IHSG ditutup turun 56,43 poin atau 0,88% ke posisi 6.384,73 pada perdagangan Senin. Indeks mengakhiri hari hanya sedikit di atas level terendahnya.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.446,90 dan sempat naik ke posisi tertinggi harian 6.451,33. Setelah itu, tekanan jual membawa indeks berbalik turun hingga menyentuh level terendah 6.381,57.
IHSG sempat mendekati level 6.430 pada pertengahan perdagangan, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan. Menjelang penutupan, indeks kembali turun ke kisaran 6.380.
Sebanyak 354 saham berakhir melemah, sementara 280 saham menguat dan 156 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan didominasi pasar reguler, dengan volume 26,9 miliar dan nilai transaksi Rp11,8 triliun. Frekuensi transaksi di pasar tersebut mencapai sekitar 1,83 juta kali.
Sementara itu, perdagangan di pasar negosiasi mencatat volume 28,54 juta lot dengan nilai transaksi Rp1,58 triliun.
Invesor asing pun tercatat melakukan aksi jual dengan total Rp510,07 miliar di seluruh pasar.Â
Berdasarkan data Refinitiv, sektor energi menjadi penekan terbesar IHSG setelah turun 2,2%. Sektor utilitas melemah 1,9%, disusul sektor barang konsumen non-primer yang turun 0,8%.
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat indeks.
Di tengah pelemahan tersebut, saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), MTEL, dan PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) membantu menahan penurunan IHSG lebih dalam.
Dari pasar mata uang, rupiah menutup perdagangan awal pekan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.740-Rp17.840/US$. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,11% ke posisi 100,334.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 0,52% ke level 7,120%. Penurunan imbal hasil menunjukkan harga SBN menguat karena harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah.
Saham-saham AS menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Kenaikan ini didorong kenaikan saham-saham teknologi utama serta penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Indeks S&P 500 naik 1,49% menjadi 7.764,70. Nasdaq Composite melonjak 2,26% ke rekor penutupan 27.122,09, sekaligus menjadi rekor pertama sejak Juni. Sementara Dow Jones Industrial Average melesat 366,19 poin atau 0,71% ke level 52.048,83.
Indeks S&P melonjak ditopang saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Saham Intel melesat 12%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) naik sekitar 10% dan berhasil menembus kapitalisasi pasar US$1 triliun. Saham teknologi lainnya seperti Qualcomm juga melonjak lebih dari 9%.
Pada pekan sebelumnya, Dow Jones anjlok 1,7%, menjadi kinerja terburuk sejak Maret. S&P 500 turun sekitar 0,1%. Hanya Nasdaq yang mencatat kenaikan, yakni 0,7%.
Penguatan saham juga didukung penurunan harga minyak mentah AS sebesar 4,5% menjadi US$95,78 per barel. Sementara minyak Brent turun 3,4% menjadi US$100,34 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah eskalasi terbaru konflik di Timur Tengah pada akhir pekan. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengatakan telah menyerang Arab Saudi menggunakan rudal dan drone pada Sabtu.
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke Timur Tengah, setelah AS dan Iran saling melontarkan ancaman untuk kembali melakukan serangan.
Meski demikian, jalur diplomasi antara AS dan Iran masih terbuka dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam Sidang Umum PBB pekan ini.
Imbal hasil US Treasury ikut turun seiring merosotnya harga minyak. Imbal hasil Treasury 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%, sementara imbal hasil Treasury 30 tahun turun menjadi 5,284%.
Di tengah upaya AS menekan inflasi yang masih tinggi serta imbal hasil obligasi yang tetap elevated, Federal Reserve pekan lalu menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
"Harga energi yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama memperkuat alasan untuk pengetatan lebih lanjut," tulis Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, dalam catatannya, kepada CNBC Interntaional.
Menurutnya, risiko terhadap pasokan energi juga belum menghilang. Konflik Timur Tengah terus mengancam produksi dan pengiriman minyak, sementara serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta sanksi terhadap Rusia semakin membatasi pasokan bahan bakar global.
"Semakin lama guncangan energi ini berlangsung, semakin besar risiko munculnya dampak inflasi putaran kedua," lanjutnya.
Situasi tersebut dapat meningkatkan arti penting pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai isu ekonomi, termasuk AI, tarif, dan mineral kritis.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang pertemuan Trump-Xi.
"Konflik geopolitik yang sama yang mendorong kenaikan harga energi juga membuat Federal Reserve tetap hawkish dan menekan para pengilang minyak China," kata Jeffrey Roach, Kepala Ekonom LPL Financial.
Menurut Roach, komite yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh telah menjadikan stabilisasi pasar minyak sebagai salah satu faktor dalam prospek inflasinya, sementara perhitungan fiskal Beijing juga sangat dipengaruhi oleh variabel yang sama.
