IHSG Pesta 9 Hari Tanpa Henti, Semua Mata Kini Tertuju ke BI
Memasuki perdagangan hari ketiga pekan ini, pasar keuangan Indonesia ada di zona positif di tengah momentum penguatan IHSG dan rupiah.
Meski tengah di zona positif, pelaku pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.
Mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada siang nanti. Serta juga data dari eksternal yakni tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang.
IHSG Menguat 9 Hari Beruntun
Pergerakan IHSG sedang menunjukkan momentum penguatan yang cukup solid.
Terlihat dari penutupan perdagangan kemarin, dimana IHSG menguat 1,74% hingga tembus di atas level 6.300. Kenaikan ini sekaligus membuat IHSG berhasil menguat dalam sembilan hari perdagangan beruntun.
Terakhir kali IHSG mampu naik sembilan hari beruntun terjadi pada Juli 2025. Saat itu, laju penguatan bahkan berlanjut hingga 11 hari perdagangan beruntun.
Selain menguat sembilan hari beruntun, IHSG juga tercatat melesat dalam 14 dari 15 hari perdagangan terakhir. Sejak awal Juli 2026, IHSG hanya sekali ditutup melemah, yakni pada 8 Juli 2026.
Sejak terakhir melemah pada 8 Juli, IHSG sudah menguat 7,93%. Sementara sepanjang Juli berjalan atau month-to-date (MtD), IHSG telah melesat 12,35%.
Kenaikan IHSG kali ini juga mulai ditemani masuknya dana asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,99 triliun sejak 16 Juli hingga 21 Juli 2026.
Aksi beli asing tersebut terlihat sejak 16 Juli, ketika asing membukukan net buy Rp1,22 triliun. Setelah itu, asing kembali masuk sebesar Rp638,05 miliar pada 17 Juli, Rp96,72 miliar pada 20 Juli, dan Rp31,36 miliar pada 21 Juli.
Nilai transaksi harian juga mulai lebih ramai. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, transaksi IHSG konsisten berada di atas Rp15 triliun per hari.
Setelah sempat mencatatkan nilai transaksi harian terkecilnya di sepanjang 2026 pada perdagangan 10 Juli lalu.
Masuknya dana asing dan naiknya nilai transaksi membuat penguatan IHSG kali ini terlihat lebih sehat dan kita harapkan mampu mempertahankan momentum penguatannya.
Menanti Keputusan Suku Bunga BI
BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur atau RDG BI periode Juli pada siang nanti. RDG tersebut sudah berlangsung sejak Selasa-Rabu (21-22 Juli 2026).
Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan mayoritas responden memperkirakan BI Rate kembali naik.
Sebanyak delapan responden memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin (bps), dari 5,75% menjadi 6,00%. Sementara itu, enam responden lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di level 5,75%.
Jika proyeksi mayoritas tersebut benar terjadi, kenaikan bulan ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026. Sebelumnya, BI sudah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama mengapa mayoritas ekonom memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga.
"BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00% untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah," ujar Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal kepada CNBC Indonesia.
Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C. Permana juga melihat kenaikan bunga masih dibutuhkan. Menurutnya, selain volatilitas rupiah, BI juga perlu mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global lebih lanjut.
"Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih cukup besar, ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini yang makin besar, serta dorongan untuk meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik," ujar Fikri.
Namun, tidak semua ekonom memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan ini.
Sebagian ekonom menilai BI perlu memberi waktu agar kenaikan suku bunga sebesar 100 bps sejak Mei benar-benar bekerja terhadap pasar keuangan dan perekonomian.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai BI memang tetap perlu fokus menjaga rupiah dan stabilitas keuangan di tengah ketegangan geopolitik serta pengetatan moneter global. Namun, tekanan tersebut belum tentu harus langsung direspons dengan kenaikan bunga pada Juli, terlebih bunga kredit mulai meningkat dan aktivitas manufaktur masih melemah.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede juga menilai level BI Rate sebesar 5,75% sudah cukup ketat. Karena itu, keputusan menahan bunga dengan komunikasi yang tegas dinilai lebih tepat selama pergerakan rupiah masih dapat dikendalikan.
"Skenario dasar RDG Juli adalah BI menahan BI Rate di 5,75% dengan pesan kebijakan yang tetap waspada. Kenaikan tambahan hanya diperlukan jika tekanan rupiah dan arus modal memburuk secara nyata," ujar Josua.
Tingkat Pengangguran Inggris
Pasar tenaga kerja Inggris masih terlihat relatif stabil, tetapi sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Tingkat pengangguran Inggris tercatat sebesar 4,9% dalam tiga bulan hingga Mei 2026. Angka tersebut naik 0,2 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun secara kuartalan, tingkat pengangguran justru turun tipis 0,1 poin persentase dari tiga bulan sebelumnya.
Data lain dari HM Revenue and Customs menunjukkan jumlah pekerja yang tercatat dalam payroll perusahaan turun 85.000 orang atau 0,3% pada periode Mei 2025 hingga Mei 2026.
Meski begitu, secara bulanan jumlah payroll relatif stabil. Pada periode April hingga Mei 2026, jumlah pekerja naik tipis 3.000 orang.
Tekanan lebih jelas terlihat dari jumlah lowongan kerja yang terus menurun. Pada kuartal April hingga Juni, jumlah lowongan turun 7.000 menjadi sekitar 712.000, atau melemah 0,9%.
ONS menyebut penurunan lowongan terutama terjadi pada usaha kecil. Pelaku usaha kecil menyebut biaya tenaga kerja dan biaya operasional sebagai alasan untuk tidak menambah pekerja.
RUU PFII Jadi UU, Target Tahun Ini Mulai Beroperasi
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (RUU PFII) menjadi undang-undang.
Pengesahan dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR ke-26 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, Selasa (21/7/2026). Rapat tersebut dihadiri 291 anggota DPR dari seluruh fraksi.
Ketua DPR Puan Maharani selaku pemimpin rapat langsung mengetuk palu setelah seluruh fraksi menyatakan setuju.
"Apakah Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia dapat disetujui untuk disahkan menjadi undang-undang?" tanya Puan dan langsung direspons setuju oleh peserta rapat paripurna.
RUU PFII sebelumnya telah disepakati di tingkat I oleh Komisi XI DPR bersama pemerintah pada Senin (20/7/2026). Penyusunan draf dilakukan Panitia Kerja (Panja) RUU PFII sejak awal Juli 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan PFII bisa mulai beroperasi pada 2026. Namun, pemerintah masih perlu merampungkan aturan turunan, termasuk peraturan pemerintah atau PP.
"Kita lihat nanti kan ada PP-nya segala macam belum disusunkan. Kita harapkan sih, kita coba secepatnya. Kita bisa usahakan tahun ini," ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Purbaya menilai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk menghadirkan pusat keuangan internasional. Menurutnya, kebutuhan terhadap pusat finansial yang kompetitif cenderung meningkat saat kondisi global penuh gejolak.
Meski begitu, pemerintah belum menetapkan lokasi PFII. Keputusan akhir akan ditentukan berdasarkan proposal terbaik yang masuk ke pemerintah.
Defisit APBN Semester I Tembus Rp196,5 Triliun
Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN pada Semester I-2026 mencapai Rp196,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini berasal dari posisi pendapatan negara sebesar Rp1.459 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp1.656,6 triliun.
"Di sisi lain kesehatan fiskal terjaga. Defisit 0,76% dan keseimbangan primer Rp85,1 triliun," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rilis APBN KiTa, Selasa (21/7/2026).
Purbaya menegaskan kondisi fiskal masih berada dalam batas aman dan terkendali. Pemerintah juga masih optimistis defisit APBN tetap terjaga hingga akhir tahun.
Keyakinan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan negara yang masih kuat. Pada Semester I-2026, pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan (yoy).
"Dengan pendapatan tumbuh kuat dan belanja produktif, defisit Rp196,5 triliun," papar Purbaya.
