MARKET DATA
Newsletter

6 Sentimen Hantui RI di Tengah Panasnya Perang, Pasar Menanti Jurus BI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 September 2026 06:25
Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Pergerakan pasar keuangan pada pekan ini akan dibayangi ketegangan di Timur Tengah, keputusan suku bunga sejumlah bank sentral, serta rilis data ekonomi dari dalam dan luar negeri.

Pasar akan mencermati konflik Houthi dan Arab Saudi, kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), serta keputusan China mempertahankan Loan Prime Rate. Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan perkembangan uang beredar.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data pesanan barang tahan lama pada akhir pekan.

Berikut sejumlah sentimen yang akan menggerakkan pasar keuangan pada hari ini dan sepekan ke depan:

1. Konflik Houthi dan Arab Saudi Memanas

Ketegangan di Timur Tengah belum berakhir dan akan menjadi perhatian pasar pada pekan ini. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang disebut sebagai "area sensitif" di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (19/9/2026).

Serangan terjadi beberapa jam setelah kobaran api dan asap hitam pekat terlihat di dekat bandara utama Riyadh.

Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa Houthi berupaya menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik.

Ini menjadi serangan pertama yang menargetkan ibu kota Arab Saudi sejak konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meningkat pada Juli lalu.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengatakan rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.

Namun, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara. Rekaman video dan foto menunjukkan kolom asap hitam membumbung tinggi dari area dekat Bandara Internasional King Khalid.

Dalam salah satu rekaman, kobaran api terlihat muncul dari area yang diduga merupakan tangki penyimpanan bahan bakar.

Houthi tidak menjelaskan target yang diserang di Riyadh. Namun, kelompok tersebut mengaku turut menyerang fasilitas milik raksasa energi Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Houthi menyebut operasi itu dilakukan sebagai balasan atas serangan yang terjadi di Sanaa, ibu kota Yaman.

Selain Riyadh, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.

Ketegangan tersebut memperpanjang kekhawatiran pasar karena konflik di Timur Tengah belum juga berakhir. Kondisi ini dapat membuat harga komoditas energi, terutama minyak mentah, sulit kembali turun dan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

2. BOJ Kembali Naikkan Suku Bunga

Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin dari 1% menjadi 1,25% pada Jumat (18/9/2026). Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam 31 tahun terakhir.

Kenaikan ini menjadi yang kedua dalam tiga bulan setelah BOJ juga mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Langkah tersebut kembali membawa Jepang menjauh dari kebijakan bunga sangat rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Keputusan itu disetujui melalui pemungutan suara 7-2. Dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, memilih mempertahankan suku bunga.

BOJ menilai tekanan harga di Jepang semakin meluas. Inflasi di tingkat produsen masih tinggi, sedangkan kenaikan biaya antarperusahaan mulai diteruskan kepada konsumen.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan inflasi dasar Jepang semakin mendekati target 2%. Fokus bank sentral kini bergeser dari upaya menaikkan inflasi menjadi mencegah kenaikan harga melampaui target.

Ueda juga tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga dilakukan secara beruntun maupun dalam jumlah lebih besar hingga 50 basis poin. Namun, keputusan selanjutnya tetap akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan inflasi.

Meski suku bunga naik, yen justru melemah karena sinyal BOJ mengenai kenaikan berikutnya dinilai belum cukup tegas. Dolar AS menguat 0,5% ke posisi 156,725 yen dan sempat mencapai 158,05 yen, level tertinggi dalam dua pekan.

3. China Pertahankan Loan Prime Rate

Bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya atau Loan Prime Rate (LPR) pada Minggu (20/9/2026). Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar.

LPR tenor satu tahun tetap berada di level 3%, sedangkan LPR tenor lima tahun dipertahankan sebesar 3,5%. Kedua suku bunga tersebut tidak berubah selama 16 bulan berturut-turut.

