Modal Rp18 Juta Kini Cuan Rp625 Juta, Koperasi Desa Jadi Mesin Ekonomi
Banjarnegara, CNBC Indonesia - Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mendatangkan banyak manfaat bagi warga Desa Panerusan Wetan, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah.
Berdasarkan penelusuran CNBC Indonesia, hadirnya KDMP di desa tersebut turut membantu para petani dan pelaku usaha mikro kecil dan menegah (UMKM).
Apalagi, masyarakat Desa Panerusan Wetan mayoritas mata pencahariannya yakni petani, baik petani padi, jagung, maupun kopi.
Panerusan Wetan adalah satu dari 15 desa yang ada di wilayah Kecamatan Susukan. Luas wilayahnya mencapai 2,99 km2 dengan jumlah penduduk 3.215 jiwa.
Banyak masyarakat, terutama para petani dan UMKM mulai terbantu dengan adanya KDMP, mulai dari mudahnya pembelian pupuk hingga gas elpiji.
Salah satunya yakni Suhardi, petani padi di Desa Panerusan Wetan, di mana sejak adanya KDMP, ia mengaku kini lebih mudah mendapatkan pupuk subsidi untuk keperluan penanaman padinya. Bahkan, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau.
"Sejak ada Koperasi Desa Merah Putih di Desa Panerusan Wetan, kami sangat terbantu, jadi kalau mau beli pupuk, enggak usah jauh-jauh lagi, harga juga lebih murah," kata Suhardi kepada CNBC Indonesia, Rabu (19/8/2026).
Suhardi mengaku sebelum adanya KDMP, Ia perlu mencari pupuk cukup jauh ke arah timur dari desa tersebut. Sebelum adanya KDMP, untuk mendapatkan pupuk dirinya harus ke Pasar Purwareja Klampok yang jaraknya sekitar 5 km dari Desa Panerusan Wetan.
Harganya pupuk juga lebih mahal sebelum adanya KDMP, di mana harganya bisa lebih dari Rp8.000 per kg. Kini, pupuk sudah tersedia di KDMP dengan harga yang lebih murah yakni sekitar Rp8.000 per kg.
"Dulu sebelum ada KDMP, kami harus cari pupuk cukup jauh, harganya juga agak mahal, belum karena jauh, harus pakai motor," terang Suhardi.
Pihaknya menambahkan, sebelum adanya KDMP, persyaratan untuk mengambil pupuk bersubsidi juga cukup rumit, di mana Ia harus memiliki Kartu Tani.
"Semenjak ada KDMP, kalau mau beli pupuk, tinggal beli saja, jadi makin mudah," ujar Suhadi.
Tak hanya Suhadi sebagai petani, Eko, pelaku UMKM yang menjual kopi robusta juga mengaku terbantu dengan adanya KDMP di Desa Panerusan Wetan.
Sebelum adanya KDMP, Ia hanya menjual kopinya kepada pembeli kecil yang berada di sekitar rumahnya. Penjualannya pun masih cukup kecil yakni 3-5 kg per hari. Penghasilannya pun hanya mendapatkan Rp600.000 per hari.
"Sebelum ada KDMP, cuma laku ya 3-5 kg lah per hari, penghasilannya ya cuma Rp600.000 per hari," kata Eko.
Sejak adanya KDMP, penjualan kopinya pun meningkat menjadi 7 kg per hari. Penghasilannya pun meningkat drastis hingga Rp1,5 juta per hari
Menurut Pak Eko, tahun lalu ada orang dari Australia yang datang dan meminta produk tersebut dikirim ke Australia.
"Sejak ada KDMP, ada kenaikan penjualan, jadi 7 kg per hari, bahkan juga sempat ada permintaan dari Australia," kata Eko.
Eko mengaku kopi yang diproduksi dan dijual berasal dari para petani di kawasan Pegunungan Sitata.
(mae/mae)