China Mulai Kepung Timur Tengah, J-16 Tantang Rafale di Langit Mesir
Jakarta, CNBC Indonesia - China semakin aktif menunjukkan kekuatan militernya di luar kawasan Asia. Enam jet tempur J-16 diterbangkan ke Mesir pada pekan terakhir Agustus untuk mengikuti latihan bersama bertajuk Eagles of Civilisation.
Latihan tersebut menjadi perhatian karena J-16 termasuk jet tempur China dengan jangkauan jauh dan kapasitas persenjataan besar. Pesawat itu juga untuk pertama kalinya menjalani simulasi pertempuran melawan Rafale buatan Prancis.
Dilansir dari The Economist, pengerahan tersebut memperlihatkan ambisi Beijing memperluas operasi udaranya sekaligus menawarkan persenjataan China kepada negara-negara Timur Tengah.
China Mulai Menjangkau Timur Tengah
Latihan China dan Mesir berlangsung sekitar dua pekan dan diperkirakan berakhir pada awal September. Waktunya berdekatan dengan rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Mesir untuk pertama kalinya dalam satu dekade.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Namun, kehadiran Xi yang beriringan dengan latihan militer turut menegaskan besarnya kepentingan China di Timur Tengah.
Mesir selama ini memiliki hubungan pertahanan erat dengan Amerika Serikat (AS). Kairo menggunakan berbagai persenjataan buatan AS, termasuk jet tempur F-16 yang mulai dibeli sejak 1980.
Kehadiran J-16 menunjukkan bahwa Mesir mulai membuka pilihan dari luar AS untuk memenuhi kebutuhan pertahanannya. Perubahan itu berlangsung ketika muncul keraguan terhadap kemampuan Washington menjaga keamanan kawasan.
Perang melawan Iran telah menguras persediaan persenjataan AS dan merusak sejumlah pangkalan militernya. Situasi tersebut membuka ruang bagi Beijing untuk memperkuat hubungan pertahanan dengan negara-negara Timur Tengah.
Namun, China belum memiliki kekuatan maupun keinginan untuk sepenuhnya menggantikan AS. Beijing lebih berfokus membangun kapasitas operasi terbatas untuk membantu negara mitra serta melindungi jalur perdagangan dan pasokan energi.
J-16 dan Rafale Berhadapan di Langit Mesir
Televisi pemerintah China menayangkan rekaman dari kokpit J-16 yang memperlihatkan Rafale bermanuver di dekatnya. Simulasi digelar dalam skenario satu lawan satu dan dua lawan dua.
Kedua pesawat memiliki karakter berbeda. J-16 merupakan jet tempur berat bermesin ganda yang dirancang untuk menjalankan misi jarak jauh dengan membawa persenjataan dalam jumlah besar.
Sementara itu, Rafale merupakan jet tempur multirole bermesin ganda dengan ukuran lebih kecil. Pesawat buatan Dassault Aviation itu mengandalkan kelincahan, sistem sensor, dan perangkat peperangan elektronik.
Perbedaan tersebut membuat simulasi dengan Rafale lebih berharga dibandingkan latihan menggunakan jenis pesawat yang sama. Pilot China dapat mengenali pola manuver dan respons Rafale dalam pertempuran jarak dekat.
Kedua pihak juga berpeluang mengumpulkan informasi mengenai karakter pesawat masing-masing. Namun, hasil simulasi tidak diumumkan sehingga tidak dapat diketahui jet mana yang lebih unggul.
India Dibuat Ketar-Ketir
Pertemuan dengan Rafale memiliki nilai strategis tersendiri bagi China karena pesawat tersebut juga menjadi salah satu jet tempur utama Angkatan Udara India.
Hubungan China dan India masih dibayangi sengketa perbatasan. Perselisihan tersebut sempat memicu bentrokan mematikan di wilayah Himalaya pada 2020.
Perhatian Beijing terhadap Rafale meningkat setelah konflik India dan Pakistan pada 2025. Dalam pertempuran tersebut, pesawat tempur buatan China yang digunakan Pakistan disebut berhasil menjatuhkan sejumlah jet India.
Setidaknya satu Rafale India diduga ikut ditembak jatuh. Pemerintah India mengakui kehilangan sejumlah pesawat, tetapi membantah bahwa Rafale termasuk di antaranya.
Terlepas dari perbedaan klaim tersebut, latihan di Mesir memberi pilot China pengalaman menghadapi pesawat yang juga digunakan rivalnya di Asia.
Latihan Sekaligus Pamer Senjata China
Latihan bersama turut menjadi panggung bagi China untuk memperkenalkan jet tempurnya kepada Mesir.
Pada 2024, Mesir dikabarkan memesan sejumlah J-10 buatan China. Beijing membantah laporan tersebut dan hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai pembelian pesawat itu.
China kemudian membawa J-10 dalam latihan bersama pertama dengan Mesir pada 2025. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya meyakinkan Kairo agar memilih J-10 untuk menggantikan armada F-16 yang mulai menua.
Kali ini, Beijing menerjunkan J-16 yang lebih besar dan memiliki daya jelajah lebih jauh. Karakter tersebut dapat mendukung operasi Mesir di Laut Merah, Tanduk Afrika, dan wilayah lain yang jauh dari pangkalan utama.
Penjualan jet kepada Mesir akan memberi China pijakan penting di pasar persenjataan Timur Tengah. Kesepakatan itu juga berpotensi membuka jalan ke negara lain yang selama ini bergantung pada teknologi militer AS dan Eropa.
China Dekati Negara Arab
Diplomasi militer China di Timur Tengah juga menyasar Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), meskipun kedua negara memiliki hubungan pertahanan kuat dengan AS.
China dan UEA dijadwalkan kembali mengadakan latihan udara bersama di wilayah barat laut China pada akhir Agustus. Latihan serupa telah berlangsung setiap tahun sejak 2023.
Jenis pesawat yang dilibatkan dalam latihan terbaru belum diumumkan. Namun, latihan sebelumnya menghadirkan Mirage buatan Prancis milik UEA. Jet tersebut juga digunakan Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari teritorinya.
Rangkaian latihan itu memperlihatkan cara Beijing menggabungkan diplomasi pertahanan, promosi persenjataan, dan peningkatan pengalaman operasional.
China memang belum dapat menandingi jaringan pangkalan militer AS. Namun, pengerahan J-16 ke Mesir menunjukkan bahwa Beijing terus memperluas jangkauannya menuju kawasan yang penting bagi perdagangan dan pasokan energinya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)