MARKET DATA

Harga Beras Kembali Melonjak, Benarkah Petani Ikut Tersenyum?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
02 June 2026 18:10
Ilustrasi Beras Jepang. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Beras Jepang. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras kembali naik pada Mei 2026. Kenaikan terjadi dari hulu hingga hilir. Di tingkat penggilingan, harga rata-rata beras mencapai Rp13.765 per kilogram.

Di tingkat grosir berada di Rp14.574 per kilogram, sementara di tingkat eceran sudah menyentuh Rp15.358 per kilogram. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam rangkaian data beberapa tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga beras di tingkat penggilingan naik 0,58% dibandingkan April 2026.

Di tingkat grosir kenaikannya mencapai 0,68%, sedangkan di tingkat eceran bertambah 0,38%. Dalam hitungan tahunan, laju kenaikannya bahkan lebih besar. Harga beras di penggilingan melonjak 8,10% dibandingkan Mei tahun lalu, grosir naik 6,11%, dan eceran meningkat 4,55%.

Bagi konsumen, kabar tersebut tentu kurang menyenangkan. Beras masih menjadi makanan pokok mayoritas rumah tangga Indonesia. Kenaikan harga beras selalu berpengaruh terhadap pengeluaran keluarga, terutama kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang porsi belanja pangannya masih didominasi kebutuhan pokok.

Perkembangan Harga BerasPerkembangan Harga Beras Foto: BPS

Cerita yang berbeda di sisi produsen. Saat harga beras bergerak naik, kondisi ekonomi petani justru mengalami perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 tercatat 127,73 atau naik 1,99% dibandingkan bulan sebelumnya.

NTP merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan tukar hasil produksi petani terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun gunakan dalam proses produksi.

Kenaikan NTP terjadi karena laju pendapatan petani lebih cepat dibandingkan kenaikan pengeluaran mereka. Indeks Harga Terima Petani (It) naik 2,53% menjadi 163,16. Pada saat yang sama, Indeks Harga Bayar Petani (Ib) hanya naik 0,53% menjadi 127,74. Dengan kata lain, nilai penjualan hasil pertanian bertambah lebih besar daripada kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani.

 

Kondisi tersebut terlihat jelas pada kelompok tanaman pangan. NTP subsektor tanaman pangan mencapai 113,79 atau naik 1,34% dibandingkan April. Salah satu pendorong utamanya berasal dari kenaikan harga gabah. Ketika harga gabah membaik, pendapatan petani padi ikut terdorong sehingga sebagian dampak kenaikan harga beras di pasar berakhir sebagai tambahan penerimaan di tingkat petani.

Fenomena ini menarik karena selama beberapa tahun terakhir kenaikan harga beras sering kali tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Banyak kasus ketika harga di pasar melonjak, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati rantai distribusi dan perdagangan.

Data Mei 2026 memberi gambaran yang berbeda. Harga beras yang lebih tinggi kali ini disertai peningkatan indikator kesejahteraan petani secara nasional.

 

Meski demikian, gambaran tersebut tidak merata di seluruh sektor pertanian. Subsektor hortikultura menjadi bintang pada Mei dengan NTP mencapai 140,58 setelah melonjak 7,08% dalam sebulan. Subsektor perkebunan rakyat masih menjadi yang tertinggi secara absolut dengan indeks 164,24, ditopang harga komoditas seperti karet dan kakao. Sementara itu peternakan hanya mencatat kenaikan tipis menjadi 103,86.

Nilai tukar petaniNilai tukar petani Foto: BPS

 

Perhatian justru tertuju pada sektor perikanan. Saat sebagian besar subsektor menikmati perbaikan daya beli, Nilai Tukar Petani Perikanan turun 0,64% menjadi 107,01. Nilai Tukar Nelayan tercatat 107,48 atau turun 0,47%, sedangkan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan turun lebih dalam sebesar 0,90% menjadi 106,25.

Artinya, keuntungan yang dinikmati petani dari kenaikan sejumlah komoditas belum dirasakan oleh pelaku usaha perikanan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular