Cuaca Ekstrem Mengacak-acak Kekuatan Energi Surya Dunia
Presiden Prabowo Luncurkan Program PLTS 100 GWp, Kab. Jembrana, 25 Agustus 2026. (Tangkapan Layar Youtube BPMI) Foto: Presiden Prabowo Luncurkan Program PLTS 100 GWp, Kab. Jembrana, 25 Agustus 2026. (Tangkapan Layar Youtube BPMI) |
Jakarta, CNBC Indonesia - Cuaca ekstrem mengubah ketersediaan sinar matahari di sejumlah pasar energi surya terbesar dunia.
Sebagian wilayah mendapat radiasi matahari jauh di atas kondisi normal, sementara wilayah lainnya mengalami penurunan akibat hujan dan tutupan awan.
Laporan penyedia data energi surya Solargis menunjukkan perbedaan tersebut terjadi sepanjang Juni-Agustus 2026. Di sejumlah lokasi di Indonesia, Malaysia, dan Filipina bagian selatan, radiasi matahari bahkan melampaui rata-rata jangka panjang hingga lebih dari 30%.
Temuan ini menjadi perhatian ketika Indonesia tengah mengejar pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp). Ketersediaan sinar matahari membuka peluang peningkatan produksi listrik, tetapi perubahan pola cuaca juga menambah tantangan dalam menjaga keandalan pasokan.
Peta Sinar Matahari Berubah
Mengutip laporan Solargis, Inggris bagian selatan, Wales, dan Normandy di Prancis mencatat radiasi matahari lebih dari 20% di atas rata-rata. Sebaliknya, sejumlah wilayah Eropa Utara mengalami penurunan hingga 25%.
Di India, tutupan awan dan hujan monsun menekan radiasi matahari hingga 20% di beberapa negara bagian. Penurunan lebih dari 20% juga terjadi secara lokal di Brasil bagian selatan, Argentina bagian utara, dan Uruguay.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan cuaca dapat memberikan dampak yang berlawanan terhadap pembangkit surya, bahkan dalam periode yang sama.
Bagi investor, sebagaimana dijelaskan dalam laporan The Japan Times, perubahan ketersediaan sinar matahari dapat membuat produksi listrik meleset dari proyeksi yang menggunakan pola historis. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pendapatan proyek dan perkiraan imbal hasil investasi.
Sementara itu, operator jaringan harus menyesuaikan pasokan ketika produksi energi terbarukan berubah. Semakin besar kontribusi PLTS dalam sistem kelistrikan, semakin penting ketepatan perkiraan produksinya.
El Niño Bisa Menguntungkan PLTS di Sejumlah Wilayah
Hubungan antara cuaca dan produksi listrik surya turut dibahas dalam studi Photovoltaic Power Response to El Niño-Southern Oscillation yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment.
Penelitian tersebut menggunakan data analisis ulang cuaca periode 1982-2024 untuk mengkaji pengaruh El Niño dan La Niña terhadap potensi produksi listrik surya.
Hasilnya menunjukkan ElNiño dapat meningkatkan potensi produksi PLTS di Asia Tenggara karena berkurangnya tutupan awan.
Lebih banyak radiasi matahari dapat mencapai permukaan dan dimanfaatkan panel surya. Pola radiasi yang lebih tinggi di sebagian Asia Tenggara juga terlihat pada peta Solargis untuk Juni-Agustus 2026, terutama di sejumlah wilayah Indonesia timur.
Perubahan radiasi matahari global pada permukaan horizontal (GHI) selama Juni–Agustus 2026 dibandingkan rata-rata periode yang sama pada 2007–2025. Warna merah menunjukkan peningkatan, sedangkan biru menunjukkan penurunan. Foto: Solargis |
Penelitian itu juga menemukan bahwa peningkatan radiasi matahari di kawasan tersebut dapat memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dampak negatif kenaikan suhu terhadap efisiensi panel.
Artinya, cuaca yang lebih panas perlu dilihat bersama perubahan tutupan awan dan radiasi matahari untuk menilai dampaknya terhadap produksi listrik.
Struktur yang sedang disiapkan untuk pemasangan panel surya terlihat di proyek fotovoltaik Ningguoyun Lingwu berkapasitas 1 juta kilowatt di gurun Lingwu, di wilayah Ningxia, China. (14 April 2025). (CN-STR / AFP) Foto: AFP/- |
Dampak berbeda ditemukan di sejumlah wilayah lain, termasuk California, China bagian timur, dan sebagian Amerika Selatan. Di wilayah tersebut, El Niño dapat menekan potensi produksi listrik surya selama beberapa bulan.
Studi ini menunjukkan bahwa risiko cuaca perlu dinilai berdasarkan lokasi pembangkit. Temuannya menggambarkan pola historis dan potensi dampak, bukan proyeksi produksi aktual seluruh PLTS Indonesia pada 2026.
PLTA Justru Menghadapi Tekanan
Peluang bagi energi surya juga muncul ketika pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menghadapi risiko kekurangan pasokan air.
Mengutip Green Central Banking, berkurangnya curah hujan akibat El Niño dapat menekan pengisian waduk di Asia Tenggara. Pada saat bersamaan, cuaca panas berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan.
Tekanan terhadap PLTA dapat berlanjut setelah puncak El Niño karena ketersediaan air pada musim kemarau bergantung pada pengisian waduk selama musim hujan sebelumnya.
Jika kekurangan produksi tersebut ditutup dengan pembangkit batu bara atau gas, upaya penurunan emisi dapat ikut tertekan. Diversifikasi pembangkit, penyimpanan energi, dan pengelolaan konsumsi listrik menjadi semakin penting untuk menjaga pasokan.
Tantangan Target 100 GWp RI
Di Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mengakomodasi target PLTS 100 GWp dalam dua hingga tiga tahun.
Dalam pernyataannya pada Selasa (29/9/2026), Airlangga menekankan pengembangan energi surya perlu disertai sistem penyimpanan baterai. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer serta pengembangan smart grid untuk mendukung pemanfaatan energi bersih.
Total kapasitas listrik EBT terpasang Foto: Kementerian ESDM |
GWp menunjukkan kapasitas puncak panel surya dalam kondisi pengujian standar. Besarnya listrik yang benar-benar dihasilkan tetap bergantung pada radiasi matahari, suhu, kondisi peralatan, dan kemampuan jaringan menyerap produksi.
Berdasarkan temuan tersebut, pembangunan PLTS Indonesia perlu memasukkan variasi cuaca dalam pemilihan lokasi dan perkiraan produksi. Kenaikan radiasi matahari dalam satu musim juga belum cukup menjadi dasar untuk mengasumsikan peningkatan produksi yang sama sepanjang umur proyek.
Baterai dapat membantu menyimpan kelebihan produksi pada siang hari untuk digunakan ketika pasokan surya berkurang. Sementara itu, penyebaran pembangkit di berbagai wilayah dan penguatan jaringan dapat membantu mengurangi dampak perubahan cuaca setempat.
Bagi Indonesia, peluang dari sinar matahari yang lebih melimpah akan lebih bernilai jika diikuti kemampuan menyimpan, menyalurkan, dan menyeimbangkan listrik. Kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dari perencanaan target PLTS 100 GWp.
(slm/slm)


