MARKET DATA
Newsletter

Dunia Dihantui Rekor Imbal Hasil Obligasi AS, Semoga IHSG-Rupiah Aman

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
06 October 2026 06:40
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Sentimen ekonomi global memberikan sinyal beragam kemarin. Aktivitas jasa Jepang melambat dan kepercayaan konsumen melemah tipis, sementara sektor jasa zona euro justru mencatat penguatan.

Namun, kenaikan harga produsen di kawasan tersebut menunjukkan tekanan inflasi belum mereda, sehingga prospek pertumbuhan tetap harus ditimbang bersama risiko pengetatan kebijakan moneter.

Hari ini, perhatian beralih pada pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta neraca perdagangan Amerika Serikat (AS).

Dari dalam negeri, antrean penawaran umum menjadi perhatian terkait pendanaan korporasi, sementara aturan pengalihan pengawasan bursa mineral menambah perkembangan penting dalam penataan pasar keuangan.

1. Perkembangan Perang


Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi pada Senin melancarkan serangan cepat untuk merebut kembali wilayah pesisir di sekitar Selat Bab el-Mandeb hingga Kota Mocha. Pemerintah mengklaim berhasil memukul mundur pasukan Houthi dari sebagian besar wilayah yang mereka kuasai bulan lalu.

Sebagai balasan, Houthi mengklaim menyerang sejumlah lokasi penting di Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan fasilitas Aramco di Rabigh. Klaim kedua pihak belum dapat diverifikasi secara independen.

Jika dikonfirmasi, kemajuan pasukan pemerintah dapat mengurangi kendali Houthi atas jalur minyak penting di Laut Merah. Namun, Houthi masih berpotensi menyerang kapal menggunakan drone dari wilayah lain.

Pertempuran juga berkobar di sekitar Taiz. Konflik yang kembali memanas ini memperburuk krisis kemanusiaan Yaman. Badan migrasi PBB memperkirakan sekitar 184.000 orang telah mengungsi sejak perang kembali pecah.

Di tengah eskalasi, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sepakat mempercepat pengerahan pasukan dan kemampuan militer ke Arab Saudi berdasarkan pakta pertahanan bersama yang ditandatangani pada Agustus.

2. Imbal Hasil US Treasury Tembus Level Tertinggi dalam 20 Tahun

Imbal hasil US Treasury tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin (5/10/2026), setelah investor mencermati data ekonomi terbaru dan menanti risalah rapat The Fed September.

Imbal hasil Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307%. Sempat melonjak 7 basis poin ke 5,349%, level tertinggi sejak 3 April 2002.
Sementara imbal hasil Treasury 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,661%, setelah sempat menyentuh 5,703% atau level tertinggi sejak akhir Mei 2002. Satu basis poin setara 0,01%.

Kenaikan imbal hasil terjadi setelah data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas sektor jasa AS meningkat. PMI jasa naik menjadi 54,9 pada September, sedikit di bawah pertumbuhan Agustus dan sesuai ekspektasi.


Investor kini menanti risalah rapat kebijakan The Fed September yang akan dirilis Rabu. Pasar sebelumnya tertekan aksi jual obligasi selama enam pekan, meski laporan tenaga kerja September yang lemah membantu menekan imbal hasil dan meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.


Menurut CME FedWatch, pasar kini memperkirakan probabilitas hampir 82% The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Kenaikan imbal hasil US Treasury ke level tertinggi sejak 2002 berpotensi menekan pasar global, termasuk Indonesia, karena dapat memperkuat dolar AS, mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, menekan rupiah dan IHSG, serta meningkatkan yield SBN dan biaya utang pemerintah. Kondisi ini juga dapat mempersempit ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga secara agresif.

3. PMI Jasa Jepang September 2026

Jepang merilis angka final PMI jasa pada Senin kemarin (5/10/2026). Indeks tercatat sebesar 51,3, turun dari 52,5 pada Agustus serta berada di bawah konsensus dan pembacaan awal sebesar 51,6.

Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas masih berekspansi, tetapi dengan laju lebih lambat.

Pertumbuhan pesanan baru melemah, sementara pesanan ekspor kembali turun. Meski demikian, penambahan tenaga kerja meningkat dengan laju tercepat sejak Februari.

Perusahaan juga masih menaikkan harga jual secara tajam, menunjukkan perlambatan aktivitas belum otomatis menghilangkan tekanan harga di sektor jasa.

4.Kepercayaan Konsumen Jepang September 2026

Jepang juga merilis data indeks kepercayaan konsumen di mana indeks turun tipis menjadi 35,4 di September 2026 dari 35,5 di Agustus 2026. Meski melemah, hasil tersebut sedikit melampaui konsensus pasar sebesar 35,3.

Penurunan terjadi pada penilaian terhadap kondisi kehidupan secara keseluruhan dan keinginan membeli barang tahan lama. Sebaliknya, pandangan mengenai pertumbuhan pendapatan dan prospek pekerjaan membaik tipis.

Komposisi ini menunjukkan rumah tangga masih berhati-hati dalam berbelanja. Bagi pasar, ketahanan konsumsi menjadi perhatian karena menentukan apakah pemulihan ekonomi Jepang dapat bertahan ketika biaya hidup masih membebani masyarakat.

5. PMI Jasa Zona Euro September 2026

Dari Eropa, angka final PMI jasa zona euro yang dirilis Senin kemarin  menunjukkan adanya kenaikan menjadi 53,0 dari 51,6 pada Agustus. Hasilnya sesuai konsensus dan pembacaan awal, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak November 2025.

Penguatan terutama ditopang permintaan domestik, sementara penjualan ekspor relatif tidak berubah. Pesanan yang belum diselesaikan juga meningkat, mengindikasikan beban pekerjaan mulai melampaui kapasitas perusahaan.

Namun, penguatan aktivitas dibarengi tekanan biaya dan kenaikan harga jual. Kondisi ini memberikan gambaran pertumbuhan yang lebih baik, tetapi belum sepenuhnya nyaman dari sisi inflasi.

6. PPI Zona Euro Agustus 2026

Eropa juga merilis daya indeks harga produsen (PPI) di mana indeks tercatat meningkat 8,2% di Agustus 2026 secara tahunan, dibandingkan 5,8% pada Juli. Angka tersebut sedikit melampaui konsensus sebesar 8,1% dan menjadi kenaikan tertinggi sejak Februari 2023.

Secara bulanan, harga produsen naik 1,9%, sesuai konsensus, setelah meningkat 1,6% sebelumnya.

Percepatan ini menunjukkan tekanan harga di tingkat produsen semakin besar. Jika diteruskan kepada konsumen, kenaikan biaya tersebut berpotensi menyulitkan pengendalian inflasi.

Namun, penerusannya tidak selalu langsung maupun penuh karena perusahaan dapat menyerap sebagian biaya melalui margin keuntungan.


7.PMI Jasa AS Turun, Tekanan Harga Meningkat

AS pada Senin kemarin mengumumkan PMI jasa AS turun menjadi 54,9 pada September 2026 dari 55,4 pada Agustus, sedikit di bawah ekspektasi 55. Meski melemah, indeks tetap berada di zona ekspansi selama 27 bulan berturut-turut.

Aktivitas bisnis turun tajam, dengan indeks aktivitas bisnis merosot dari 61,7 menjadi 56,5. Pesanan baru juga melambat menjadi 59,8.
Di sisi lain, ketenagakerjaan kembali masuk zona ekspansi di 50,1 setelah dua bulan mengalami kontraksi. Backlog pesanan naik ke 56,6, tertinggi sejak Juli 2022.


Tekanan harga menjadi perhatian utama. Indeks harga melonjak ke 74, tertinggi sejak Juli 2022 dan berada di atas 70 untuk keenam kalinya dalam tujuh bulan.


Pesanan ekspor juga melemah hingga kembali ke zona kontraksi. Pelaku usaha masih menghadapi tekanan dari tarif, biaya bahan bakar, dan gangguan rantai pasok.

8. Pidato Gubernur BOJ Oktober 2026

Pada Selasa hari ini  pukul 13.30 WIB, Gubernur BOJ Kazuo Ueda dijadwalkan menyampaikan pidato. Agenda tersebut bukan pengumuman keputusan suku bunga, tetapi dapat memberikan petunjuk mengenai penilaian bank sentral terhadap inflasi, pertumbuhan, dan prospek kebijakan moneter.

