Trump - Xi Jinping Belum Bertemu, Amerika Sudah Kirim "Badai" ke RI
Memasuki perdagangan Kamis (24/9/2026), pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati respons pasar setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Sementara dari luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta indeks dolar juga bisa menjadi "badai" baru bagi IHSG dan rupiah.
1. Perkembangan Perang: Iran-AS Masih Buntu, Diplomasi Tetap Jalan
Iran dan Amerika Serikat (AS) masih berbeda jauh soal cara mengakhiri perang, tetapi diplomasi terus berjalan. Hal ini disampaikan pejabat senior Iran kepada Reuters, setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tekanan AS.
Pezeshkian mengecam Presiden AS Donald Trump, yang sehari sebelumnya mengancam akan "melenyapkan" Iran jika tidak tercapai kesepakatan.
Teheran kini meninjau respons Washington terhadap proposal perdamaian Iran, yang mencakup penghentian blokade laut AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
"Masih ada banyak perbedaan antara posisi Iran dan AS, tetapi diplomasi terus berlanjut," kata pejabat Iran tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan dengan Iran membutuhkan kerja keras, sembari menegaskan Trump masih memiliki opsi militer.
Dalam pidato di PBB, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah pada tekanan AS dan menolak kehadiran armada asing di Selat Hormuz.
Iran ingin mengendalikan selat tersebut dan memungut biaya dari kapal yang melintas, sementara AS menuntut jalur strategis itu tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Perundingan tidak langsung AS-Iran pada Selasa menjadi kontak diplomatik pertama yang diketahui sejak gencatan senjata runtuh pada Juli. Iran menyampaikan sejumlah syarat, termasuk penghentian perang, penghentian tindakan AS, dan pencairan aset Iran.
Namun, langkah diplomasi tersebut mendapat penolakan dari kelompok garis keras di Iran.
2. Imbal Hasil US Treasury Melonjak, Indeks Dolar Naik
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan terjadi setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Yield bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan.
Kenaikan yield Treasury 10 tahun penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, biaya kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis ikut terdorong lebih tinggi.
Lonjakan yield terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama, biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi.
Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, terutama karena perekonomian AS masih menunjukkan kekuatan..
Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, level tertinggi tahun ini. Angka tersebut merupakan level intraday tertinggi sejak 2007 dan level penutupan tertinggi sejak 2004.
Sementara yield Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024.
Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.
Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan imbal hasil SBN dan beban utang pemerintah.
Indeks dolar juga melonjak menembus 101 atau level tertinggi sejak 28 Juli 2026. Kenaikan indeks dolar menandai investor tengah memburu dolar lagi sehingga bisa memicu outflow dari Emerging Market.
Nilai tukar rupiah pun bisa terpuruk.
3. BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
"Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap sebesar 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% setelah sebelumnya dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.
BI menaikkan suku bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. BI Rate kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,50% pada 9 Juni dan mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026.
Bank Indonesia menjadikan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai salah satu pertimbangan utama dalam mempertahankan BI Rate. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi.
"Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat," ujar Destry.
BI menilai suku bunga sebesar 5,75% masih memadai untuk menjaga rupiah setelah kenaikan kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni. Dengan mempertahankan bunga, BI juga memiliki waktu untuk melihat dampak pengetatan sebelumnya terhadap perekonomian.
Selain menggunakan suku bunga, BI akan melanjutkan langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing. Kebijakan makroprudensial longgar juga tetap diarahkan untuk mendukung penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor riil.
4. Kredit Perbankan Tumbuh 13,65% pada Agustus
Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan pada Agustus 2026. Pertumbuhannya meningkat dibandingkan Juli yang sebesar 13,58%.
Berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 25,11% secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 11,45% dan kredit konsumsi meningkat 5,07%.
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro mengatakan peningkatan penyaluran kredit ditopang oleh permintaan yang tetap kuat.
"Kami bisa tekankan bahwa saat ini kuat. Demand tidak melemah, tetapi menguat," kata Solikin dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (23/9/2026).
