MARKET DATA
Newsletter

Waspada! The Fed Naikkan Suku Bunga, Dolar Ngamuk, Bunga Utang Melesat

mae,  CNBC Indonesia
17 September 2026 06:21
FILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan tertekan setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga. Lonjakan dolar AS dan imbal hasil surat utang AS serta memanasnya perang juga akan membebani saham dan rupiah.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Houthi Kuasai Bab el-Mandeb, Saudi Hadapi Pukulan Berat

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi berhasil menguasai wilayah dan sejumlah pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis bagi perdagangan minyak global. Langkah ini menjadi pukulan berat bagi Arab Saudi di Yaman.

Sejumlah pejabat Barat, regional, dan Yaman menyebut keberhasilan Houthi dipicu kegagalan intelijen, perpecahan pasukan anti-Houthi, dukungan udara Saudi yang terbatas, serta persiapan Houthi yang tidak terdeteksi. Houthi disebut telah mengumpulkan sekitar 100.000 pejuang.

Pasukan yang didukung Saudi juga meninggalkan persenjataan canggih buatan AS dan Saudi, yang kini jatuh ke tangan Houthi.

Di tengah minimnya dukungan militer langsung dari AS dan Eropa, Saudi mulai mencari dukungan baru. Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi untuk membahas kerja sama militer dan situasi di Laut Merah.

Penguasaan Bab el-Mandeb juga memperluas pengaruh Iran dan sekutunya atas jalur energi strategis dunia. Bersama Selat Hormuz, posisi tersebut memberi Teheran dan sekutunya pengaruh atas dua jalur maritim penting.

2. The Fed Naikkan Bunga 25 Bps, Buka Peluang Naik Lagi

The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak Juli 2023.

Keputusan 12-0 tersebut diambil untuk menekan inflasi yang masih tinggi. The Fed juga mengisyaratkan satu kenaikan lagi hingga akhir tahun.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga menjadi fokus utama dalam mandat The Fed. Ia menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.

Warsh juga menekankan bahwa stabilitas harga merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi AS.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.

Proyeksi kebijakan terbaru The Fed yang terekam dalam dot plot menunjukkan potensi kenaikan suku bunga lagi.

Dot plot menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir tahun ini. Empat di antaranya bahkan melihat kemungkinan dua kenaikan tambahan.

Sementara itu, dua pejabat memperkirakan The Fed akan berhenti setelah satu kenaikan.

Warsh sendiri tidak memasukkan proyeksi suku bunga sejak menjabat sebagai ketua The Fed.

Untuk tahun-tahun berikutnya, tidak ada kenaikan tambahan yang diproyeksikan. Namun, dot plot menunjukkan satu kali pemangkasan suku bunga pada 2028 dan setidaknya satu kali pemangkasan pada 2029.

Keputusan The Fed langsung membuat indeks dolar terbang ke posisi 100,252. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak 12 Agustus 2026.

Kenaikan suku bunga juga membawa imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tembus ke 5,004% atau posisi tertinggi sejak Juli 2007.

Lonjakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury ini tentu saja menjadi kabar buruk bagi rupiah dan saham Indonesia.

Indeks dolar yang naik menandai investor tengah memburu dolar dan meninggalkan aset non-denominasi dolar. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu outflow dari Emerging Market.

Kenaikan imbal hasil juga bisa membuat yield pada SBN melonjak sehingga membebani pembayaran bunga utang pemerintah.

3. Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga ke 1% atau Lebih Rendah

Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga secara agresif ke 1% atau bahkan lebih rendah, hanya beberapa jam setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.

"Kita 'menanggung' hampir setiap negara di dunia, dan ini tidak bisa terus berlanjut," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

"Turunkan suku bunga untuk Amerika Serikat, dan lakukan dengan cepat!" tegasnya.

Trump tetap menilai suku bunga AS seharusnya berada di 1% atau lebih rendah, dengan alasan AS merupakan negara dengan kualitas kredit terbaik di dunia dan tengah mengalami lonjakan investasi.

Trump juga kembali mengklaim AS telah menarik investasi hingga US$20 triliun atau lebih sejak masa jabatan keduanya. Sejumlah pemeriksa fakta menyebut angka tersebut tidak sesuai dengan data.

Sebelumnya, Trump bahkan mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus perdagangan terhadap AS jika The Fed tidak memangkas suku bunga.

Tekanan Trump terhadap The Fed sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, sejauh ini Trump dan para pembantunya belum secara langsung menyerang Warsh.

Juru bicara Gedung Putih Kush Desai mengatakan Trump tetap meyakini independensi The Fed. Namun, menurutnya, Presiden AS memiliki hak untuk menyampaikan pandangan ketika kebijakan dinilai bermasalah.

4. Marketplace Mulai Pungut PPh Merchant 1 Oktober 2026

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memastikan marketplace mulai memungut PPh pedagang online (merchant) pada 1 Oktober 2026.

Dirjen Pajak Bimo Wijayanto mengatakan sistem dari empat marketplace, yakni Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli, telah siap digunakan.

Kebijakan ini sebelumnya dijadwalkan berlaku 1 Juli 2026, tetapi ditunda oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menjaga daya beli masyarakat.

