Selamat Bekerja Menkeu Suahasil, The Fed-Perang Jadi Ujian RI Hari Ini
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak ambruk pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks jatuh di tengah sikap investor yang memantau perubahan besar dalam rencana penawaran umum perdana (IPO) perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI), di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan AI. Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil (yield) Treasury dan harga minyak terbaru.
Indeks pasar luas tersebut turun 0,48% dan ditutup di level 7.619,98. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,56% menjadi 26.186,41. Dow Jones Industrial Average melandai 152,09 poin atau 0,29% menjadi 52.421,20.
Pada titik terendah perdagangan, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun 0,8% dan 1,3%, sementara Dow merosot hampir 300 poin atau sekitar 0,6%.
Saham-saham global yang terkait AI ikut tertekan setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan pengembangan kemampuan AI. Sejumlah tokoh besar di industri teknologi turut mendukung usulan tersebut.
Dalam esainya pada Sabtu, Amodei mengatakan perusahaan-perusahaan AI perlu memperlambat laju inovasi untuk model AI tercanggih mereka karena adanya risiko keselamatan.
Kepada CBS News pada Minggu, ia mengatakan dilema tersulit dari usulan tersebut adalah apa yang akan terjadi jika China tidak melakukan hal yang sama.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman mengatakan dalam wawancara pada Sabtu bahwa melakukan IPO tahun ini merupakan langkah yang tidak bijaksana.
Saham Nvidia turun 3%, sedangkan Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing anjlok lebih dari 4%. Intel merosot lebih dari 5%, sementara Marvell Technology turun lebih dari 7%.
"Jelas, pernyataan sejumlah nama besar bahwa percepatan pengembangan model AI terdepan perlu diperlambat bisa menjadi kejutan bagi pasar. Namun, dengan cara tertentu, ini justru terasa seperti sesuatu yang diinginkan pasar," kata David Wagner, kepala ekuitas di Aptus Capital Advisors, dikutip dari CNBC International.
Menurut Wagner, jika belanja modal (capex) melambat, pertumbuhan laba juga kemungkinan ikut melambat. Namun, arus kas bebas (free cash flow) berpotensi meningkat, yang dapat mendorong kenaikan valuasi saham kembali ke level yang terlihat pada Desember 2025.
"Bagaimanapun, pasar tahu bahwa kita sedang memasuki periode yang secara musiman cenderung lemah. Ditambah dengan banyaknya retorika terkait pemilu paruh waktu, kondisi ini dapat menciptakan lingkungan di mana saham terus mengambil jeda," tambahnya.
Di sisi lain, harga minyak naik setelah Arab Saudi menutup jalur pipa penting yang melewati Selat Hormuz. Namun, harga minyak kemudian turun dari level tertingginya.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,34% menjadi US$101,39 per barel, sementara minyak Brent naik 1,02% menjadi US$105,68 per barel.
Harga minyak mentah AS menembus US$100 per barel pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei, di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak tersebut turut menekan tiga indeks saham utama AS. Dow bahkan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret.
Pekan ini, Federal Reserve (The Fed) akan menggelar rapat kebijakan pada September. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar memperkirakan sekitar 92% kemungkinan kenaikan suku bunga.
Imbal hasil Treasury melonjak pada Senin menjelang rapat tersebut. Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.
Namun, pada perdagangan berikutnya yield kembali turun. Yield Treasury 10 tahun terakhir naik sedikit lebih dari 1 basis poin menjadi 4,987%.
Saham Bank of America juga menjadi salah satu titik lemah dalam perdagangan hari itu, dengan penurunan 5%.
Penurunan terjadi setelah CEO Brian Moynihan mengatakan pendapatan dari bisnis perbankan investasi pada kuartal III kemungkinan turun lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu, sementara pendapatan dari aktivitas perdagangan diperkirakan relatif datar.
(mae/mae)