MARKET DATA

Menguji Kesaktian "Octobull" dan "Bear Killer" di IHSG Oktober 2026

Gelson Kurniawan & Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
02 October 2026 09:45
Ilustrasi bearish market vs bullish market
Foto: Pixabay/gerd Altmann

Jakarta, CNBC Indonesia - Oktober biasanya menjadi bulan yang memberi harapan bagi investor saham Indonesia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sering menguat pada bulan tersebut. Namun, memasuki Oktober 2026, pola musiman positif berhadapan dengan tekanan jual asing dan kondisi suku bunga yang masih ketat.

IHSG menutup September di posisi 6.071,14 setelah melemah sekitar 6,96% sepanjang bulan. Dengan mempertimbangkan momentum harga, transaksi asing, dan kondisi moneter, analisis ini memberikan gambaran terkait proyeksi sebagai skenario penutupan akhir Oktober.

Skenario ini akan menggambarkan pasar yang bergerak fluktuatif dengan tekanan turun. Peluang pantulan tetap terbuka, tetapi kenaikan berkelanjutan membutuhkan dukungan arus dana dan perbaikan ekspektasi ekonomi.

Oktober, Masihkah Jadi Octobull dan Bear Killer?

Oktober kerap mendapat dua julukan di pasar saham, yakni "Octobull" dan "Bear Killer". Octobull merupakan permainan kata dari October dan bull, merujuk pada harapan bahwa pasar saham memasuki fase penguatan setelah tekanan yang kerap terjadi pada September.

Sementara Bear Killer menggambarkan reputasi Oktober sebagai bulan yang dalam sejumlah episode sejarah menjadi titik balik setelah periode tekanan panjang atau aksi jual besar.


Meski demikian, Oktober juga dikenal sebagai bulan yang sangat volatil, dengan sejumlah kejatuhan pasar besar justru terjadi pada bulan ini, sehingga kedua istilah tersebut lebih tepat dipandang sebagai jargon pasar daripada jaminan bahwa bursa akan selalu menguat.

Rekam jejak Oktober memberikan alasan untuk lebih optimis. Selama periode 2016-2025, IHSG menguat dalam delapan dari sepuluh Oktober. Kenaikan terbesar terjadi pada 2020 sebesar 5,30%, disusul 2021 sebesar 4,84%.

Rekam jejak Oktober memberikan alasan untuk tidak terlalu pesimistis. Selama periode 2016-2025, IHSG menguat dalam delapan dari sepuluh Oktober. Kenaikan terbesar terjadi pada 2020 sebesar 5,30%, disusul 2021 sebesar 4,84%.

Dua pengecualian terjadi pada 2018 dan 2023, ketika indeks masing-masing melemah 2,42% dan 2,70%.

Median kenaikan dalam sampel tersebut mencapai sekitar 1,02%. Pola ini menjadi faktor pendukung peluang pemulihan, tetapi delapan kali kenaikan dari sepuluh pengamatan tidak otomatis berarti peluang naik Oktober 2026 sebesar 80%. Kondisi bunga, kurs, valuasi, dan laba perusahaan berbeda pada setiap tahun.

Untuk Oktober tahun ini, kondisi harga masih memberikan sinyal hati-hati. Pada akhir September, IHSG berada di bawah rata-rata 20 hari sekitar 6.434 dan rata-rata 50 hari sekitar 6.392. Posisi tersebut menunjukkan momentum jangka pendek yang masih lemah.

Kenaikan sesaat belum cukup untuk memastikan perubahan tren. Pemulihan yang bertahan di atas kedua rata-rata tersebut akan menjadi salah satu alasan untuk meninjau ulang outlook.

Tekanan asing juga masih terlihat pada perdagangan terakhir September. Investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,56 triliun di pasar reguler dan Rp1,61 triliun di seluruh pasar pada 30 September 2026.

Sebagai pembanding, pada Oktober 2025, OJK mencatat pembelian bersih asing sebesar Rp12,96 triliun selama sebulan, bersamaan dengan kenaikan IHSG sekitar 1,28%.

Perbandingan tersebut menunjukkan pentingnya memantau arus dana, meskipun tidak membuktikan bahwa transaksi asing merupakan satu-satunya penyebab pergerakan indeks.

Dari sisi global, The Fed telah menaikkan rentang suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00% pada September. Bunga dolar yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang aset berisiko, termasuk saham Indonesia.

Namun, keputusan September sudah diketahui pasar. Penggerak tambahan selama Oktober terutama akan datang dari informasi baru: apakah perkembangan inflasi dan komunikasi The Fed mengarah pada kebijakan yang lebih ketat daripada ekspektasi investor.

Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Inflasi September tercatat 3,28% secara tahunan, sedangkan inflasi inti sebesar 2,84%.

Inflasi umum mendekati batas atas sasaran BI, tetapi masih berada di dalam rentangnya. Kondisi ini membatasi optimisme terhadap pelonggaran cepat, sekaligus belum memastikan bahwa BI harus kembali menaikkan bunga.

Faktor penyeimbang datang dari SRBI. Yield tenor 12 bulan turun dari 7,70005% pada lelang Juni menjadi 6,75683% pada September, atau sekitar 94,32 basis poin.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa tekanan imbal hasil domestik telah berkurang dibandingkan pertengahan tahun. Bersama pola musiman Oktober yang positif, perkembangan ini menjadi alasan untuk tetap membuka peluang pantulan IHSG walaupun Rupiah kembali melemah lagi selama bulan September ini sekitar 7%.

Gambaran regional memperlihatkan kondisi yang beragam. Selama September, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan masih menguat, sedangkan IHSG mencatat penurunan terdalam di antara tujuh indeks yang dibandingkan.

Ketertinggalan IHSG menunjukkan bahwa tekanan tidak seragam di seluruh Asia. Perbedaan sektor dan kurs tetap perlu diperhatikan, sehingga tabel tersebut belum membuktikan perpindahan dana langsung dari Indonesia menuju bursa lain.

Menjelang akhir Oktober, perhatian pasar akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia tanggal 20-21 Oktober dan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) tanggal 27-28 Oktober waktu Amerika Serikat. Keputusan serta komunikasi kedua bank sentral berpotensi memengaruhi arah pasar sebelum penutupan bulan.

Gejolak politik menjelang perayaan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober juga akan menjadi perhatian.

Skenario IHSG akhir Oktober tetap berada di 6.000-6.200. Angka ini merupakan penilaian taktis atas momentum yang lemah dan tekanan asing, dengan pola musiman serta penurunan yield SRBI sebagai penyeimbang-bukan hasil perhitungan yang menjamin titik penutupan tertentu.

Pembelian asing yang berkelanjutan, penguatan rupiah, dan perbaikan momentum harga akan menjadi alasan untuk menaikkan proyeksi. Sebaliknya, pengetatan kebijakan yang mengejutkan atau membesarnya tekanan jual dapat membawa indeks lebih rendah.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular