Selamat Bekerja Menkeu Suahasil, The Fed-Perang Jadi Ujian RI Hari Ini
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri.
Sentimen terbesar dari dalam negeri datang dari pergantian posisi menteri keuangan. Sementara itu, perkembangan perang dan rapat Federal Open Market Commiittee (FOMC) menjadi penggerak sentimen dari luar negeri.
Berikut sentimen penggerak pasar hari ini:
1. Perkembangan perang: Houthi Serang Saudi, Selat Hormuz Kembali Bikin Pasar Minyak Tegang
Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali menyerang Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), meningkatkan kekhawatiran konflik Timur Tengah meluas dan mengancam pasokan minyak global.
Houthi mengklaim meluncurkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, Arab Saudi. Serangan disebut sebagai balasan atas serangan udara Saudi di Yaman.
Serangan ini terjadi setelah jalur pipa minyak timur-barat Saudi terganggu akibat serangan pada Jumat. Pipa tersebut memungkinkan ekspor minyak Saudi menghindari Selat Hormuz yang kini diblokade.
Di sisi lain, upaya diplomasi untuk membuka kembali Selat Hormuz juga terancam. Oman menunda pertemuan Iran dan negara-negara Teluk yang sedianya membahas negosiasi pembukaan selat tersebut. Sebelum perang, sekitar 20% ekspor minyak dunia melewati jalur ini.
Harga minyak sempat melonjak lebih dari 4% pada Senin sebelum ditutup sekitar 1% lebih tinggi. Trader memperkirakan penghentian pipa Saudi dalam waktu lama dapat mengganggu hingga 4% pasokan minyak global.
Pada perdagangan Senin (14/9/2026), kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,34% menjadi US$101,39 per barel, sementara minyak Brent naik 1,02% menjadi US$105,68 per barel.
Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan tanker minyak El Gaia rusak di sekitar Selat Hormuz. Iran menyebut kapal terkena ranjau laut, sementara militer AS mengatakan tanker tersebut terkena rudal Iran.
Iran juga menegaskan Selat Hormuz masih ditutup dan berada di bawah kendalinya, membuat jalur perdagangan minyak dunia tersebut tetap menjadi titik rawan bagi pasar energi global
2. Suahasil Ditunjuk Menkeu, Janjikan APBN Lebih Kredibel
Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026).
Usai dilantik, Suahasil mengatakan fokus utamanya adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN agar tetap mampu membiayai program prioritas pemerintah.
Suahasil Nazara menyampaikan keterangan kepada awak media usai dilantik sebagai Menteri Keuangan Masa Jabatan Periode Tahun 2024-2029, di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (14/9/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Suahasil Nazara menyampaikan keterangan kepada awak media usai dilantik sebagai Menteri Keuangan Masa Jabatan Periode Tahun 2024-2029, di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (14/9/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) |
Suahasil mengatakan arahan utama Presiden kepadanya adalah menjaga keuangan negara, terutama kesehatan dan kredibilitas APBN. Menurutnya, APBN harus mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah sekaligus berperan dalam mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Arahan khusus dari Bapak Presiden adalah untuk menjaga keuangan negara. Artinya menjaga kesehatannya, menjaga kredibilitas dari keuangan negara tersebut," ujarnya.
"Jadi APBN sebagai bagian dari keuangan negara harus bisa menjalankan program-program prioritas pemerintah, karena itu APBN-nya itu harus sehat. Selain APBN-nya harus sehat, dia juga harus kredibel. APBN itu harus dapat dipercaya," lanjutnya.
Suahasil menegaskan dirinya akan melanjutkan pekerjaan yang selama ini telah dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Dia juga memastikan defisit APBN akan tetap dijaga di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Defisit akan tetap di bawah 3%," tegasnya.
Lebih lanjut, Suahasil menyebut prioritasnya sebagai Menteri Keuangan adalah memastikan APBN tetap kredibel dan dapat dipercaya oleh publik.
"Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel. Jadi saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya, komunikasi publik yang dapat dipercaya, dan juga akan memastikan bahwa apa yang dilakukan oleh APBN adalah mendukung program prioritas pemerintah," jelasnya.
Dia menambahkan, program kerja prioritas nasional yang telah menjadi arahan Presiden dan kabinet akan tetap menjadi fokus pemerintah.
3. BI Ingatkan Era Suku Bunga Higher for Longer
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan rupiah kembali tertekan setelah sempat mendekati level Rp17.400/US$. Pada Jumat (11/9/2026), rupiah melemah 0,31% ke Rp17.585/US$.
Menurut Destry, tekanan terjadi akibat memburuknya sentimen global seiring eskalasi perang Iran-AS. Meski demikian, BI masih memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.300-Rp17.800/US$ tahun ini dan tahun depan.
Destry juga mengingatkan era higher for longer menjadi tantangan bagi negara berkembang. Kondisi ini mendorong modal mengalir ke aset negara maju, terutama AS dan sektor teknologi.
