Dunia Dihantui Rekor Imbal Hasil Obligasi AS, Semoga IHSG-Rupiah Aman
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026) atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks Nasdaq Composite melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa setelah investor mengabaikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan mencermati data ekonomi terbaru.
Nasdaq Composite naik 1,05% dan sempat mencapai level tertinggi harian 27.544,07. Indeks yang didominasi saham teknologi tersebut juga mencatat penutupan rekor di level 27.477,31.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 90,94 poin atau 0,18% ke 51.267,90. S&P 500 menanjak 0,66% ke 7.773,95.
Sejumlah saham yang terkait dengan perdagangan artificial intelligence (AI) menjadi pendorong utama kenaikan Nasdaq. SpaceX melonjak lebih dari 7%, sementara perusahaan hyperscaler Meta Platforms dan Microsoft masing-masing naik hampir 2% dan lebih dari 1%. Nvidia dan Tesla juga menguat sekitar 2%.
Teknologi saat ini "kurang lebih seperti perdagangan kebalikan dari obligasi," kata pendiri sekaligus CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, kepada CNBC.
"Ini seperti membeli saham teknologi dan menjual semua yang lain, sehingga menjadi semacam kekuatan yang sulit dihentikan," ujarnya, dikutip dari CNBC International.
Hatfield menambahkan, saham teknologi telah berperan sebagai semacam aset lindung nilai sejak pandemi. Hal ini didukung oleh pertumbuhan laba sektor tersebut yang tinggi serta sensitivitas yang relatif rendah terhadap suku bunga.
"Tidak terlalu penting berapa biaya yang harus mereka bayarkan untuk utang, sementara permintaan terhadap komputasi sangat kuat. Jadi, teknologi tidak terlalu terdampak oleh suku bunga," kata Hatfield.
Di tengah reli saham teknologi, imbal hasil obligasi juga meningkat. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun terakhir naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,311%, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,664%.
Keduanya telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Investor khawatir tekanan inflasi dapat membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Pergerakan saham dan obligasi terjadi ketika investor mencerna laporan terbaru Institute for Supply Management (ISM) mengenai pertumbuhan ekonomi sektor jasa.
Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa tercatat 54,9% pada September, kurang lebih sesuai dengan ekspektasi. Namun, angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan indeks pada bulan sebelumnya.
Investor kini mengalihkan perhatian ke The Fed yang akan merilis risalah pertemuan September.
Dokumen tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai keputusan bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan lalu.
Pelaku pasar juga memantau harga minyak yang bergerak turun pada Senin. Kontrak berjangka Brent ditutup turun 1,89% menjadi US$100,32 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8% menjadi US$89,43 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar saham melewati pekan yang diwarnai lonjakan imbal hasil Treasury serta laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed lainnya pada bulan ini.
Data tersebut memberikan sedikit kelegaan setelah pasar berada di bawah tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi.
"Terlepas dari daftar hambatan yang semakin panjang, seperti geopolitik dan suku bunga yang lebih tinggi, saham global telah naik sekitar 12% sepanjang tahun ini dan berada sedikit di bawah rekor tertinggi," ujar Beata Manthey, strategist Citi
"Apakah ketenangan relatif ini menunjukkan fundamental saham akan tetap tangguh menghadapi guncangan makro yang berkelanjutan, atau pada akhirnya saham perlu terkoreksi agar lebih mencerminkan kondisi risiko saat ini? Ketidakpastian masih tinggi, tetapi untuk saat ini kami masih berada di kubu yang melihat adanya ketahanan," imbuhnya.
(gls/gls)