Trump - Xi Jinping Belum Bertemu, Amerika Sudah Kirim "Badai" ke RI
Dari pasar saham AS, burs Wall Street ambruk pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham ditutup melemah karena Investor khawatir Federal Reserve (The Fed) masih akan kembali menaikkan suku bunga.
Indeks S&P 500 turun 0,75% ke level 7.706,03. Nasdaq Composite terkoreksi 1,13% menjadi 26.936,04. Sementara Dow Jones Industrial Average anjlok 352,10 poin atau 0,68% ke 51.511,59.
Penurunan saham sektor utilitas dan consumer discretionary menjadi pemberat utama pasar, dengan masing-masing sektor merosot lebih dari 1%.
Tekanan terhadap saham semakin kuat setelah yield Treasury AS melonjak menyusul rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) terbaru yang menunjukkan aktivitas ekonomi lebih kuat dari perkiraan.
Yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,135%, level tertinggi sejak Juli 2007. Pergerakan hariannya juga menjadi yang terbesar sejak 7 April 2025.
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun mencapai 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024.
"Kami melihat banyak kekuatan dalam laba perusahaan, tetapi pada saat yang sama ada tekanan inflasi. Keduanya sedang tarik-menarik," kata Massimo Santicchia, Head of U.S. Equities di Procyon, kepada CNBC International.
Menurutnya, tekanan inflasi saat ini bukan hanya berasal dari harga minyak.
"Tekanannya lebih luas, khususnya di sektor jasa. Tidak mungkin The Fed menurunkan suku bunga atau berhenti pada titik ini. Kemungkinan kita akan melihat dua atau tiga kali kenaikan suku bunga."ujarnya.
Gubernur The Fed Michael Barr juga mengatakan pada Rabu bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
"Pertumbuhan ekonomi kuat dan pasar tenaga kerja solid, tetapi inflasi berada di atas target 2% kami dan belum menunjukkan tren yang jelas menuju target tersebut dalam waktu yang tepat," kata Barr.
"Selain itu, risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja telah berkurang," lanjutnya.
Setelah perkembangan tersebut, peluang The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Oktober mencapai lebih dari 66%, berdasarkan CME FedWatch. Angka tersebut naik dari 55,4% sehari sebelumnya dan hanya 8,8% sebulan lalu.
Harga minyak mentah juga menguat.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik sekitar 3,9% menjadi US$103,08 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,8% ke US$92,16 per barel.
Pergerakan minyak terjadi di tengah perkembangan hubungan AS dan Iran.
Dalam agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa, Presiden Donald Trump mengatakan pejabat AS dan Iran telah bertemu selama tiga jam. Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai pertemuan yang sangat baik.
Sebelumnya pada Selasa, dalam pidatonya di hadapan PBB, Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau melenyapkan negara tersebut.
(evw/evw)