China Kalahkan AS, Gara-Gara Warganya Rajin Menabung
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tekanan yang melanda pasar obligasi negara-negara maju, pasar obligasi China justru bergerak berlawanan arah. Ketika yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan banyak negara maju melonjak, yield obligasi China terus bergerak turun.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026), yield obligasi pemerintah China tenor 10 tahun berada di level 1,692%. Pada saat yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,794% dan sempat menyentuh 4,8%, atau level tertingginya sejak November 2023.
Kini, yield obligasi China tenor 10 tahun sekitar 310 basis poin lebih rendah dibandingkan US Treasury tenor serupa.
Selisih tersebut menjadi yang terlebar sejak Januari tahun lalu dan berpeluang mencetak rekor baru jika pergerakan keduanya terus berlanjut.
Padahal, sepanjang 2010 hingga 2022, yield obligasi China hampir selalu berada di atas US Treasury.
Obligasi pemerintah di banyak negara tengah mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap inflasi, kredibilitas kebijakan, dan membengkaknya utang. Kondisi tersebut mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah.
Tekanan Deflasi Menahan Yield
Ketika negara-negara di dunia berjibaku menurunkan inflasi, China justru masih berusaha keluar dari tekanan deflasi yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari krisis properti yang melanda Negeri Tirai Bambu sejak 2021. Kejatuhan sektor properti membebani konsumsi, aktivitas ekonomi, dan pergerakan harga.
Inflasi yang rendah membuat investor tidak menuntut imbal hasil lebih besar untuk melindungi nilai investasinya. Kondisi tersebut juga membuka ruang bagi Bank Sentral China (PBoC) untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Gabungan dari inflasi rendah dan kebijakan moneter yang longgar berakibat pada obligasi pemerintah China yang tetap diminati sehingga dapat menahan kenaikan imbal hasil.
Meski demikian, mulai muncul tanda-tanda bahwa tekanan deflasi China mereda. Inflasi produsen yang sebelumnya negatif selama hampir empat tahun berbalik positif pada awal tahun ini dan menembus 4% pada Juni 2026.
Deflator produk domestik bruto (PDB) China juga kembali positif pada kuartal II-2026 setelah berada di zona negatif selama empat tahun.
Dalam kondisi normal, membaiknya tekanan harga seharusnya mulai mendorong yield obligasi China naik. Namun, pergerakannya tetap rendah karena ditahan oleh besarnya permintaan dari dalam negeri.
Warga China Rajin Nabung
China memiliki tabungan domestik yang jauh lebih besar dibandingkan negara-negara maju. Berdasarkan data Bank Dunia, rasio tabungan domestik bruto China mencapai 43,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2024.
Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata negara G7 yang sebesar 22,5% terhadap PDB. Rasio tabungan China juga sekitar 2,3 kali lebih besar dibandingkan Amerika Serikat yang mencapai 18,5%.
Tabungan domestik bruto merupakan bagian dari pendapatan ekonomi yang tidak digunakan untuk konsumsi. Angka ini tidak hanya mencakup tabungan rumah tangga, tetapi juga tabungan perusahaan dan pemerintah.
Tingginya rasio tersebut menunjukkan besarnya dana yang tersedia untuk diinvestasikan di China. Namun, kondisi ini juga mencerminkan konsumsi domestik yang masih lemah karena sebagian besar pendapatan tidak dibelanjakan.
Dana tersebut juga tidak mudah mengalir ke luar negeri. Kontrol modal yang diterapkan Beijing membatasi masyarakat dan perusahaan China dalam memindahkan serta menginvestasikan dananya di negara lain.
Pada saat yang sama, pilihan investasi di dalam negeri semakin terbatas. Properti yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan utama investasi masyarakat belum pulih dari krisis yang dimulai pada 2021.
Pasar saham juga masih dianggap terlalu berisiko oleh sebagian investor. Indeks saham unggulan CSI 300 bahkan masih berada sekitar 20% di bawah posisi tertingginya pada 2021.
Kondisi tersebut membuat masyarakat memilih menyimpan dana di perbankan atau menempatkannya pada produk investasi yang lebih aman. Dana ini kemudian disalurkan bank, perusahaan asuransi, dan pengelola investasi ke obligasi pemerintah China.
Aliran dana domestik yang besar membuat permintaan terhadap obligasi pemerintah tetap kuat. Ketika permintaan meningkat, harga obligasi naik dan yield bergerak turun.
Permintaan tersebut diperkirakan tetap mampu menyerap tambahan penerbitan obligasi apabila Beijing meningkatkan belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Analis HSBC bahkan memperkirakan yield obligasi pemerintah China tenor 10 tahun dapat turun hingga 1,5% pada akhir tahun ini.
Namun, rendahnya yield tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi China. Kondisi tersebut juga menunjukkan besarnya dana domestik yang tertahan di dalam negeri, sementara masyarakat masih enggan meningkatkan konsumsi dan memiliki pilihan investasi yang terbatas.
Di Balik Yield Rendah, Utang China Menggunung?
Keberhasilan China mempertahankan yield obligasi di level rendah tidak serta-merta menunjukkan kondisi fiskalnya lebih sehat dibandingkan negara maju.
Memang secara rasio utang pemerintah China terhadap PDB nya bisa dikategorikan cukup rendah. Rasionya diproyeksikan sekitar 75% terhadap PDB pada tahun ini. Angka tersebut bahkan jauh lebih rendah dibandingkan mayoritas negara G7, kecuali Jerman.
Namun, itu belum menggambarkan seluruh beban utang China. Pemisahan antara kewajiban pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga pembiayaan milik daerah banyak yang menilai tidak terlihat jelas.
Kondisi ini tersebut membuat posisi fiskal China tampak lebih kuat di permukaan daripada keadaan sebenarnya.
Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) memiliki perhitungan lebih luas melalui augmented debt. Ukuran ini turut memasukkan utang pemerintah daerah yang dihimpun melalui local government financing vehicles atau LGFV.
Berdasarkan perhitungan tersebut, rasio utang China diperkirakan mencapai 136% terhadap PDB pada tahun ini. Angkanya bahkan diproyeksikan melampaui 150% pada akhir dekade.
Rasio tersebut mendekati tingkat utang Amerika Serikat dan Italia, dua negara yang kini menghadapi kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal dan kenaikan biaya pinjaman.
Analis Barclays menilai kondisi fiskal China sebenarnya tidak sesuai dengan profil negara yang dapat menerbitkan utang dengan yield hanya sekitar 1,7%. China masih menghadapi krisis properti yang menggerus pendapatan pemerintah daerah serta besarnya kewajiban yang tidak tercatat dalam neraca resmi.
Jika hanya melihat kondisi fiskalnya, yield obligasi China seharusnya lebih tinggi, bukan justru jauh di bawah negara-negara Barat.
Hal tersebut memperkuat penilaian bahwa rendahnya yield China bukan terutama berasal dari fiskal yang sehat. Penyebabnya lebih banyak berkaitan dengan tekanan deflasi, tabungan domestik yang tinggi, kontrol modal, dan terbatasnya pilihan investasi aman.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)