MARKET DATA
Newsletter

3 Badai Siap Hantam RI: Sinyal Kenaikan Fed, Perang & Minyak Membara

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
30 July 2026 06:30
New U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh departs at the end of a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric Lee
Foto: REUTERS/Eric Lee

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Penurunan tajam dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah sinyal dari pasar obligasi yang menunjukkan Federal Reserve (The Fed) dinilai mulai tertinggal dalam upaya mengendalikan inflasi setelah kembali mempertahankan suku bunga acuannya.

Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 1.153,18 poin atau 2,19% ke level 51.594,14, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025.

Sementara itu, S&P 500 melemah 1,52% ke 7.316,15, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,74% menjadi 24.442,94, sehingga indeks teknologi tersebut kini telah terkoreksi lebih dari 10% dari rekor tertingginya.

Dalam rapat kebijakan terbarunya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Respons pasar obligasi langsung terlihat, dengan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak 7 basis poin hingga menembus 4,67%.

 

Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun melesat 10 basis poin ke atas 5,2%, level tertinggi sejak 2007.

Meski tiga pejabat The Fed menginginkan kenaikan suku bunga, mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) tetap memilih menahan suku bunga. Pernyataan tegas Ketua The Fed Kevin Warsh pun gagal meredakan kekhawatiran pasar obligasi.

"Saya ingin menegaskan bahwa keputusan komite ini sangat penting. Jika diperlukan dan dinilai tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," kata Warsh dalam konferensi pers usai rapat, dikutip dari CNBC International.

Namun, pernyataan tersebut belum cukup meyakinkan investor.

"Kalau benar-benar ingin membawa inflasi kembali ke 2%, saya rasa The Fed harus menaikkan suku bunga," ujar pendiri DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach dalam wawancara dengan CNBC.

Menurut Gundlach, lonjakan yield obligasi setelah pengumuman The Fed merupakan pesan langsung dari pasar kepada Warsh.

 

"Yield obligasi jangka panjang naik tajam setelah konferensi pers karena pasar obligasi pada dasarnya mengatakan, 'Kalau Anda ingin kami percaya dengan retorika Anda, mulailah bertindak,'" ujarnya.

Kekhawatiran terhadap inflasi juga semakin meningkat setelah harga minyak dunia melonjak.

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa AS akan menyerang Iran dengan keras sebagai respons atas serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% dan ditutup di US$84,46 per barel.

Di sisi lain, tekanan jual juga terus menghantam saham-saham semikonduktor. iShares Semiconductor ETF (SOXX) merosot 5,5%, mencatat penurunan selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Saham-saham chip berada di bawah tekanan sepanjang bulan ini seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap imbal hasil dari belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta meningkatnya persaingan dari China.

Saham Micron Technology dan KLA masing-masing anjlok sekitar 10%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) turun 5,5%.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features