Modal Rp18 Juta Kini Cuan Rp625 Juta, Koperasi Desa Jadi Mesin Ekonomi
Kecamatan Susukan memiliki potensi pertanian yang kuat berkat dukungan lahan subur, curah hujan yang memadai, serta ekosistem yang beragam.
Kondisi ini membuat sektor pertanian dan kehutanan menjadi penopang ekonomi lokal, dengan komoditas mulai dari padi, sayuran, dan hortikultura hingga tanaman perkebunan seperti kopi dan teh.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banjarnegara mencatat di antara tanaman perkebunan, kopi mendominasi. Jumlah tanaman kopi di Banjarnegara per 2023 mencapai 3,92 juta pohon atau 79% dari total tanaman perkebunan.
Jumlah tanaman perkebunan di Kabupaten Banjarnegara Foto: BPS |
Susukan adalah salah satu sentra tanaman kopi dengan luas lahan mencapai 31,24 hektar.
Luas lahan perkebunan di Banjarnegara Foto: BPS |
Sementara itu, Kepala KDMP Desa Panerusan Wetan Adi Wibowo mengatakan kehadiran KDMP tersebut disambut baik oleh masyarakat desa, terutama para petani dan UMKM.
"Kehadiran KDMP sangat membantu masyarakat di desa kami. Para petani kini tak perlu jauh-jauh ke Pasar Purwareja Klampok untuk mendapatkan pupuk, begitu juga masyarakat lainnya, kini sudah bisa membeli beras, gas elpiji dekat dengan rumahnya," kata Adi.
Adi menjelaskan, pada awal pembentukan KDMP 17 Agustus 2025, modal awal yang disiapkan sebesar Rp18 juta. Pada November 2025, Ia memperoleh keuntungan sekitar Rp200 juta.
Bahkan setelah setahun berdiri, keuntungannya meningkat drastis menjadi Rp625 juta
"Modal awal di 17 Agustus tahun lalu, itu sekitar Rp18 juta, sekarang sudah mendapatkan keuntungan hingga Rp625 juta," terang Adi.
Sejumlah warga membeli kebutuhan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (20/8/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Sejumlah warga membeli kebutuhan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (20/8/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) |
Anggota aktif KDMP Desa Panerusan Wetan juga kian bertambah. Jika pada tahun lalu mencapai 314 anggota, kini sudah mencapai 525 anggota.
"Alhamdulillah, kepercayaan itu masih terjadi hingga kini, sekarang KDMP di sini anggotanya sudah mencapai 525, termasuk para petani dan UMKM," ujarnya.
Dengan kehadiran KDMP, sektor pertanian di Panerusan Wetan dan Kabupaten Banjarnegara diharapkan mampu semakin tumbuh pesat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama lima tahun terakhir (2021-
2025) struktur perekonomian Banjarnegara ditopang oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Kontribusi pertanian terhadap PDB Banjaregara mencapai 27% lebih.
Ekonomi Banjarnegara sendiri terus tumbuh hingga mencapai 5,26% pada 2025 atau di atas angka nasional (5,11%).
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Hendro Cahyono SE, M.Si menjelaskan kopdes memiliki dua nilai strategis utama yakni menumbuhkan kembali nilai kekeluargaan dan gotong royong yang mulai memudar di masyarakat serta menghidupkan ekonomi desa.
"Koperasi dapat menjadi wadah untuk menghidupkan kembali semangat tersebut sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat," ujarnya saat diwawancari CNBC.
Banjarnegara memiiki 20 kecamatan di mana masing-masing wilayah punya keunggulan, punya potensi yang berbeda-beda mulai dari sayuran, kopi, ternak, dan komoditas lainnya.
Seiring perkembangan digital dan teknologi, hasil pertanian di koperasi juga berkembang lebih maju.
Hendro menambahkan kini penjualan tidak harus dilakukan secara fisik. Digitalisasi dan penjualan online juga mulai dimanfaatkan. Bahkan, sejumlah KDMP sudah mulai menjalankan penjualan secara daring.
"Jadi (koperasi) tidak hanya menampung dan menampung ini kan sekarang bisa virtual dalam arti tidak barangnya di situ bisa membangun dengan digital dengan nya penjualan online sekarang sudah sudah mulai ada. Jadi digitalisasi juga kita manfaatkan untuk membangun koperasi itu." Imbuhnya.
Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih di Panerusan Wetan menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya berperan sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat desa.
Kemudahan akses pupuk dan kebutuhan pokok membantu petani menekan biaya serta mempermudah kegiatan produksi, sementara pelaku UMKM mendapatkan peluang pasar yang lebih luas hingga menembus pasar ekspor.
Dengan demikian, KDMP berpotensi memperkuat rantai ekonomi desa dari produksi, distribusi hingga pemasaran, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
(mae/mae)

