Pekan Berdarah atau Cuan? 11 Kabar Genting Menanti: The Fed - Utang RI
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street berhasil berakhir menguat pada perdagangan Jumat pekan lalu. Salah satu pemicunya adalah penurunan harga minyak yang membantu pasar bangkit setelah tiga indeks utama melemah selama empat hari beruntun.
Melansir CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average melesat 509,19 poin atau 0,98% ke posisi 52.573,29.
Indeks S&P 500 menguat 0,86% ke level 7.656,98, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,96% menjadi 26.333,04.
Penguatan tersebut mengakhiri pelemahan selama empat hari perdagangan berturut-turut. Bagi Dow Jones, periode tersebut merupakan rangkaian penurunan harian terpanjang sejak akhir April.
Meski menguat pada Jumat, ketiga indeks masih membukukan kinerja negatif secara mingguan. Dow Jones melemah 1,6%, sedangkan S&P 500 turun 0,8%.
Nasdaq juga terkoreksi sekitar 0,7% sepanjang pekan. Penurunan tersebut menjadi kinerja mingguan negatif pertamanya dalam tiga pekan terakhir.
Untuk perdagangan Jumat kemarin, sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 berakhir di zona hijau.
Sektor layanan komunikasi memimpin kenaikan sebesar 1,35%, disusul sektor barang konsumen non-primer yang menguat 1,13%.
Dari jajaran emiten, Dell Technologies melonjak 12% dan mencetak rekor tertinggi. Hewlett Packard Enterprise juga melesat 12%, sedangkan HP Inc menguat 8,4%.
Saham-saham perangkat keras tersebut mendapat dorongan setelah laporan keuangan Oracle melampaui perkiraan. Namun, saham Oracle sendiri berbalik turun 1,8%.
Sementara itu, saham ACV Auctions melonjak 44% setelah Copart sepakat mengakuisisi perusahaan lelang kendaraan daring tersebut dengan nilai hampir US$1,9 miliar.
Saham Apple juga menguat hampir 2% dan menjadi salah satu penopang indeks pada perdagangan Jumat.
Kenaikan Wall Street turut ditopang penurunan harga minyak setelah sempat melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% ke US$100,05 per barel. Harga minyak Brent merosot 2,8% menjadi US$104,61 per barel.
Namun, minyak masih mencatatkan kenaikan tajam secara mingguan. WTI melonjak hampir 10%, sedangkan Brent naik hampir 9% sepanjang pekan.
Di sisi lain, pelaku pasar mencerna laporan inflasi terbaru AS. Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan pada Agustus, sesuai dengan perkiraan pasar.
Inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi meningkat 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Imbal hasil US Treasury relatif stabil setelah laporan tersebut dirilis. Namun, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun menembus 4,6% dan menyentuh posisi tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan yield tenor pendek mencerminkan semakin besarnya perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga. Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada pekan depan mencapai sekitar 86%.
Kepala Strategi Global Principal Asset Management Seema Shah menilai pembahasan pasar kini bergeser dari apakah The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi berapa kali kenaikan akan dilakukan.
"Kami tidak memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali," ujar Shah.
Menurutnya, inflasi yang bertahan di atas target selama sekitar lima tahun dapat mendorong The Fed melakukan lebih dari satu kali kenaikan untuk mengembalikan stabilitas harga.
(evw/evw)