Trump Buntu, AS vs Iran Menuju Perang Tanpa Akhir?
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan serangan dalam 48 jam terakhir setelah hampir dua pekan saling menggempur. Jeda ini terjadi setelah AS membombardir Iran selama 13 malam berturut-turut.
Pada Minggu (26/7/2026), Iran menyatakan akan menahan serangan selama AS juga menghentikan pengeboman. Namun, Teheran masih meragukan jeda tersebut akan berlangsung lama.
Konflik kembali memanas setelah Iran menyerang kapal-kapal di Teluk Persia sebanyak 12 kali sejak 6 Juli. Serangan itu membuat pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kembali nyaris terhenti.
Gencatan senjata pada April dan nota kesepahaman pada Juni pun runtuh. AS kembali mengebom Iran pada 7 Juli dan menuntut Teheran menghentikan serangan terhadap kapal, membuka Selat Hormuz, serta kembali membahas program nuklirnya.
Mengutip The Economist, pergerakan jet tempur, pasukan khusus, dan peralatan medis AS menuju Timur Tengah menunjukkan Presiden Donald Trump masih mempertimbangkan perang dalam skala lebih besar.
Setelah pada 23 Juli lalu, Trump sempat mengatakan bahwa AS telah siap melancarkan "serangan besar-besaran". Namun, Washington hanya memiliki sedikit pilihan untuk memaksa Iran memenuhi tuntutannya.
AS dapat memperluas serangan terhadap infrastruktur penting Iran, kembali membombardir fasilitas nuklir, atau mengambil langkah paling berisiko dengan melancarkan perang darat.
Serang Infrastruktur Penting Iran
Pilihan pertama adalah memperluas serangan terhadap infrastruktur penting Iran.
AS telah menyerang ratusan sasaran sejak pengeboman dilanjutkan pada 7 Juli. Sasaran tersebut mencakup sistem pertahanan udara di pesisir, gudang rudal, pusat operasi militer, hanggar pesawat, tempat penyimpanan drone, hingga infrastruktur logistik militer Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom), yang mengendalikan operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan serangan tersebut bertujuan semakin mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Namun, dalam sepekan terakhir mulai terlihat tanda-tanda bahwa sasaran serangan AS semakin luas.
Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan jembatan, pembangkit listrik, dan fasilitas air Iran. Ancaman tersebut kini tampaknya mulai dijalankan.
AS telah menyerang jalan, terowongan, jembatan, dan jalur kereta api menuju Bandar Abbas. Kota pelabuhan di bagian selatan Iran itu menangani sebagian besar perdagangan negara tersebut.
Rangkaian serangan itu membuat Bandar Abbas semakin sulit terhubung dengan wilayah Iran lainnya.
AS juga menyerang fasilitas penyulingan air laut di Bonji, Provinsi Hormozgan. Menurut media pemerintah Iran, serangan tersebut mengganggu pasokan air bagi sekitar 10.000 orang yang tinggal di 20 desa.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas air di Kuwait. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di sejumlah fasilitas.
Sumber Foto: The Economist |
Gedung Putih membantah telah mengebom fasilitas sipil. Pemerintah AS menyatakan serangannya hanya menyasar target militer, termasuk infrastruktur logistik militer.
Pada 21 Juli, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya serangan terhadap fasilitas penyulingan air di Bonji.
Serangan yang sengaja diarahkan terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Meski demikian, Pentagon di bawah pemerintahan Trump berulang kali mengecilkan peran Konvensi Jenewa dan hukum internasional dalam operasi militernya.
Memperluas serangan terhadap infrastruktur Iran juga membawa risiko besar. Serangan terhadap fasilitas listrik, air, jalan, dan pelabuhan dapat memperburuk kondisi masyarakat sipil sekaligus memancing Iran memperluas serangannya ke negara-negara lain di kawasan.
Fasilitas Nuklir Kembali Jadi Sasaran
Pilihan kedua adalah kembali menyerang fasilitas nuklir Iran.
