MARKET DATA
Newsletter

3 Badai Siap Hantam RI: Sinyal Kenaikan Fed, Perang & Minyak Membara

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
30 July 2026 06:30
Presiden Donald Trump berbicara di upacara pemakaman Senator Lindsey Graham, R-S.C., di Katedral Nasional Washington, Selasa, 28 Juli 2026, di Washington. (Alex Brandon/Pool via REUTERS)
Foto: Presiden Donald Trump berbicara di upacara pemakaman Senator Lindsey Graham, R-S.C., di Katedral Nasional Washington, Selasa, 28 Juli 2026, di Washington. (via REUTERS/Alex Brandon)

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan berat pada hari ini di tengah banyaknya kabar buruk. Memanasnya perang, pandangan bank sentral AS The Fed yang semakin hawkish dan lonjakan harga minyak akan membebani pasar.

1. Perkembangan Perang

Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik AS, Energos Winter, di Pelabuhan Damietta, Mesir, pada Rabu waktu setempat. Insiden ini terjadi bersamaan dengan ancaman Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan membalas serangan Iran terhadap pasukan AS.
"Kami akan menghajar mereka habis-habisan," kata Trump kepada Fox News.

Militer AS mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang diluncurkan Iran dalam serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut serangan drone memicu kebakaran di kapal yang kemudian merembet ke kapal lain. Sementara itu, Kementerian Perminyakan Mesir hanya mengonfirmasi adanya kebakaran di pelabuhan tanpa menyebut penyebabnya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Eskalasi juga terjadi di berbagai front. Iran mengaku meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Yordania dan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, sementara AS bersama Arab Saudi menggempur milisi pro-Iran di Irak.

Di Irak, kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF) mengklaim sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan gabungan AS-Arab Saudi. Washington menyebut operasi tersebut merupakan balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Sementara itu, militer AS mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal Iran terhadap pasukannya di Yordania. Militer Yordania juga mengatakan telah mencegat lima rudal Iran, sedangkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan rudal ke pangkalan AS dan menyerang tiga kapal tanker di Selat Hormuz.

2. Harga Minyak Melonjak, Imbal Hasil Terbang

Harga minyak kembali melonjak pada perdagangan Rabu kemarin (29/7/2026). Harga minyak brent terbang 7,9% ke US$ 90,74 per barel sedangkan WTI melonjak 6,56% ke US$ 84,46 per barel.

Kenaikan ini menghapus tren harga minyak yang ambruk 16% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.

Lonjakan harga minyak tentu berdampak besar terhadap risiko kenaikan inflasi sehingga bisa membuat suku bunga bisa menanjak.

3. The Fed Tahan Suku Bunga Tetapi Makin Hawkish


Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) kembali menahan suku bunga acuannya di 3,50-3,75% pada Rabu waktu AS (Kamis dini hari WIB). Namun, keputusan tersebut dibayangi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga semakin menguat.

Keputusan FOMC diambil dengan suara 9 berbanding 3.

Tiga pejabat yang berbeda pendapat, yakni Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Ini merupakan perbedaan suara terbesar terkait arah suku bunga sejak September 2016.

Dalam pernyataannya, The Fed menegaskan aktivitas ekonomi masih tumbuh solid meski ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah tetap tinggi. Bank sentral juga mengakui inflasi masih berada di atas target 2%, sebagian dipicu gangguan pasokan dan kenaikan harga energi, serta menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga.


Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral tidak lagi akan memberikan forward guidance atau petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya. Meski begitu, ia menegaskan The Fed siap bertindak bila diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target.

Minimnya sinyal dari Warsh membuat pasar harus menafsirkan sendiri arah kebijakan The Fed, di tengah ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah dan potensi dampak AI terhadap inflasi. Meski inflasi AS melandai pada Juni, kenaikan harga energi dinilai berpotensi kembali mendorong tekanan harga.

Warsh sebelumnya menegaskan dirinya tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun.

