Dari Low Tuck Kwong hingga Widjaja, Ini Penguasa Batu Bara RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan saham emiten batu bara biasanya dikaitkan dengan harga komoditas, produksi, dan laba perusahaan. Namun, ada hal lain yang juga menarik untuk dicermati: siapa grup usaha atau keluarga yang memegang kendali di balik emiten tersebut?
Nama pemegang saham yang muncul dalam laporan perusahaan sering berupa badan usaha, bukan nama orang yang dikenal publik. Karena itu, untuk melihat peta kepemilikannya, investor perlu menelusuri perusahaan induk dan pihak yang disebut sebagai pengendali atau penerima manfaat akhir.
Di sektor batu bara Indonesia, nama-nama yang muncul cukup beragam. Low Tuck Kwong terkait dengan Bayan Resources, Grup Adaro memiliki hubungan dengan tiga emiten, sementara keluarga Widjaja mengendalikan Golden Energy Mines melalui jaringan usaha Sinar Mas. Bumi Resources juga memiliki struktur yang melibatkan Grup Bakrie dan Grup Salim.
Ini Porsi Saham Pengendalinya
Tabel di bawah menampilkan nama lengkap emiten, grup atau keluarga di belakang pengendali, serta porsi saham yang tercatat. PTBA tidak dimasukkan karena perusahaan tersebut berada di bawah kendali negara.
Low Tuck Kwong dan keluarga tercatat memegang 40,22% saham BYAN secara langsung berdasarkan data sebelum penjualan kepada Haji Isam. Sementara pada BUMI, porsi 45,78% tercatat atas nama Mach Energy. BUMI mengungkap Nirwan Bakrie dan Anthoni Salim sebagai penerima manfaat di balik struktur kepemilikan tersebut.
Untuk GEMS, saham pengendali sebesar 51,00% dipegang oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, perusahaan dalam Grup Sinar Mas. Di HRUM, saham mayoritas berada pada PT Karunia Bara Perkasa yang terhubung dengan keluarga Barki. Adapun ABMM dikendalikan PT Tiara Marga Trakindo, bagian dari kelompok usaha keluarga Hamami.
Mengapa Grup Adaro Muncul Tiga Kali?
AADI, ADRO, dan ADMR merupakan emiten berbeda yang terhubung dalam Grup Adaro. AADI menampung bisnis batu bara termal. Pengendalinya mencakup Adaro Strategic Investments, ADRO, dan Garibaldi Thohir, dengan total kepemilikan bersama 62,30%.
Pada ADRO, Adaro Strategic Investments dan Garibaldi Thohir disebut sebagai pengendali bersama dengan total porsi 54,52%. Selanjutnya, ADRO memegang 85,45% saham ADMR, emiten yang berfokus pada batu bara metalurgi dan pengolahan mineral.
Garibaldi Thohir merupakan salah satu figur utama Grup Adaro. Meski begitu, persentase pada tabel tidak bisa dibaca sebagai saham milik Garibaldi seorang diri. Adaro Strategic Investments melibatkan mitra lain, sedangkan kepemilikan ADMR tercatat atas nama ADRO sebagai perusahaan.
Berapa Kekayaan Keluarga di Baliknya?
Besarnya saham pengendali tidak sama dengan kekayaan pribadi pemiliknya. Taksiran kekayaan Forbes mencakup beragam aset dan investasi, termasuk yang berada di luar emiten batu bara dalam tabel pertama.
Dalam daftar Forbes Indonesia's 50 Richest 2025, keluarga Widjaja tercatat memiliki kekayaan US$28,3 miliar. Low Tuck Kwong menyusul dengan US$16,7 miliar namun khusus spesifik untuk Low Tuck Kwong, data menggunakan data terkini Rabu (23/9/2026). Forbes juga menaksir kekayaan Anthoni Salim dan keluarga sebesar US$13,6 miliar.
Angka US$13,6 miliar hanya menggambarkan kekayaan Anthoni Salim dan keluarganya. Forbes tidak mencantumkan taksiran kekayaan terkini keluarga Bakrie dalam daftar 2025, sehingga tidak ada angka yang setara untuk ditempatkan di tabel.
Begitu pula dengan Grup Banpu. ITMG dikendalikan melalui perusahaan dalam grup energi asal Thailand tersebut, tetapi Forbes tidak menyajikan satu angka kekayaan pribadi atau keluarga Banpu yang sebanding dengan nama-nama lainnya.
Adapun angka US$3,8 miliar untuk Garibaldi Thohir dan keluarga hanya dihitung sekali. Munculnya tiga emiten Adaro pada tabel kepemilikan tidak berarti kekayaan tersebut perlu dikalikan tiga.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)