Fasilitas-fasilitas tersebut sebelumnya telah diserang AS dan Israel pada tahun lalu, kemudian kembali menjadi sasaran pada Februari 2026.
Serangan AS diperkirakan telah menimbulkan kerusakan serius pada fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz dan Fordow.
Di fasilitas tersebut terdapat ruang bawah tanah berisi mesin sentrifugal. Mesin ini digunakan untuk meningkatkan tingkat kemurnian uranium hingga mendekati kadar yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.
Fordow telah dihantam menggunakan bom penghancur bunker atau bunker-buster pada musim panas tahun lalu.
Namun, fasilitas lain di Natanz, yakni Kuh-e Kolang Gaz La atau dikenal sebagai Pickaxe Mountain, tampaknya belum tersentuh serangan.
Pada 22 Juli, Trump kembali mengancam akan membombardir gunung tersebut.
Trump sebelumnya juga menyampaikan ancaman serupa pada 13 Juli. Saat itu, ia mengakui AS belum melihat adanya aktivitas di lokasi tersebut, tetapi tetap berniat menghancurkannya.
"Minta Iran untuk bersiap," kata Trump.
Institute for Science and International Security memperkirakan fasilitas tersebut masih dalam tahap pembangunan dan belum beroperasi. Meski demikian, Wall Street Journal melaporkan Iran telah memindahkan ribuan mesin sentrifugal ke lokasi itu.
Trump dapat memerintahkan serangan terhadap jaringan listrik, saluran ventilasi, dan terowongan masuk fasilitas tersebut. AS juga dapat menggunakan bom penghancur bunker untuk menyerang ruang bawah tanahnya secara langsung.
Masalahnya, fasilitas itu berada sangat jauh di bawah permukaan tanah.
James Acton dari Carnegie Endowment meragukan senjata AS mampu meruntuhkan terowongan ataupun menghancurkan peralatan yang tersimpan di dalamnya.
Menurut Acton, fasilitas bawah tanah yang sangat dalam seperti Pickaxe Mountain pada dasarnya tidak dapat dihancurkan menggunakan senjata non-nuklir.
Serangan terhadap fasilitas tersebut mungkin dapat memperlambat program nuklir Iran. Namun, menghancurkan mesin sentrifugal tidak akan serta-merta memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Iran juga masih dapat membangun kembali fasilitas yang rusak, memindahkan peralatan ke lokasi lain, atau membuat instalasi baru yang berada lebih jauh di bawah tanah.
Pilihan Paling Berisiko: Perang Darat
Pilihan ketiga sekaligus yang paling ekstrem adalah melancarkan serangan darat.
Trump sempat mempertimbangkan pilihan tersebut pada awal 2026, tetapi kemudian menolaknya.
Serangan AS terhadap jalan, jembatan, terowongan, dan jalur kereta api di Iran selatan memunculkan dugaan bahwa Washington sedang mempersiapkan kemungkinan perang darat.
Penghancuran jalur transportasi dapat digunakan untuk menghambat datangnya pasukan tambahan Iran ke wilayah selatan.
Serangan darat dapat menyasar Pulau Kharg, terminal penting bagi ekspor minyak Iran, wilayah pesisir Teluk Persia, atau kawasan di sekitar Selat Hormuz.
AS masih memiliki dua kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah serta kekuatan amfibi dalam jumlah besar. Pasukan amfibi mempunyai kemampuan untuk melancarkan operasi militer dari laut menuju daratan.
Meski demikian, perang darat tetap kecil kemungkinannya terjadi.
Pendudukan AS atas Pulau Kharg memang dapat menghentikan ekspor minyak Iran. Namun, Angkatan Laut AS saat ini sudah melakukan hal serupa dari jarak yang lebih aman melalui blokade laut.
Pasukan AS yang ditempatkan di Pulau Kharg juga akan menjadi sasaran yang mudah dijangkau rudal dan drone Iran.
Menduduki wilayah pesisir Iran di Teluk Persia juga tidak akan sepenuhnya menghentikan serangan Iran. Rudal dan drone masih dapat diluncurkan dari wilayah yang lebih jauh di pedalaman.