Pasar keuangan Indonesia pada Selasa (22/9/2026) akan mencermati perkembangan perang di Timur Tengah serta sejumlah agenda dari dalam negeri.
Melonjaknya Wall Street hingga Bitcoin diharapkan bisa menjadi sentimen positif bagi IHSG dan rupiah.
Bank Indonesia (BI) mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur selama dua hari. Pelaku pasar juga akan mencerna aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang batas harga minimum saham dan pelantikan 14 pejabat Kementerian Keuangan.
1.Houthi Dekati Jalur Minyak Saudi, Trump Dikabarkan Batalkan Serangan AS
Kelompok Houthi yang didukung Iran terus merebut wilayah strategis di pegunungan Yaman pada Senin untuk memutus akses pasukan pro-Saudi ke pesisir Laut Merah, di tengah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan udara terhadap Houthi pada detik-detik terakhir.
Menurut Reuters, Houthi kini berupaya menguasai Pegunungan Kahboub di Provinsi Taiz dan Lahij, sementara Saudi menggempur posisi mereka dengan ratusan serangan udara. PBB mencatat hampir 700 orang tewas, ribuan terluka, dan sekitar 130.000 warga mengungsi akibat eskalasi konflik.
Konflik ini juga mengancam jalur ekspor minyak Saudi. Penguasaan Houthi di pesisir Laut Merah berisiko mengganggu rute alternatif yang selama ini digunakan Riyadh untuk menghindari Selat Hormuz. Meski Saudi meningkatkan ekspor lewat Hormuz hingga sekitar 2,9 juta barel per hari, biaya pengiriman melonjak dan harga bahan bakar olahan tetap berada di level tertinggi.
2. BI Mulai Rapat Dewan Gubernur Bulanan
Bank Indonesia (BI) mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) September pada Selasa (22/9/2026). Rapat berlangsung selama dua hari, dengan keputusan suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan diumumkan pada Rabu (23/9/2026).
Pengumuman kali ini akan menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Dalam RDG Agustus, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.
Destry, yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat sementara Gubernur BI, mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI juga memutuskan untuk memperluas kebijakan insentif dan langkah lain guna meningkatkan aliran masuk modal asing, memperkuat stabilitas rupiah, serta menambah likuiditas di pasar uang dan perbankan. Langkah tersebut disertai upaya mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial longgar tetap diarahkan untuk mendorong kredit dan pembiayaan ke sektor riil dengan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Di bidang sistem pembayaran, BI melanjutkan perluasan penerimaan pembayaran digital serta penguatan infrastruktur pembayaran.
3.BEI Ubah Batas Harga Minimum Saham dan Aturan ARA-ARB
Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1. Perubahan yang juga berlaku bagi Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai ini mulai diterapkan pada Senin (28/9/2026).
BEI turut menyesuaikan ketentuan auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB), yakni batas kenaikan dan penurunan harga dalam perdagangan. Aturan tersebut ditetapkan melalui dua Surat Keputusan Direksi BEI yang diterbitkan pada Senin (21/9/2026).
"Dengan perubahan ini, saham yang sebelumnya berada pada harga Rp50,00 dapat diperdagangkan dengan rentang harga yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas price discovery, mendorong peningkatan likuiditas, serta memberikan fleksibilitas pelaku pasar dalam pengelolaan portofolio investasinya," demikian keterangan BEI.
Untuk efek dengan harga Rp1-Rp10, batas ARA dan ARB masing-masing ditetapkan sebesar Rp1. Pada rentang Rp11-Rp200, batas ARA sebesar 35%. Batas ARA untuk rentang Rp201-Rp5.000 sebesar 25%, sedangkan efek berharga di atas Rp5.000 memiliki batas ARA sebesar 20%.
Hingga 31 Desember 2026, batas ARB untuk efek dengan harga di atas Rp10 tetap sebesar 15% pada seluruh rentang harga tersebut. Mulai 1 Januari 2027, batas ARB kembali berlaku simetris dengan ARA sesuai rentang harga masing-masing.
4. BI Buka Suara Soal Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Senin (21/9/2026) di posisi Rp17.825/US$ atau melemah 0,54% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.840/US$ sebelum memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan.
Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap rupiah dipengaruhi perkembangan di luar negeri. "Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan tertulis, Senin.
Menurut Erwin, pelaku pasar melihat kenaikan harga minyak dapat menambah risiko inflasi global dan tekanan terhadap prospek fiskal. Di dalam negeri, permintaan valuta asing dari importir dan keluarnya dana dari portofolio aset domestik turut menekan rupiah.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujarnya.