Gubernur Bank INdonesia, Destry Damayanti. (YouTube/DPR RI) Foto: Gubernur Bank INdonesia, Destry Damayanti. (YouTube/DPR RI) |
"Ini bagi negara berkembang kurang menguntungkan. Kondisi seperti ini ada flight to quality aset mereka akan meng-invest-kan ke sektor masih di luar sektor kita yaitu AI, teknologi itu menyebabkan mereka banyak investasi mereka masuk ke sektor mendatangkan return besar," ujar Destry saat rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di gedung DPD pada Senin (14/9/2026).
Ia menambahkan, penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi AS menjadi perhatian. Yield Treasury 10 tahun kini mendekati 5%, sementara peluang The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin juga semakin besar.
4. Penjualan Ritel China Agustus 2026
Data penjualan ritel China periode Agustus dijadwalkan dirilis pada Selasa (15/9/2026) pukul 09.00 WIB.
Pertumbuhan penjualan ritel diproyeksikan naik menjadi 0,8% secara tahunan (yoy), dari 0,6% pada Juli. Sementara itu, proyeksi lain menempatkan pertumbuhan di level 1%.
Meski diperkirakan membaik, pertumbuhan tersebut masih menunjukkan konsumsi rumah tangga China belum sepenuhnya pulih. Investor akan mencermati apakah stimulus pemerintah mulai mampu mendorong belanja masyarakat.
Jika realisasi penjualan ritel melampaui ekspektasi, sentimen terhadap saham Asia dan komoditas berpotensi menguat, mengingat besarnya peran China sebagai konsumen komoditas global.
Sebaliknya, pertumbuhan yang kembali mendekati nol dapat memperkuat kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan meningkatkan ekspektasi stimulus tambahan dari pemerintah Beijing.
5. Tingkat Pengangguran China Agustus 2026
China juga akan merilis data tingkat pengangguran Agustus pada Selasa (15/9/2026) pukul 09.00 WIB. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 5,2%.
Belum tersedia konsensus pasar untuk indikator tersebut. Karena itu, perhatian investor akan tertuju pada perubahan angka dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tingkat pengangguran dapat menjadi sinyal bahwa tekanan di sektor industri dan properti mulai merembet ke pasar tenaga kerja. Kondisi ini berpotensi menekan kepercayaan konsumen dan menghambat pemulihan konsumsi domestik.
Sebaliknya, penurunan tingkat pengangguran akan menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat dan prospek pemulihan ekonomi China.
Bagi pasar Indonesia, kombinasi penjualan ritel yang menguat dan pengangguran yang menurun dapat menjadi katalis positif bagi saham berbasis komoditas, sekaligus memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko di kawasan Asia.
6. Utang Luar Negeri Indonesia Juli 2026
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia periode Juli 2026 pada Selasa (15/9/2026). Namun, waktu publikasi data tersebut belum tercantum.
Belum tersedia konsensus maupun proyeksi pasar untuk data ini.
Sebagai gambaran, posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal II-2026 mencapai US$453,4 miliar, tumbuh 4,4% yoy.
Utang luar negeri pemerintah tercatat US$216,3 miliar, sedangkan utang luar negeri swasta mencapai US$194,6 miliar. Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 30,6%.
Sebagian besar utang tersebut merupakan utang jangka panjang dengan porsi sekitar 82,1% dari total utang luar negeri.
Kenaikan utang yang masih terkendali cenderung tidak memberikan tekanan besar terhadap pasar. Namun, lonjakan utang, terutama jika terjadi pada sektor swasta, dapat meningkatkan perhatian investor terhadap kebutuhan valuta asing dan stabilitas rupiah.
7 Keputusan Suku Bunga AS September 2026
The Fed akan menggelar rapat FOMC pada hari ini dan besok atau Selasa dan Rabu waktu AS.
Keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu siang waktu AS atau Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB.
Konsensus pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga menuju kisaran 3,75%-4,00% mencapai 92,4%.
Karena kenaikan tersebut sudah cukup diperhitungkan pasar, perhatian investor diperkirakan akan bergeser ke arah kebijakan The Fed selanjutnya.
The Fed juga akan merilis proyeksi ekonomi kuartalan. Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menilai publikasi tersebut berpotensi memicu volatilitas karena dapat memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Selain proyeksi ekonomi, pidato Warsh dan sesi tanya jawab setelah rapat FOMC akan menjadi perhatian utama investor untuk membaca peluang perubahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Jika The Fed memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih diperlukan, dolar AS dan imbal hasil Treasury berpotensi menguat. Kondisi ini dapat menjadi tekanan bagi emas, rupiah, dan saham negara berkembang.
Sebaliknya, jika kenaikan 25 basis poin disertai pernyataan yang lebih dovish, tekanan terhadap aset berisiko dapat mereda dan membuka ruang bagi pemulihan saham, komoditas, serta mata uang negara berkembang.
(mae/mae)