Pertumbuhan kredit juga ditopang oleh kondisi likuiditas perbankan yang mencukupi. Hingga Agustus 2026, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diterima perbankan mencapai Rp461,2 triliun.
Jumlah bank yang memanfaatkan insentif tersebut meningkat dari 64 menjadi 68 bank. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencapai 10,94% secara tahunan, sementara minat perbankan dalam menyalurkan kredit masih longgar.
Ketahanan perbankan tetap terjaga. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 23,84% pada Juli 2026. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau NPL berada di level 2,10% secara bruto dan 0,81% secara neto.
Sementara itu, rasio alat likuid terhadap DPK tercatat sebesar 23,04% pada Agustus. BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 8-12%.
5. Aturan Saham Bisa Diperdagangkan hingga Rp1 Berlaku Pekan Depan
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menghapus batas harga minimum saham sebesar Rp50. Mulai Senin (28/9/2026), saham perusahaan tercatat dapat diperdagangkan hingga Rp1 per lembar.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan perubahan tersebut dilakukan untuk membuka akses likuiditas sekaligus memperbaiki proses pembentukan harga di pasar modal.
"Untuk memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik, kami akan menghapus batasan harga minimum Rp50," kata Jeffrey, dikutip Rabu (23/9/2026).
Bersamaan dengan perubahan batas harga minimum, BEI akan menyesuaikan ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk saham dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) yang diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.
Untuk efek dengan harga Rp1-Rp10, batas ARA dan ARB ditetapkan masing-masing sebesar Rp1. Sementara efek dengan harga di atas Rp10 masih menggunakan ARB asimetris sebesar 15% hingga 31 Desember 2026.
Pada rentang harga Rp11-Rp200, batas ARA ditetapkan sebesar 35%. Batas ARA untuk efek berharga Rp201-Rp5.000 sebesar 25%, sedangkan efek dengan harga di atas Rp5.000 memiliki batas ARA sebesar 20%.
Mulai 1 Januari 2027, batas ARB akan kembali berlaku simetris dengan ARA sesuai rentang harga masing-masing. Perubahan tersebut dituangkan dalam dua Surat Keputusan Direksi BEI.
Aturan ARA dan ARB Foto: Mentari Puspadini |
6.Defisit APBN 2026 Diproyeksi Tembus 2,85% PDB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksikan defisit APBN 2026 mencapai 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari target awal 2,68%. Kenaikan dipicu perubahan asumsi makro dan kebutuhan belanja pemerintah.
Sementara itu, RAPBN 2027 dirancang dengan defisit 2,4% dari PDB dan belanja negara berpotensi menembus Rp4.000 triliun, menjadi yang terbesar dalam sejarah Indonesia.
Untuk menopang belanja tersebut, pemerintah menyiapkan strategi berupa peningkatan rasio dan basis pajak serta penguatan implementasi Coretax.
7. Efisiensi APBN 2027 Lanjut, Bukan Asal Pangkas Anggaran
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan efisiensi APBN akan terus dilanjutkan pada 2027, tetapi bukan dengan memangkas anggaran secara sembarangan.
Belanja negara 2027 diproyeksikan menembus Rp4.000 triliun, menjadi yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Meski meningkat, belanja tetap harus diarahkan ke sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
"Efisiensi bukan sekadar potong anggaran, tetapi meningkatkan efisiensi dan targeting sehingga belanja masuk ke titik-titik yang penting," kata Suahasil di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Belanja juga akan difokuskan pada pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, peningkatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan konektivitas infrastruktur.
8.Rekening Gratis Rp50 Ribu Dibuka Massal 2027, Siapkan Rp3,8 Triliun
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan rencana pembukaan rekening bank gratis bagi masyarakat berusia 17 tahun ke atas masih dalam pembahasan.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp3,8 triliun, termasuk saldo awal Rp50 ribu untuk setiap rekening. Jika seluruh anggaran digunakan untuk saldo awal, nilainya setara dengan sekitar 76 juta rekening.
Program ini ditargetkan mulai berjalan pada awal 2027, setelah skema pelaksanaan rampung.