Erwin memastikan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Langkah tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga akan memperkuat operasi moneter, berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing, serta memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT).
Erwin menambahkan, rupiah masih menguat 0,37% sejak awal kuartal berjalan. Cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
5. Menkeu Suahasil Lantik 14 Pejabat Kementerian Keuangan
Menteri Keuangan Suahasil Nazara melantik 14 pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan pada Senin (21/9/2026), tepat sepekan setelah dirinya dilantik menjadi menteri keuangan.
Suahasil mengatakan pelantikan tersebut merupakan bagian dari penyempurnaan organisasi sekaligus kelanjutan proses promosi dan mutasi yang telah berjalan pada masa pendahulunya, Purbaya Yudhi Sadewa.
"Ini adalah kelanjutan, kelanjutan dari pelantikan di Kementerian Keuangan. Sekarang dalam beberapa hari terakhir ada beberapa penyempurnaan di dalam penunjukan pejabat Eselon II tersebut," ujar Suahasil seusai pelantikan di Gedung Juanda, Jakarta.
Menurut Suahasil, nama-nama pejabat yang dilantik telah dibahas melalui mekanisme Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Dalam proses tersebut, para pejabat eselon I menyampaikan usulan dari unit masing-masing untuk kemudian dinilai bersama.
Pejabat yang dilantik menempati sejumlah posisi di lingkungan Pengadilan Pajak, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, serta Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Dua pejabat lainnya dilantik untuk posisi ex-officio di Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan direktorat yang menangani asesmen pasar keuangan.
Suahasil meminta seluruh jajaran Kementerian Keuangan melanjutkan pekerjaan di bidang penerimaan, pengawasan, belanja, dan pembiayaan sesuai tugas masing-masing.
6.Bitcoin Tembus US$86.000, Sinyal "Crypto Winter" Berakhir?
Bitcoin kembali melonjak pada Senin dan menembus level US$86.000, melanjutkan reli tajam dalam beberapa hari terakhir.
Menurut CoinMetrics, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$85.863, naik sekitar 5,8%. Sebelumnya, Bitcoin sempat menyentuh US$86.349, level tertinggi sejak akhir Januari.
Investor kini menilai apakah periode "crypto winter"-fase ketika harga aset kripto tertekan-telah berakhir. Fase tersebut dimulai setelah Bitcoin mencetak rekor di atas US$126.000 pada Oktober 2025.
Matt Hougan, CIO Bitwise, mengatakan kepada CNBC bahwa dirinya menilai crypto winter telah berakhir dan kini memasuki "crypto spring". Ia bahkan memperkirakan fase kenaikan kali ini bisa menjadi salah satu pasar bullish terkuat dan terpanjang dalam sejarah kripto.
Meski masih mencatat penurunan sepanjang tahun, Bitcoin telah naik lebih dari 8% dalam sepekan dan 34% dalam tiga bulan terakhir. Namun, harganya masih jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.
Hougan mengatakan fundamental industri kripto terus membaik meski harga sempat jatuh. Aktivitas transaksi blockchain meningkat dan perusahaan besar seperti BlackRock semakin terlibat.
Menurut analis BTIG, selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$75.000, target berikutnya adalah US$90.000.
Kenaikan Bitcoin terjadi meski Senat AS pekan lalu menggagalkan kemajuan Clarity Act, rancangan regulasi yang bertujuan membentuk kerangka aturan aset kripto di AS.
Hougan menilai kegagalan regulasi tersebut justru belum tentu menjadi kabar buruk bagi kripto, karena SEC dan CFTC tetap akan menetapkan aturan industri.
Ia juga melihat adanya rotasi dana dari saham AI ke aset kripto. Menurutnya, ledakan AI sebelumnya menyedot perhatian investor berbasis momentum. Ketika reli saham AI mulai mereda, sebagian dana kembali mengalir ke pasar kripto.
Berikut sejumlah agenda yang terjadwal untuk hari ini, Selasa (22/9/2026):
- RDG Bank Indonesia
-
Menteri Pertanian akan melaksanakan pertemuan dengan ASN Pemerintah Daerah yang telah berkontribusi di Bidang Pertanian dan keluarga korban yang telah gugur dalam melaksanakan tugas di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan bertempat di Lobby Gedung A, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.
-
Komisi V DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat dengan Eselon I Kementerian Pekerjaan Umum di ruang rapat Komisi V DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
-
Menteri Perdagangan akan meresmikan perubahan portal InaExport menjadi National Export Gateway di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat
-
Konferensi pers penindakan impor ilegal beras, garam, dan balpres di Aula Sabang, Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta Timur. Turut hadir antara lain Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- Tanggal ex hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) PT Fortune Indonesia Tbk (FORU).
Berikut indikator ekonomi terbaru:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]