LPR satu tahun menjadi acuan bagi sebagian besar pinjaman rumah tangga dan perusahaan. Sementara itu, LPR lima tahun biasanya digunakan sebagai acuan untuk menentukan bunga kredit perumahan atau hipotek.

Seluruh 21 pelaku pasar yang mengikuti survei sebelumnya memperkirakan kedua suku bunga tersebut tidak akan berubah.

Keputusan itu menunjukkan ruang China untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter semakin terbatas. Sejumlah bank sentral utama dunia mulai mengambil kebijakan lebih ketat, sedangkan yuan terus menguat.

Pertumbuhan kredit China juga melambat akibat permintaan pembiayaan yang melemah dari sektor properti dan pemerintah daerah. Pada saat yang sama, bank-bank China masih menghadapi tekanan terhadap margin bunga bersih.

Bank sentral China diperkirakan mempertahankan kebijakannya hingga akhir tahun. Namun, penurunan suku bunga masih dapat dilakukan apabila pertumbuhan ekonomi melemah lebih dalam.

4. Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi September selama dua hari pada Selasa-Rabu (22-23/9/2026). Keputusan suku bunga acuan atau BI Rate akan diumumkan pada Rabu.

Pengumuman RDG kali ini juga menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti setelah resmi dilantik menjadi Gubernur BI definitif pada 2 September lalu.

Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Sementara itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap di level 4,75% dan 6,5%.

Pada RDG edisi Agustus, Destry yang saat itu masih menjadi Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI mengatakan keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Seiring dengan suku bunga acuan yang tetap dipertahankan di level 5,75%, Dewan Gubernur BI juga memutuskan untuk terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit atau pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan penerimaan pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.

5. Uang Beredar Indonesia Agustus 2026

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan perkembangan uang beredar dalam arti luas atau M2 periode Agustus pada Kamis (24/9/2026).

Pada rilis sebelumnya, posisi M2 pada Juli 2026 tercatat sebesar Rp10.371,1 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 8,3% secara tahunan, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 8,7% pada Juni.

Pertumbuhan M2 pada Juli ditopang oleh uang beredar dalam arti sempit atau M1 yang meningkat 10% secara tahunan. Sementara itu, uang kuasi tumbuh sebesar 5,6%.

Dari sisi faktor yang memengaruhi, penyaluran kredit tumbuh 13% secara tahunan. Pertumbuhannya meningkat dibandingkan 12,1% pada bulan sebelumnya.

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat juga tumbuh 4,6% secara tahunan. Namun, lajunya melambat dibandingkan pertumbuhan 10,1% pada Juni.

6. Pesanan Barang Tahan Lama AS Agustus 2026

Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan data pesanan barang tahan lama periode Agustus pada Jumat (25/9/2026).

Pada rilis sebelumnya, pesanan barang tahan lama meningkat 1,1% secara bulanan menjadi US$339,3 miliar pada Juli. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak April dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,5%.

Kenaikan terutama didorong oleh pesanan peralatan transportasi yang tumbuh 2,3%. Pesanan pesawat dan suku cadang nonpertahanan melonjak 12,7%, sedangkan pesanan pesawat dan suku cadang pertahanan meningkat 4,9%.

Pertumbuhan juga tercatat pada barang modal sebesar 1,3%, logam dasar 1,5%, dan mesin 1,2%.

Sebaliknya, pesanan komputer dan produk elektronik turun 1,1%. Pesanan peralatan listrik, perlengkapan rumah tangga, dan komponennya juga melemah 0,4%.

Di luar sektor transportasi, pesanan barang tahan lama hanya tumbuh 0,4%. Angka tersebut melambat dari pertumbuhan 1,1% pada Juni dan berada di bawah perkiraan pasar sebesar 0,6%.

Pesanan barang modal nonpertahanan di luar pesawat, yang menjadi salah satu gambaran rencana belanja perusahaan, naik 0,2%. Pertumbuhannya melambat dari 1,7% pada Juni dan lebih rendah dibandingkan perkiraan sebesar 0,9%.

(evw/evw)


Most Popular
Features