Pemerintah akan memanfaatkan data Dukcapil yang dipadankan dengan sistem pembayaran Bank Indonesia, termasuk QRIS. Program ini diharapkan memperluas inklusi keuangan sekaligus mempermudah penyaluran bansos, subsidi, dan layanan pemerintah.
9. BI Akan Merilis Data Uang Beredar Agustus
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan perkembangan uang beredar dalam arti luas atau M2 periode Agustus 2026 pada hari ini.
Pada rilis sebelumnya, posisi M2 pada Juli tercatat sebesar Rp10.371,1 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 8,3% secara tahunan, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan sebesar 8,7% pada Juni.
Pertumbuhan M2 pada Juli ditopang oleh uang beredar dalam arti sempit atau M1 yang meningkat 10% secara tahunan. Sementara itu, uang kuasi tumbuh sebesar 5,6%.
Dari sisi faktor yang memengaruhi, penyaluran kredit tumbuh 13% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 12,1% pada Juni.
Tagihan bersih kepada pemerintah pusat juga tumbuh 4,6% secara tahunan. Namun, pertumbuhannya melambat dibandingkan 10,1% pada bulan sebelumnya.
10. Xi Jinping Kunjungi AS, Bertemu Trump di Washington
Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di Washington pada Rabu (23/9/2026). Xi akan berada di AS selama tiga hari dalam kunjungan pertamanya ke negara tersebut dalam hampir tiga tahun.
Trump dijadwalkan menyambut Xi dan istrinya ketika tiba di pangkalan militer Maryland pada Rabu malam waktu setempat. Kunjungan tersebut akan diisi jamuan kenegaraan, upacara militer di Gedung Putih, atraksi pesawat tempur, serta kunjungan ke Arsip Nasional AS.
Trump dan Xi dijadwalkan menggelar pembicaraan pada Kamis waktu setempat. Pertemuan akan membahas sejumlah persoalan yang masih menjadi sumber ketegangan kedua negara, mulai dari perdagangan, teknologi, Taiwan, narkotika, mineral tanah jarang hingga perang AS dengan Iran.
Gencatan perdagangan antara kedua negara yang telah berlangsung selama 11 bulan akan berakhir pada November.
Meski belum ada tanda-tanda kesepakatan besar, pertemuan tersebut berpeluang menghasilkan penurunan tarif untuk beberapa sektor, kerja sama pemberantasan perdagangan narkoba, serta perluasan komunikasi antarmiliter.
Xi diperkirakan kembali menegaskan klaim Beijing atas Taiwan. Sementara itu, Trump diperkirakan tetap mempertahankan pembatasan ekspor teknologi AS ke China dan meminta pembebasan sejumlah warga yang ditahan di negara tersebut.
Kedua pemimpin juga berpeluang menyepakati pembicaraan lanjutan mengenai kecerdasan buatan atau AI. AS dan China saat ini bersaing dalam pengembangan teknologi tersebut, tetapi juga menghadapi kekhawatiran mengenai risiko penggunaannya.
"Ketika Xi Jinping duduk bersama Donald Trump, ia sangat yakin bahwa AS sedang mengalami kemunduran cepat dan waktu berada di pihak China," kata mantan pejabat Gedung Putih yang kini bergabung dengan Center for Strategic and International Studies, Edgard Kagan.
11. PMI AS Melejit, Aktivitas Bisnis Terkuat dalam 5 Tahun
Aktivitas bisnis sektor swasta Amerika Serikat (AS) melonjak pada September 2026, tercermin dari S&P Global US Flash Composite PMI yang naik menjadi 58,4, dari 56 pada Agustus.
Angka tersebut menandai ekspansi terkuat sejak Juli 2021 sekaligus menjadi bulan keempat berturut-turut pertumbuhan aktivitas yang semakin cepat.
Sektor jasa menjadi motor utama dengan PMI naik menjadi 58,7 dari 56,5, sementara manufaktur meningkat menjadi 56,7 dari 53,1.
Namun, penguatan ekonomi dibarengi tekanan inflasi. Biaya input melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar dan transportasi. Inflasi harga jual juga meningkat.
Data ini menunjukkan ekonomi AS masih kuat, tetapi sekaligus memperbesar tekanan inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
(evw/evw)