 

Bimo memastikan implementasi pada Oktober akan berjalan tanpa kendala. "No drama lah, nggak ada drama," tegasnya.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengusulkan pembatalan mutasi ratusan pegawai era Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Bimo menyebut ada sejumlah nama yang muncul tanpa mengikuti proses assessment dan talent management, sehingga ia bersama Dirjen Bea Cukai meminta mutasi tersebut ditunda atau dibatalkan.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pihaknya masih mengevaluasi proses tersebut dengan meminta masukan dari seluruh unit eselon I.

"Kita nanti melihat dulu ya, apa yang sudah dilakukan kemarin," kata Suahasil.

5. Kasus Fortifikasi Beras

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman memerintahkan penindakan tegas terhadap pelaku manipulasi beras fortifikasi. Produk yang terbukti melanggar diminta dicabut izinnya dan dilarang dipasarkan.

Bapanas sebelumnya menguji 198 sampel beras dari 11 provinsi. Hasilnya, 25 merek dinyatakan bermasalah karena kandungan gizi tidak sesuai dengan klaim pada label. Bahkan, ada produk yang mengklaim vitamin B12 30%, tetapi hasil uji hanya sekitar 15%, sementara sebagian lainnya tidak mengandung nutrisi yang diklaim.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat mengekspos temuan beras fortifikasi tak sesuai di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat mengekspos temuan beras fortifikasi tak sesuai di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat mengekspos temuan beras fortifikasi tak sesuai di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

 

Bapanas telah memerintahkan 25 merek tersebut ditarik dari peredaran dan menghentikan produksi. Kasusnya kini masuk tahap assessment bersama Bareskrim Polri. Sebanyak 15 merek telah menjalani assessment, sedangkan 10 lainnya masih diproses.

Jika memenuhi unsur, kasus tersebut dapat dilanjutkan sebagai dugaan penipuan dan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

6. OJK Denda Emiten Salim-Bakrie

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan denda kepada PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) atas pelanggaran aturan pasar modal.

ROTI didenda Rp150 juta karena penunjukan KAP untuk audit laporan keuangan 2023 dan 2024 dilakukan sebelum mendapat keputusan RUPS, melanggar POJK No. 9/2023.

Sementara BNBR didenda Rp1,2 miliar terkait transaksi material berupa penerimaan pinjaman Rp4,81 triliun, atau 115,87% dari ekuitas. OJK menyebut BNBR tidak menggunakan penilai independen, tidak melakukan keterbukaan informasi, serta tidak memperoleh persetujuan RUPS untuk pemberi pinjaman tersebut.

Hingga 31 Agustus 2026, OJK telah menjatuhkan 1.277 sanksi, dengan total denda mencapai Rp73,99 miliar.

7.  Klaim Tunjangan Pengangguran AS 

AS akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 12 September 2026.

Sebagai catatan, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran pada pekan sebelumnya turun 1.000 menjadi 206.000 pada pekan pertama September 2026. Angka ini sedikit di atas ekspektasi 205.000.

Sementara itu, klaim berkelanjutan turun 1.000 menjadi 1,774 juta pada pekan terakhir Agustus, di bawah perkiraan 1,780 juta.

Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif tangguh, meski data terbaru BLS menunjukkan penurunan jumlah pekerja (payroll) yang tidak terduga.

Di sisi lain, klaim awal dari pegawai federal naik 51 menjadi 388, di tengah kebijakan pemerintah AS untuk memangkas sektor publik.

8. Inflasi Zona Euro Agustus 2026

Inflasi final Zona Euro periode Agustus akan dirilis pada Kamis (17/9/2026) pukul 16.00 WIB.

Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,3% dari 2,9%. Secara bulanan, inflasi diproyeksikan naik 0,4% setelah sebelumnya tumbuh 0,2%.

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan melambat menjadi 2,4% dari 2,5%.

Konfirmasi inflasi utama sebesar 3,3% akan menunjukkan tekanan harga masih tinggi dan mendukung kebijakan moneter ketat Bank Sentral Eropa.

Namun, perlambatan inflasi inti dapat mengurangi kebutuhan untuk segera menaikkan suku bunga kembali.

Revisi inflasi ke atas berpotensi mendukung euro, tetapi dapat menekan obligasi dan saham Eropa. Sebaliknya, revisi lebih rendah dapat meredakan kekhawatiran mengenai biaya pendanaan di kawasan tersebut.


9. BoE Diperkirakan Tahan Suku Bunga di 3,75%

Bank of England (BoE) akan mengumumkan suku bunga hari ini, BoE diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan Bank Rate di 3,75%, meski tetap hawkish karena risiko inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi.

Inflasi Inggris pada Agustus naik menjadi 3,1% secara tahunan, sementara inflasi harga produsen juga meningkat.

Namun, pasar tenaga kerja yang melemah dan pertumbuhan upah yang melandai menjadi alasan BoE menahan suku bunga.

Pasar memperkirakan voting MPC tetap 6-3, dengan Pill, Greene, dan Mann mendukung kenaikan 25 bps.

BoE juga diperkirakan memperlambat quantitative tightening (QT) dari £70 miliar menjadi sekitar £50 miliar dalam setahun ke depan.

(mae/mae)


Most Popular
Features