Investor akan mencermati apakah Ueda menekankan keberlanjutan kenaikan harga dan upah atau justru risiko perlambatan permintaan domestik.

Pernyataan yang membuka ruang pengetatan lebih lanjut berpotensi mendukung yen dan memengaruhi imbal hasil obligasi Jepang. Sebaliknya, penekanan pada kehati-hatian dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

9. Neraca Perdagangan AS Agustus 2026

Pada hari ini,  AS dijadwalkan mengumumkan neraca perdagangan Agustus pukul 19.30 WIB. Konsensus memperkirakan defisit sebesar US$102 miliar, melebar dari US$88,6 miliar pada Juli.

Data ini akan memberikan gambaran mengenai perkembangan permintaan domestik dan perdagangan internasional. Pelebaran defisit dapat menekan kontribusi perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi penyebabnya perlu diperhatikan.

Kenaikan impor dapat mencerminkan permintaan domestik yang kuat, sedangkan penurunan ekspor dapat menunjukkan pelemahan permintaan luar negeri.

Karena itu, komposisi perubahan perdagangan akan sama pentingnya dengan angka defisit utama.

10. Kredit Bank RI Kencang

Penyaluran kredit perbankan nasional terus melaju. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit per Agustus 2026 tumbuh 13,65% secara tahunan (yoy) menjadi Rp9.178 triliun. Namun, pertumbuhan itu belum merata dengan kredit korporasi melesat 22,18%, sedangkan kredit UMKM hanya naik 2,38%.
Data tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan yang digelar secara daring, Senin (5/10/2026).


"Intermediasi melanjutkan tren penguatan," ujar Dian, merujuk pada akselerasi kredit yang berlanjut dari bulan-bulan sebelumnya.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh paling tinggi, yakni 25,11% yoy. Kredit modal kerja tumbuh 11,45% yoy dan kredit konsumsi 5,07% yoy.

Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan terbesar, 22,18% yoy. UMKM memang masih tumbuh, tetapi hanya 2,38% yoy. Dari sisi kepemilikan bank, bank BUMN tumbuh paling tinggi, 16,41% yoy.

OJK juga melaporkan baki debet buy now pay later (BNPL) perbankan dalam SLIK per Agustus 2026 sebesar Rp31,41 triliun, atau 0,34% dari total kredit perbankan. Pertumbuhannya tergolong tinggi, dengan jumlah rekening mencapai 34 juta, naik dari 33,50 juta pada Juli.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,94% yoy menjadi Rp10.413 triliun. Deposito tumbuh paling tinggi, 13,10% yoy, disusul giro 9,82% yoy dan tabungan 9,56% yoy.

Likuiditas dinilai memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 102,31% dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) 23,04%, masih di atas ambang batas masing-masing 50% dan 10%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 187,1%.

Kualitas kredit terjaga, dengan NPL gross 2,11% dan NPL net 0,8

11. Antrean Penawaran Umum Rp26,47 Triliun

Dari dalam negeri, OJK menyampaikan kemarin bahwa terdapat 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga September telah mencapai Rp186,03 triliun, dengan target sepanjang 2026 sebesar Rp250 triliun.

Antrean tersebut menunjukkan perusahaan masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Namun, nilai indikatif belum merupakan dana yang terealisasi, dan penawaran umum tidak seluruhnya berarti IPO saham. 

12. Pengalihan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Perhatian domestik juga tertuju pada penataan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). OJK telah menerbitkan POJK Nomor 15 Tahun 2026 mengenai tahapan pengalihan pengawasan dari Bappebti serta POJK Nomor 16 Tahun 2026 mengenai penyelenggaraan bursa tersebut.

Pengalihan kewenangan baru berlaku pada 1 Januari 2027, sehingga belum sepenuhnya berjalan saat ini.

Aturan tersebut menyiapkan kerangka perdagangan, kliring, penjaminan, penyelesaian transaksi, manajemen risiko, dan perlindungan pengguna. Bagi pasar, perkembangannya relevan terhadap transparansi perdagangan dan pembentukan harga komoditas.

(gls/gls)


Most Popular
Features