MARKET DATA
Newsletter

Pasar RI Pasang Mata ke Suahasil, Dunia Menanti Kabar dari Jepang

mae,  CNBC Indonesia
18 September 2026 06:40
Trader Gregory Rowe, right, works on the floor of the New York Stock Exchange, Wednesday, Dec. 11, 2019. Stocks are opening mixed on Wall Street following news reports that US President Donald Trump might delay a tariff hike on Chinese goods set to g
Foto: Pixabay

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street bangkit pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham enguat pada perdagangan Kamis, ditopang oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan harga minyak, serta kenaikan saham-saham teknologi utama.

Penguatan ini menjadi aksi rebound setelah Wall Street terkoreksi pada perdagangan sebelumnya akibat keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 316,14 poin atau 0,61% ke 51.778,04. Indeks S&P 500 menguat 1,14% ke 7.637,76 sementara Nasdaq Composite melonjak 1,69% ke 26.418,30.

Sektor teknologi menjadi motor utama penguatan pasar. Saham Nvidia dan Amazon masing-masing melesat lebih dari 2%, sementara Microsoft naik 1,5%.

Saham-saham yang terkait dengan tren kecerdasan buatan (AI) juga menguat. Qualcomm naik 2%, sedangkan Intel melonjak 7%.

Penguatan Wall Street juga didukung penurunan yield obligasi pemerintah AS. Yield Treasury 10 tahun kembali turun di bawah level 5%, merosot lebih dari 7 basis poin menjadi 4,93%.

Sehari sebelumnya, yield Treasury 10 tahun sempat kembali menembus level 5% setelah The Fed mengumumkan keputusan suku bunganya.

Harga minyak mentah juga melemah sehingga memberikan ruang bagi penguatan saham.

 

Harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) turun 0,51% menjadi US$101,91 per barel. Sementara Brent turun 0,95% menjadi US$104,82 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan mereda. Arab Saudi dilaporkan memutuskan menyediakan lebih banyak kargo minyak mentah bagi kilang-kilang Asia melalui mekanisme ship-to-ship transfer di sekitar Pelabuhan Sohar, Oman.

Investor Cerna Sinyal The Fed

Kenaikan saham pada Kamis menjadi rebound setelah pasar mengalami tekanan pada Rabu. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin dan memberi sinyal bahwa kenaikan bunga lainnya masih mungkin dilakukan tahun ini.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi.

CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, menyebut pergerakan pasar Kamis sebagai bentuk kelegaan investor.

"Reaksi pasar dapat dirangkum dalam satu kata: lega," kata Conzo, dikutip dari CNBC International.

Menurutnya, investor melihat kenaikan suku bunga sebagai langkah The Fed untuk menangani masalah inflasi yang masih sulit dikendalikan.

Namun, risiko volatilitas pasar masih tinggi, terutama bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Conzo memperingatkan, jika harga minyak tetap tinggi, kenaikan biaya energi dapat diteruskan oleh peritel kepada konsumen dan semakin tertanam dalam harga barang.

"Jika harga minyak tetap tinggi, masalah tersebut bisa semakin besar, yang membuat inflasi semakin sulit ditekan," ujarnya.

(mae/mae)


Most Popular
Features