dipengaruhi pembayaran utang, penerimaan devisa, serta perubahan valuasi aset.

3. Risalah FOMC September 2026

Perhatian pasar kemudian beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan terbit dini hari besok pukul 01.00 WIB.

Dokumen ini akan menjelaskan pembahasan di balik keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023.

Investor akan mencari petunjuk mengenai persistensi inflasi dan seberapa besar dukungan pejabat terhadap pengetatan lanjutan. Proyeksi September menunjukkan 16 dari 18 pejabat melihat kemungkinan setidaknya satu kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin tahun ini.

Nada yang lebih ketat berpotensi menopang dolar dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, penekanan pada risiko perlambatan dapat meredakan kekhawatiran pasar. Risalah bukan keputusan suku bunga baru, tetapi dapat mengubah ekspektasi kebijakan berikutnya.

4. World Bank Mengerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

Selain agenda data, revisi proyeksi Bank Dunia menjadi sentimen domestik yang patut diperhatikan. Dalam laporan yang dirilis kemarin, lembaga tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan Indonesia tahun ini menjadi 5,2%, dari 4,7% pada proyeksi April.

Angka ini juga melampaui proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,5%.

Perbaikan prospek ditopang kinerja semester pertama, ketika pertumbuhan mencapai 5,4%, seiring penguatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Namun, Bank Dunia turut menyoroti tanda perlambatan aktivitas domestik setelah periode tersebut dan kekhawatiran mengenai defisit fiskal. Revisi ini dapat mendukung kepercayaan investor, tetapi tetap merupakan perkiraan, bukan realisasi pertumbuhan setahun penuh.

5. Penyelamatan Keuangan Negara oleh Satgas PKH

Dari sisi pengelolaan keuangan negara, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa uang tunai yang diserahkan melalui hasil kerja Satgas Penertiban Kawasan Hutan telah mencapai sekitar Rp52 triliun.

Angka tersebut merupakan akumulasi delapan tahap penyerahan sejak pembentukan satgas pada Januari 2025, bukan setoran baru dalam satu hari.

Pada penyerahan tahap kedelapan kemarin, dana yang disetorkan mencapai Rp13,24 triliun, disertai penguasaan kembali kawasan hutan seluas 259.230,73 hektare.

Perkembangan ini dapat menjadi perhatian terkait penegakan hukum dan pengamanan kekayaan negara.

Namun, dampaknya terhadap ruang fiskal perlu dilihat dari pencatatan dan pemanfaatan dana, sehingga nilai kumulatif tersebut tidak otomatis sama dengan tambahan anggaran belanja baru.

Presiden Prabowo Subianto memberi pidato saat kegiatan penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara serta penguasaan kembali kawasan hutan tahap 8 di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (06/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Presiden Prabowo Subianto memberi pidato saat kegiatan penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara serta penguasaan kembali kawasan hutan tahap 8 di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (06/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

6. Transaksi Bursa Mineral dengan Rupiah dan Dolar AS

Terakhir, OJK menjelaskan bahwa transaksi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis pada tahap awal dimungkinkan menggunakan rupiah dan dolar AS. Penyelenggaraannya memiliki dasar melalui POJK Nomor 15 dan 16 Tahun 2026, dengan koordinasi bersama Bank Indonesia serta pihak terkait.

Pengembangan bursa juga diarahkan untuk meningkatkan keterlacakan transaksi dan membantu mencegah pelaporan nilai transaksi di bawah nilai sebenarnya maupun praktik transfer pricing.

Meski demikian, perdagangan melalui bursa tidak langsung diwajibkan untuk seluruh komoditas mineral. Tahapannya akan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, manajemen risiko, dan integritas pasar.

Transaksi perdana melalui Icomex diharapkan berlangsung pada 4 Januari 2027. Bagi pelaku pasar, rincian komoditas dan mekanisme transaksi akan menentukan dampaknya terhadap perusahaan mineral.

(gls/gls)


Most Popular
Features