Sementara itu, operasi darat untuk merebut atau menghancurkan stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi akan menjadi salah satu serangan militer terbesar dan paling rumit dalam sejarah.
Pasukan AS harus masuk jauh ke wilayah Iran, menembus pertahanan militer, menguasai fasilitas bawah tanah, kemudian menemukan dan membawa keluar atau menghancurkan stok uranium tersebut.
Operasi sebesar itu mempunyai peluang kegagalan yang tinggi dan berisiko menyeret AS ke dalam perang darat berkepanjangan.
Lokasi Foto: The Economist |
Iran Tak Akan Tinggal Diam
Apa pun pilihan yang diambil Trump, Iran mempunyai kemampuan untuk membalas.
Teheran telah melancarkan serangan yang menyebabkan hampir 100 tentara AS terluka sepanjang Juli 2026 saja.
Wilayah perang juga semakin meluas. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, Iran menyerang Arab Saudi.
Iran turut menargetkan Aqaba, kota pelabuhan di Laut Merah yang berada di bagian selatan Yordania. Sebelumnya, serangan Iran juga menyasar fasilitas listrik dan air di Kuwait.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kini melambat drastis. Kapal-kapal menghadapi risiko serangan rudal, drone, penyitaan, hingga ranjau laut ketika berusaha melewati jalur tersebut.
Konflik juga mulai merambat ke Laut Merah.
Pada 25 Juli, Arab Saudi menyerang sejumlah sasaran di Yaman. Serangan itu merupakan balasan atas serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Houthi merupakan kelompok pemberontak di Yaman yang mendapat dukungan Iran. Kelompok tersebut juga mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Saudi yang melewati jalur tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah membuat dua jalur penting perdagangan energi dunia berada dalam tekanan pada saat bersamaan.
Pada 23 Juli, harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan terjadi setelah serangan Houthi dan pengumuman blokade terhadap kapal-kapal Saudi.
Harga Brent kemudian turun kembali menjadi US$97 per barel sehari setelahnya.
Di dalam negeri AS, dukungan terhadap perang Trump berada di dekat level terendah sepanjang sejarah. Biaya perang tersebut telah mencapai hampir US$38 miliar.
Tekanan politik terhadap Trump juga semakin besar karena pemilu sela AS akan berlangsung sedikit lebih dari tiga bulan lagi.
Perang Berkepanjangan Jadi Skenario Terbesar
Para diplomat Arab berharap dapat meyakinkan Trump bahwa gencatan senjata selama 10 hari merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan melanjutkan serangan besar-besaran.
Jeda tersebut dapat memberikan waktu bagi kedua negara untuk kembali berunding mengenai pelayaran di Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Namun, belum ada alasan kuat untuk meyakini Iran akan membuka kembali Selat Hormuz atau menghentikan program nuklirnya.
Teheran menganggap kendali atas Selat Hormuz sebagai alat penting untuk menghadapi tekanan militer dan ekonomi AS. Program nuklir juga menjadi salah satu sumber daya tawar utama Iran dalam perundingan.
Ilan Goldenberg, mantan pejabat AS yang kini bekerja di J Street, organisasi advokasi pro-Israel yang mendukung pendekatan diplomatik, menilai keadaan saat ini berpeluang menjadi kondisi baru yang berlangsung lama.
Situasi tersebut dapat berupa bentrokan berulang, serangan udara berkala terhadap fasilitas nuklir Iran, kendali Iran atas Selat Hormuz, serta keberadaan militer AS yang terus bertahan di Timur Tengah.
Perang mungkin tidak berlangsung setiap hari, tetapi juga tidak pernah benar-benar selesai.
"Saya telah menangani masalah Iran selama hampir 20 tahun. Pilihan kami memang tidak pernah bagus, tetapi saya belum pernah melihat keadaan seburuk ini. Untuk pertama kalinya dalam karier saya, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan," kata Goldenberg.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google

