Tak Terduga! Ini Kelompok yang Sebenarnya Menentukan Pemilu AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok pemilih berusia lanjut ternyata jauh lebih aktif menggunakan hak suara dalam pemilu Amerika Serikat (AS) dibandingkan generasi muda.
Kesenjangan tersebut terlihat jelas dalam midterm election AS 2022, yakni pemilu yang digelar di tengah masa jabatan presiden. Data U.S. Census Bureau menunjukkan tingkat partisipasi pemilih meningkat seiring bertambahnya usia.
Kelompok usia 65-74 tahun mencatat partisipasi tertinggi, mencapai 68%. Sebaliknya, pemilih muda berusia 18-24 tahun hanya mencatat partisipasi 27,6%, menjadi yang terendah di antara kelompok usia tersebut.
Perbedaan ini membuat pemilih yang benar-benar datang ke tempat pemungutan suara dalam pemilu AS cenderung lebih banyak berasal dari kelompok usia tua. Dengan kata lain, suara generasi lanjut memiliki bobot partisipasi yang jauh lebih besar dibandingkan suara pemilih muda.
Usia 45-64 Tahun Jadi Kelompok Pemilih Terbesar
Dalam midterm election, kelompok usia 45-64 tahun menyumbang porsi terbesar dari total pemilih pada 2022, yakni 35,8%.
Di bawahnya, kelompok usia 25-44 tahun menyumbang 27,7% dari total pemilih. Sementara itu, kelompok usia 65-74 tahun mengambil porsi 18,4%, disusul usia 75 tahun ke atas sebesar 12,1%.
Kelompok usia 18-24 tahun menjadi yang paling kecil, hanya 6,1% dari seluruh pemilih.
Kalau dilihat dari komposisinya, pemilih AS pada 2022 memang lebih banyak berasal dari kelompok usia menengah hingga tua.
Partisipasi Tertinggi Ada di Usia 65-74 Tahun
Meski kelompok usia 45-64 tahun menjadi penyumbang pemilih terbesar, tingkat partisipasi tertinggi justru datang dari kelompok usia 65-74 tahun.
Sebanyak 68% warga pada kelompok usia tersebut yang memiliki hak pilih tercatat memberikan suara dalam midterm election 2022.
Angkanya sedikit lebih rendah pada kelompok usia 75 tahun ke atas, yakni 65,2%. Sementara itu, tingkat partisipasi kelompok usia 45-64 tahun mencapai 58,3%.
Di sisi lain, partisipasi menurun cukup tajam pada kelompok yang lebih muda. Tingkat partisipasi pemilih usia 25-44 tahun tercatat 44,3%, sedangkan kelompok usia 18-24 tahun hanya 27,6%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa semakin tua kelompok usia, kecenderungan untuk menggunakan hak pilih juga cenderung lebih tinggi, setidaknya dalam midterm election AS 2022.
Pemilih yang Datang ke TPS Cenderung Lebih Tua
Perbedaan tingkat partisipasi membuat komposisi pemilih yang benar-benar datang memberikan suara berbeda dari komposisi warga yang memiliki hak pilih.
Mengutip U.S. Census Bureau, warga berusia di bawah 45 tahun mencakup 44,2% dari populasi yang berhak memilih pada 2022. Namun, kelompok ini hanya menyumbang 33,8% dari total pemilih.
Sebaliknya, warga berusia 45 tahun ke atas mencakup 55,8% dari populasi yang berhak memilih, tetapi porsinya naik menjadi 66,3% di antara mereka yang benar-benar memberikan suara.
Artinya, kelompok usia yang lebih tua memiliki bobot lebih besar dalam komposisi pemilih dibandingkan porsinya dalam populasi yang memiliki hak pilih.
Gen Z Lebih Aktif Dibanding Generasi Sebelumnya
Meski tingkat partisipasi kelompok usia muda masih menjadi yang terendah, Gen Z menunjukkan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya ketika berada pada usia yang sama.
Midterm election 2022 menjadi pemilu pertama ketika Gen Z sepenuhnya mengisi kelompok usia 18-24 tahun.
Berdasarkan data Center for Information & Research on Civic Learning and Engagement (CIRCLE), tingkat partisipasi Gen Z pada kelompok usia tersebut mencapai 28,4%.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan Milenial yang mencatat 23% pada midterm election 2006 dan Gen X sebesar 23,5% pada 1990.
R endahnya partisipasi pemilih muda bukan hanya terjadi pada Gen Z. Namun, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada tahap usia yang sama, Gen Z justru tercatat lebih aktif menggunakan hak pilih.
(mae/mae)