MARKET DATA
Newsletter

6 Sentimen Hantui RI di Tengah Panasnya Perang, Pasar Menanti Jurus BI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 September 2026 06:25
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: Pixabay/

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat pekan lalu. Pelaku pasar mengakhiri pekan yang bergejolak di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, tingginya harga minyak, dan keputusan terbaru bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Melansir CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18% ke posisi 51.682,64.

Indeks S&P 500 menguat 0,17% menjadi 7.650,50, sementara Nasdaq Composite naik 0,39% ke level 26.522,55.

Kenaikan imbal hasil US Treasury kembali membebani pasar saham. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus 5% pada pekan lalu dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2007.

Setelah turun pada Kamis, yield tenor 10 tahun kembali bergerak di atas 5% pada perdagangan Jumat. Imbal hasil tersebut terakhir naik hampir 6 basis poin ke posisi 5,006%.

Harga minyak juga masih membayangi pasar. Minyak mentah AS menutup pekan dengan pergerakan relatif datar, tetapi harganya tetap bertahan di atas US$100 per barel.

Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,58% menjadi US$100,30 per barel. Minyak Brent juga melemah 0,91% dan berakhir di posisi US$103,87 per barel.

Dengan pergerakan tersebut, ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan kinerja mingguan yang beragam.

Dow Jones melemah 1,7% dan membukukan penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Pelemahan tersebut juga menjadi kinerja mingguan terburuk Dow Jones sejak Maret.

S&P 500 terkoreksi sekitar 0,1% sepanjang pekan. Hanya Nasdaq yang berhasil menguat dengan kenaikan sebesar 0,7%.

Wall Street sebenarnya bangkit pada perdagangan Kamis setelah sempat tertekan menyusul keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun.

The Fed juga memberikan sinyal bahwa setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Sinyal tersebut sempat membawa ketiga indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan Rabu.

Namun, penguatan pasar pada Kamis, terutama pada saham-saham teknologi, menunjukkan investor mulai mencoba melewati kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Perhatian investor kembali tertuju pada perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang diperkirakan masih dapat menopang laba perusahaan.

Kepala Investasi Certuity Scott Welch mengatakan keputusan The Fed pada pekan lalu telah mengurangi sebagian ketidakpastian di pasar.

"Sebagian ketidakpastian berkurang pekan ini setelah The Fed menaikkan suku bunga," ujar Welch.

Meski demikian, Welch tidak menilai kenaikan terbaru sebagai langkah yang hanya dilakukan satu kali. Menurutnya, siklus kenaikan suku bunga justru baru dimulai dan berpotensi menekan kinerja saham dalam beberapa bulan mendatang.

"Pada satu titik, baik pada Oktober maupun setelah pemilu, saya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada 2026 dan mungkin satu atau dua kali lagi pada 2027," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Welch memperkirakan tekanan kenaikan terhadap yield US Treasury masih akan berlanjut. Harga minyak juga diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

"Saya tidak pesimistis terhadap pasar, tetapi saya memperkirakan pasar akan bergerak perlahan hingga akhir tahun ini," kata Welch.

(evw/evw)


Most Popular
Features