"Kami telah memulai babak baru dan memahami bahwa inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun tidak bisa diselesaikan hanya dalam sembilan minggu atau hanya karena satu bulan penurunan harga yang moderat. The Fed tidak akan goyah dalam mengembalikan inflasi ke target 2%," tegas Warsh.

Meski enggan mengungkapkan arah kebijakan berikutnya, Warsh menegaskan FOMC tidak akan ragu bertindak apabila diperlukan.

"Keputusan komite ini sangat penting, dan bila diperlukan serta dinilai tepat, kami tidak akan ragu mengambil tindakan," katanya.

4. Data PCE AS Juni 2026 dan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026

Pada hari ini, AS akan mengumumkan data inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Indikator inflasi ini merupakan favorit Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan.

Sebagai catatan, inflasi PCE AS naik 0,4% secara bulanan pada Mei 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,5%. Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 0,3%, sesuai perkiraan.

Secara tahunan, inflasi PCE meningkat menjadi 4,1%, level tertinggi sejak April 2023, dari 3,8% pada bulan sebelumnya. Sementara core PCE naik menjadi 3,4%, tertinggi sejak Oktober 2023 dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.



Sejalan dengan itu, pada pertemuan Juni 2026, The Fed menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 3,6% untuk PCE dan 3,3% untuk core PCE, menandakan tekanan inflasi diperkirakan masih bertahan.

Di hari yang ini, pemerintah AS juga merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II. Setelah ekonomi tumbuh 2,1% pada kuartal pertama, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 2,2%.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dan inflasi yang belum kembali ke target dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.


5. Rapat Bank of England (BoE) 

Selain dari negeri Paman Sam, kawasan Eropa juga diperkirakan akan ramai hari ini.

Pasar Eropa akan dipengaruhi keputusan bank sentral, data ekonomi, dan laporan keuangan perusahaan.

Sorotan utama adalah rapat Bank of England (BoE) pada Kamis. Suku bunga diperkirakan tetap di 3,75%, sementara pelaku pasar akan memperhatikan hasil pemungutan suara anggota dewan dan sinyal kebijakan untuk mengetahui waktu penurunan atau kenaikan suku bunga berikutnya.

Di kawasan euro, perhatian tertuju pada PDB kuartal II yang diperkirakan tumbuh 0,2%, ditopang oleh pertumbuhan Spanyol (0,6%), Prancis (0,2%), Jerman (0,1%), dan Italia (0,1%).

Negara-negara utama Eropa juga akan merilis data inflasi awal Juli dan tingkat pengangguran. Inflasi kawasan euro diperkirakan naik tipis menjadi 2,9%, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 6,2%.

Di Jerman, Indeks Ifo Business Climate diperkirakan membaik untuk bulan ketiga berturut-turut. Swiss juga akan merilis data barometer ekonomi dan penjualan ritel yang diperkirakan menunjukkan perlambatan pertumbuhan.

6. GIAAS Resmi Dibuka

Pameran otomotif terakbar se-Asia Tenggara, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 akan resmi dibuka pada hari ini, Kamis (30/7/2026) di ICE BSD City, Tangerang.

GIIAS merupakan pameran otomotif terbesar di Indonesia yang menjadi barometer industri kendaraan bermotor nasional.
Ajang ini tidak hanya menjadi tempat peluncuran model-model baru dan pengenalan teknologi, khususnya kendaraan listrik (EV), tetapi juga mendorong penjualan otomotif melalui berbagai program promosi.
Dampaknya meluas ke perekonomian karena meningkatkan aktivitas manufaktur, permintaan komponen, penyaluran kredit kendaraan, serta sektor pendukung seperti perbankan, asuransi, logistik, hotel, restoran, dan UMKM. Tingginya transaksi selama GIIAS juga dapat menopang konsumsi rumah tangga dan investasi di sektor otomotif, sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama pada kuartal III dan semester II tahun 2026.

 

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features