Di saat yang sama, belanja negara akan tetap dioptimalkan untuk mendukung program prioritas pemerintah. Purbaya juga memastikan defisit APBN 2026 akan tetap dijaga di bawah batas 3% terhadap PDB.
Bagi pasar, realisasi defisit ini menjadi penting karena menggambarkan kondisi fiskal Indonesia masih relatif terkendali. Defisit yang tetap rendah dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar SBN, terutama di tengah tekanan suku bunga global dan volatilitas rupiah.
Pemerintah Siap Terbitkan Panda Bond
Pemerintah akan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan China atau panda bond pada Kamis (23/7/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari penerbitan panda bond sebesar US$1 miliar.
"Ini penting sekali karena China pasar yang besar untuk pasar China. Jelas market mereka amat menjanjikan," ujar Purbaya.
Panda bond merupakan obligasi yang diterbitkan entitas asing di pasar domestik China dengan menggunakan mata uang yuan atau renminbi.
Purbaya menilai instrumen ini berpeluang diminati investor China. Salah satu alasannya, lembaga pemeringkat asal China, Lianhe Credit Rating, memberikan peringkat AAA/Stable untuk penerbitan tersebut.
"Di China peringkat utang kita top atas. Rata kanan," tegasnya.
Penerbitan panda bond ini menjadi penting karena membuka sumber pembiayaan baru bagi pemerintah di luar pasar global berbasis dolar AS. Bagi pasar, langkah ini juga menunjukkan upaya pemerintah memperluas basis investor dan memanfaatkan pasar keuangan China yang besar.
Menanti Neraca Perdagangan Jepang
Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Juni 2026 pada Rabu pagi ini. Data ini akan menjadi perhatian pasar Asia, terutama karena berpotensi mempengaruhi pergerakan yen dan indeks saham Jepang.
Konsensus pasar memperkirakan Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar JPY120 miliar pada Juni 2026. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan defisit JPY378,7 miliar pada Mei 2026.
Namun, perkiraan dari Trading Economics justru menunjukkan defisit perdagangan Jepang dapat melebar hingga JPY700 miliar. Perbedaan proyeksi yang cukup besar ini membuka ruang volatilitas pada yen dan pasar saham Jepang.
Pada Mei 2026, ekspor Jepang tumbuh 17% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2022, terutama ditopang kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor.
Impor Jepang juga meningkat 12,5%, sejalan dengan penguatan permintaan domestik setelah stimulus pemerintah pada akhir 2025.
Jika neraca perdagangan Jepang lebih baik dari perkiraan, yen berpeluang mendapat tenaga karena data tersebut menunjukkan sektor eksternal Jepang masih cukup kuat.
Data yang solid juga dapat memperbesar ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) memiliki ruang lebih besar untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Sebaliknya, defisit yang lebih lebar dari perkiraan dapat kembali menekan yen. Kondisi tersebut juga bisa memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan impor, terutama di tengah harga energi global yang masih tinggi.
Perang Masih Panas
Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah pada Selasa setelah kelompok Houthi Yaman mengancam akan menyerang kapal yang mengangkut minyak Saudi. Ancaman itu memicu gangguan baru terhadap jalur pelayaran energi dunia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan memperingatkan akan menyerang kapal yang memuat atau membongkar minyak Saudi. Dampaknya mulai terlihat ketika dua tanker yang berangkat dari Pelabuhan Yanbu menuju China dan India memutar balik menuju Terusan Suez, bukan melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Di saat yang sama, perang terus memanas. Militer AS kembali menggempur target-target Iran, sementara Iran melancarkan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Sebuah kapal tanker juga dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz, memaksa awak kapal dievakuasi.
Penutupan Selat Hormuz membuat Laut Merah menjadi jalur alternatif utama ekspor minyak Saudi. Namun, ancaman Houthi terhadap rute tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak global. Harga minyak Brent pun naik lebih dari 2% dan kembali bertahan di atas US$91 per barel.
(evw/evw) Addsource on Google