Wall Street & Bitcoin Pesta Sampai Rekor, IHSG-Rupiah Gak Mau Ikutan?
Saham-saham AS menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Kenaikan ini didorong kenaikan saham-saham teknologi utama serta penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Indeks S&P 500 naik 1,49% menjadi 7.764,70. Nasdaq Composite melonjak 2,26% ke rekor penutupan 27.122,09, sekaligus menjadi rekor pertama sejak Juni. Sementara Dow Jones Industrial Average melesat 366,19 poin atau 0,71% ke level 52.048,83.
Indeks S&P melonjak ditopang saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Saham Intel melesat 12%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) naik sekitar 10% dan berhasil menembus kapitalisasi pasar US$1 triliun. Saham teknologi lainnya seperti Qualcomm juga melonjak lebih dari 9%.
Pada pekan sebelumnya, Dow Jones anjlok 1,7%, menjadi kinerja terburuk sejak Maret. S&P 500 turun sekitar 0,1%. Hanya Nasdaq yang mencatat kenaikan, yakni 0,7%.
Penguatan saham juga didukung penurunan harga minyak mentah AS sebesar 4,5% menjadi US$95,78 per barel. Sementara minyak Brent turun 3,4% menjadi US$100,34 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah eskalasi terbaru konflik di Timur Tengah pada akhir pekan. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengatakan telah menyerang Arab Saudi menggunakan rudal dan drone pada Sabtu.
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke Timur Tengah, setelah AS dan Iran saling melontarkan ancaman untuk kembali melakukan serangan.
Meski demikian, jalur diplomasi antara AS dan Iran masih terbuka dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam Sidang Umum PBB pekan ini.
Imbal hasil US Treasury ikut turun seiring merosotnya harga minyak. Imbal hasil Treasury 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%, sementara imbal hasil Treasury 30 tahun turun menjadi 5,284%.
Di tengah upaya AS menekan inflasi yang masih tinggi serta imbal hasil obligasi yang tetap elevated, Federal Reserve pekan lalu menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
"Harga energi yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama memperkuat alasan untuk pengetatan lebih lanjut," tulis Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, dalam catatannya, kepada CNBC Interntaional.
Menurutnya, risiko terhadap pasokan energi juga belum menghilang. Konflik Timur Tengah terus mengancam produksi dan pengiriman minyak, sementara serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta sanksi terhadap Rusia semakin membatasi pasokan bahan bakar global.
"Semakin lama guncangan energi ini berlangsung, semakin besar risiko munculnya dampak inflasi putaran kedua," lanjutnya.
Situasi tersebut dapat meningkatkan arti penting pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai isu ekonomi, termasuk AI, tarif, dan mineral kritis.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang pertemuan Trump-Xi.
"Konflik geopolitik yang sama yang mendorong kenaikan harga energi juga membuat Federal Reserve tetap hawkish dan menekan para pengilang minyak China," kata Jeffrey Roach, Kepala Ekonom LPL Financial.
Menurut Roach, komite yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh telah menjadikan stabilisasi pasar minyak sebagai salah satu faktor dalam prospek inflasinya, sementara perhitungan fiskal Beijing juga sangat dipengaruhi oleh variabel yang sama.
(evw/evw)