IHSG & Rupiah Bangkit, 10 Kabar Ini Bakal Menguji Nyali Investor
Pasar keuangan Indonesia diharapkan lebih tenang sepanjang pekan ini, 5-9 Oktober 2026 setelah labil pada pekan lalu. Rupiah dan IHSG mampu bangkit dari tekanan akhir pekan lalu.
Kemampuan IHSG dan rupiah untuk melanjutkan penguatan akan diuji pada pekan ini.
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan memang masih akan dibayangi perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta arah harga minyak setelah pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC.
Pergerakan energi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga global. Pasar obligasi juga masih disorot setelah kenaikan imbal hasil di sejumlah negara meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.
Dari kalender ekonomi, perhatian investor akan tertuju pada aktivitas sektor jasa AS dan notulen FOMC untuk mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Inflasi produsen Zona Euro akan memberikan gambaran mengenai tekanan biaya perusahaan, sementara keyakinan konsumen Jepang menjadi indikator ketahanan permintaan domestik.
Di Indonesia, cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel akan menjadi penggerak sentimen. Kalender China relatif sepi karena libur Golden Week berlangsung hingga pertengahan pekan. Rangkaian agenda tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, rupiah, imbal hasil obligasi, dan IHSG.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Perkembangan Perang: Yaman Lancarkan Serangan
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui internasional melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.
Presiden Yaman Rashad al-Alimi mengatakan serangan akan terus dilakukan hingga seluruh wilayah "dibebaskan" dari Houthi. Militer Yaman juga menyerukan kelompok tersebut untuk meletakkan senjata.
Houthi telah menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah barat laut Yaman sejak 2014. Bulan lalu, mereka memperluas pengaruh dengan merebut Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Di tengah serangan pemerintah, Houthi mengklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais. Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Konflik kembali memanas setelah gencatan senjata yang relatif bertahan sejak 2022 terganggu oleh meningkatnya serangan terkait perang Iran.
Penguasaan Bab el-Mandeb menjadi kunci strategis karena selat tersebut merupakan jalur utama perdagangan antara Asia dan Eropa. Sementara itu, pertempuran di sekitar Taiz juga meningkat dan berpotensi memutus jalur penting menuju Aden.
Meningkatnya konflik dikhawatirkan memperburuk krisis kemanusiaan Yaman. Program Pangan Dunia (WFP) menyebut tiga dari empat keluarga di sejumlah wilayah Yaman mengalami kelaparan akibat eskalasi pertempuran.
2.OPEC+ Tahan Produksi Minyak November, Harga Tetap di Atas US$100
OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November. Keputusan ini sesuai ekspektasi pasar bahwa tidak akan ada perubahan besar kebijakan produksi hingga 2027.
Keputusan diambil oleh tujuh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Produksi negara-negara OPEC+ masih berada jauh di bawah kuota akibat gangguan ekspor yang dipicu perang AS-Israel dengan Iran. Aliran ekspor dalam beberapa bulan terakhir hanya mencapai sekitar 60%-80% dari kondisi normal.
"Pasar minyak tetap ketat," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Sementara itu, harga minyak sempat tertekan setelah negara-negara G7 mengumumkan pelepasan cadangan diesel dan minyak mentah untuk menekan lonjakan harga energi.
Harga Brent ditutup turun 6 sen menjadi US$102,25 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,76 menjadi US$91,11 per barel.
Meski demikian, Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$73 sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari.
OPEC+ sebenarnya telah meningkatkan target produksi sepanjang 2026 setelah bertahun-tahun memangkas pasokan. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut hanya terjadi di atas kertas akibat konflik Timur Tengah.
Tujuh anggota inti OPEC+ memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bph) pada Agustus, naik 630.000 bph dari Juli. Namun, angka tersebut masih sekitar 5 juta bph di bawah level sebelum perang.
OPEC+ masih memiliki sekitar 2 juta bph pemangkasan produksi. Perubahan kuota berikutnya kemungkinan baru dilakukan setelah 2027.
Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 1 November 2026.
3. Rapat Dewan Komisioner OJK
Hari ini, Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan sekaligus konferensi pers.
Menarik ditunggu apakah ada kebijakan pemangku pasar modal, industri keuangan dan non-keuangan, terutama menjelang pengumuman MSCI November serta ketidakpastian geopolitik.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube OJK) Foto: Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube OJK) |
4. Keyakinan Konsumen Jepang September 2026
Rangkaian data pekan ini dimulai dengan indeks keyakinan konsumen Jepang yang dijadwalkan diumumkan hari ini, Senin (5/10/2026), pukul 12.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 35,5 dan diperkirakan turun menjadi 35,3 menurut konsensus, sedangkan proyeksi lainnya berada di 35,7.
Perbedaan perkiraan tersebut menunjukkan pasar belum memiliki pandangan yang kuat mengenai arah kepercayaan rumah tangga Jepang.
Investor akan mencermati persepsi konsumen terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan rencana pembelian barang tahan lama. Pelemahan lebih dalam dapat menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup mulai membatasi konsumsi.
Kondisi tersebut berpotensi menahan penguatan yen karena menimbulkan keraguan terhadap ketahanan permintaan domestik. Sebaliknya, hasil di atas perkiraan dapat memperkuat keyakinan bahwa konsumsi masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
5. Inflasi Produsen Zona Euro Agustus 2026
Selanjutnya, inflasi produsen Zona Euro akan diumumkan sore ini pukul 16.00 WIB. Secara bulanan, indeks harga produsen sebelumnya naik 1,6% dan diperkirakan meningkat 1,9% menurut konsensus, sementara proyeksi lainnya berada di 2,0%.
Secara tahunan, pertumbuhan harga di tingkat produsen diproyeksikan melonjak dari 5,8% menjadi 8,3%.
Kenaikan tersebut mengindikasikan tekanan biaya perusahaan berpotensi kembali menguat. Jika produsen meneruskannya melalui harga jual, tekanan inflasi konsumen dapat bertahan lebih lama.
Hasil di atas perkiraan berpotensi memperkuat euro dan mengangkat imbal hasil obligasi Eropa karena mengurangi peluang pelonggaran kebijakan Bank Sentral Eropa. Namun, kenaikan biaya juga dapat menekan margin keuntungan perusahaan dan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.
6. ISM Jasa AS September 2026
Malam ini, indeks ISM sektor jasa AS akan dirilis pukul 21.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 55,4, dengan konsensus memperkirakan kenaikan menjadi 55,7, sedangkan proyeksi lainnya berada di 55,0.
Seluruh perkiraan masih melampaui batas 50 yang menandakan ekspansi, sehingga sektor jasa diperkirakan tetap menopang perekonomian AS.
Selain indeks utama, investor akan memperhatikan komponen ketenagakerjaan dan harga. Pada periode sebelumnya, indeks ketenagakerjaan berada di wilayah kontraksi pada 47,8, sementara komponen harga relatif tinggi di 72,6.
Aktivitas yang kuat disertai tekanan harga tinggi dapat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Kondisi tersebut berpotensi mengangkat dolar AS dan imbal hasil Treasury, sekaligus menekan emas, rupiah, dan saham.
7. Cadangan Devisa Indonesia September 2026
Memasuki pertengahan pekan, Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan cadangan devisa pada Rabu pukul 10.00 WIB. Posisi cadangan devisa sebelumnya meningkat menjadi US$146,5 miliar dari US$145,3 miliar.
Kalender belum mencantumkan konsensus pasar untuk rilis terbaru, sehingga perhatian investor akan tertuju pada perubahan posisi cadangan dan penjelasan mengenai faktor yang memengaruhinya.
Cadangan devisa menjadi indikator kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pembayaran eksternal sekaligus mendukung stabilitas rupiah. Penurunan terbatas perlu dilihat bersama penyebabnya, termasuk pembayaran utang pemerintah dan stabilisasi nilai tukar.
Namun, penurunan tajam dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai tekanan eksternal. Sebaliknya, posisi yang stabil atau meningkat berpotensi mendukung rupiah dan surat utang negara karena memperkuat kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi domestik.
8. Notulen FOMC September 2026
Perhatian pasar kemudian beralih ke notulen FOMC yang dirilis Kamis pukul 01.00 WIB. Dokumen tersebut berasal dari rapat September ketika Federal Reserve secara bulat menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin, dari kisaran 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00%.
Investor akan mencari penjelasan mengenai pertimbangan kenaikan tersebut serta dukungan terhadap pengetatan berikutnya.
Proyeksi September mengindikasikan peluang satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun. Namun, pelaksanaannya akan bergantung pada inflasi, tenaga kerja, harga energi, dan kondisi keuangan.
Pasar juga akan menilai apakah anggota FOMC lebih mengkhawatirkan inflasi yang persisten atau risiko perlambatan pertumbuhan.
Notulen semakin diperhatikan karena Kevin Warsh berupaya mengurangi forward guidance. Pembahasan yang hawkish dapat memperkuat dolar AS dan imbal hasil Treasury, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap rupiah, emas, dan saham.
Sebaliknya, perbedaan pandangan yang besar dapat mengurangi keyakinan pasar terhadap kenaikan bunga berikutnya.
0. Keyakinan Konsumen Indonesia September 2026
Pada pagi harinya, indeks keyakinan konsumen Indonesia dijadwalkan diumumkan pukul 10.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 118,5 dan diproyeksikan sedikit turun menjadi 118. Posisi di atas 100 masih menunjukkan masyarakat secara umum optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Perhatian akan tertuju pada penilaian konsumen terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan prospek ekonomi enam bulan mendatang. Penurunan lebih dalam dapat menunjukkan rumah tangga mulai menahan belanja akibat tekanan harga dan ketidakpastian.
Sebaliknya, hasil yang stabil atau meningkat dapat memperkuat prospek konsumsi domestik serta memberikan dukungan bagi saham sektor konsumer, ritel, dan perbankan.
10. Penjualan Ritel Indonesia Agustus 2026
Rangkaian agenda domestik pekan ini dilanjutkan dengan penjualan ritel Indonesia pada Jumat pukul 10.00 WIB. Pertumbuhannya diproyeksikan meningkat menjadi 1,3% secara tahunan dari 1,1% pada bulan sebelumnya.
Perbaikan tersebut akan menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh, meskipun momentumnya relatif terbatas.
Angka yang melampaui proyeksi berpotensi mendukung saham sektor ritel, barang konsumsi, dan perbankan. Sebaliknya, pertumbuhan yang melemah akan menambah kekhawatiran mengenai daya beli.
Data ini juga akan dibandingkan dengan survei keyakinan konsumen untuk menilai apakah optimisme masyarakat benar-benar diikuti peningkatan belanja. Kombinasi keduanya dapat membantu investor membaca prospek permintaan domestik menjelang akhir tahun.
(gls/gls)
