MARKET DATA

Separuh Minyak Dunia Diborong Asia, Hormuz Jadi Titik Kritis

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
23 September 2026 11:25
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 18 April 2026. (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 18 April 2026. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan pasar energi dunia pada 2026. Gangguan di jalur pelayaran strategis itu menunjukkan betapa rentannya negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak.

Asia menjadi kawasan paling terekspos. Lebih dari separuh impor minyak dunia mengalir ke kawasan ini, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi pembeli utama.

Data OPEC Annual Statistical Bulletin 2026 menunjukkan negara-negara dengan impor minyak terbesar pada 2025. Perhitungan mencakup minyak mentah, termasuk lease condensate, serta produk minyak olahan.

China Jadi Raja Importir Minyak Dunia

China menjadi negara dengan impor minyak terbesar di dunia pada 2025. Total impor mencapai sekitar 13,8 juta barel per hari, setara 18,1% dari total impor minyak dunia.

Besarnya angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan konsumsi domestik. Sebagian minyak yang masuk ke China juga digunakan untuk mengisi cadangan strategis.

Namun, impor China mulai tertekan ketika harga minyak melonjak akibat gangguan di Selat Hormuz.

Menurut US Energy Information Administration (EIA), impor minyak mentah China pada kuartal II 2026 menurun, salah satunya akibat berkurangnya pasokan dari Irak.

Di tengah ketidakpastian pasokan, China justru terus memperkuat cadangan minyaknya. EIA memperkirakan cadangan minyak China mencapai sekitar 1,49 miliar barel pada kuartal II 2026.

Besarnya cadangan tersebut menjadi salah satu bantalan China ketika pasokan global terganggu.

Asia Borong Setengah Minyak Dunia

China bukan satu-satunya raksasa minyak di Asia.

India mengimpor sekitar 6,2 juta barel per hari pada 2025, disusul Korea Selatan 3,8 juta barel dan Jepang 3,3 juta barel per hari.

Jika digabungkan, lima negara importir terbesar menyumbang sekitar 46% impor minyak dunia.

Secara regional, Asia-Pasifik mengimpor sekitar 38,2 juta barel per hari, atau sekitar 50,1% dari total impor minyak dunia.

Ketergantungan tersebut membuat Selat Hormuz menjadi sangat strategis bagi Asia.

Pada paruh pertama 2025, sekitar 89,2% minyak mentah dan kondensat yang melewati Hormuz mengalir menuju pasar Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi empat tujuan terbesar, dengan gabungan sekitar 74% dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat melalui selat tersebut.

Singapura juga masuk jajaran importir besar dengan sekitar 2,8 juta barel per hari, meski kebutuhan pasar domestiknya relatif kecil.

Sementara itu, Indonesia berada di posisi ke-13 dengan impor sekitar 1,4 juta barel per hari, atau sekitar 1,9% dari total dunia.

Hormuz Terganggu, Arus Minyak Anjlok

Besarnya ketergantungan Asia terhadap Hormuz membuat gangguan di selat tersebut langsung terasa pada arus perdagangan minyak global.

EIA mencatat volume minyak dan cairan petroleum yang melewati Hormuz turun dari 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025 menjadi sekitar 14,9 juta barel per hari pada kuartal I 2026.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian

Penurunan semakin tajam pada kuartal II 2026, ketika aliran minyak melalui Hormuz anjlok menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari.

Gangguan pasokan juga merembet ke pasar lain. Saudi Aramco menyatakan akan mengurangi ekspor minyak mentah ke pembeli di Eropa pada Oktober setelah gangguan pada jaringan pipa East-West akibat serangan drone membuat jalur tersebut tidak dapat beroperasi secara normal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan di satu jalur perdagangan strategis dapat dengan cepat menjalar ke pasar energi di berbagai kawasan.

AS Tetap Impor Meski Jadi Eksportir Besar

Amerika Serikat (AS) berada di posisi kedua sebagai importir minyak dunia dengan sekitar 7,9 juta barel per hari pada 2025.

Namun, AS juga merupakan eksportir minyak besar. EIA mencatat ekspor AS mencapai sekitar 10,7 juta barel per hari, mencakup minyak mentah dan produk minyak.

Impor dan ekspor dalam jumlah besar tersebut dapat terjadi secara bersamaan karena perbedaan jenis minyak, kebutuhan kilang, lokasi produksi, serta pasar tujuan.

Pada 2025, sekitar 57% impor minyak mentah AS berasal dari Kanada, yang menjadi pemasok utama bagi kilang-kilang AS.

Di sisi lain, sebagian produksi minyak AS yang memiliki karakteristik berbeda diekspor ke pasar yang membutuhkan jenis minyak tersebut.

Dengan demikian, besarnya impor tidak selalu berarti sebuah negara kekurangan minyak. Struktur kilang, jenis minyak, lokasi produksi, jalur perdagangan, dan posisi suatu negara dalam perdagangan energi global ikut menentukan arus impor dan ekspor.

Data tersebut memperlihatkan betapa pentingnya Asia dalam peta perdagangan minyak dunia. China menjadi importir terbesar, sementara India, Jepang, dan Korea Selatan ikut mendorong Asia menjadi tujuan utama minyak global.

Ketergantungan inilah yang membuat gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi merembet ke harga energi, biaya transportasi hingga aktivitas industri di berbagai negara.

(mae/mae)



Most Popular